Korsel Desak Warganya Tinggalkan Iran di Tengah Potensi Serangan AS

- Kedutaan Besar Korea Selatan di Teheran mendesak warganya segera meninggalkan Iran karena meningkatnya ketegangan dan potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap negara tersebut.
- Peringatan perjalanan ini muncul bersamaan dengan pengerahan besar-besaran aset militer AS ke Timur Tengah, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.
- Presiden Donald Trump memberi tenggat 10–15 hari bagi Iran untuk kembali berunding soal nuklir, sambil mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas jika negosiasi gagal.
Jakarta, IDN Times - Kedutaan Besar Korea Selatan (Korsel) di Teheran menyarankan kepada warganya di Iran untuk meninggalkan negara tersebut, selagi penerbangan yang tersedia masih beroperasi. Langkah ini untuk mengantisipasi keselamatan warga Korsel di negara Timur Tengah itu, di tengah ketegangan yang meningkat dan kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
"Jika situasinya memburuk dengan cepat, penerbangan pribadi menuju dan berangkat dari Iran dapat ditangguhkan," kata kedutaan dalam pemberitahuan keselamatan yang diunggah di situs webnya pada 22 Februari 2026, dilansir The Korea Times pada Senin (23/2/2026).
1. Korsel menyerukan untuk membatalkan atau menunda perjalanan ke Iran
Kedutaan menyarankan warga Korsel yang tinggal di Iran untuk meninggalkan negara itu sesegera mungkin, kecuali jika keberadaan mereka sangat penting. Warga Korsel juga diimbau untuk memantau dengan cermat laporan media dan peringatan kedutaan sambil mengambil tindakan pencegahan ekstra untuk keselamatan pribadi mereka, Korea Herald melaporkan.
Kedutaan juga menyerukan kepada mereka yang berencana bepergian ke Iran untuk membatalkan atau menunda perjalanannya. Saat ini, Korsel memberlakukan peringatan perjalanan Level 3 untuk semua wilayah di Iran, yang merekomendesikan untuk meninggalkan negara tersebut.
2. Peringatan perjalanan ke Iran dikeluarkan saat AS mengerahkan aset militer skala besar ke Timur Tengah

Peringatan serupa juga dikeluarkan oleh Kedutaan Besar India di Teheran. Melalui platform X pada Senin, kedutaan menyarankan warganya untuk meninggalkan Iran dengan segala cara transportasi yang tersedia, termasuk penerbangan komersial. India juga meminta warganya untuk menghubungi kedutaan, jika membutuhkan bantuan dan membagikan nomor kontak darurat.
Peringatan ini muncul seiring dengan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Washington meningkatkan tekanannya dengan mengerahkan aset militer skala besar, termasuk kapal induk bertenaga nuklir. Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan jet tempur tambahan telah tiba di wilayah tersebut. Sementara itu, USS Gerald R. Ford dilaporkan sedang dalam perjalanan, dilansir Anadolu Agency.
Para pengamat mencatat bahwa konsentrasi kekuatan udara AS di wilayah tersebut, yang dilaporkan terbesar sejak invasi Irak pada 2003, menunjukkan serangan yang akan segera terjadi.
3. Trump tekan Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait nuklir

Pekan lalu, Trump menekankan jangka waktu 10-15 hari untuk negosiasi dengan Iran, guna mendapatkan hasil sebelum opsi militer dipertimbangkan. Ia mengulangi ancaman tersebut pada Jumat (20/2/2026), dan mengatakan bahwa ia juga mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran. Langkah ini untuk menekan Teheran agar mencapai kesepakatan nuklir baru yang serius.
Di tengah ketegangan ini, kedua pihak diperkirakan akan mengadakan putaran baru negosiasi nuklir di Jenewa, Swiss, pada 26 Februari 2026.





![[QUIZ] Tes Seberapa Luas Wawasan Kamu Tentang Sejarah Kenabian, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20250330/kusi-kisah-nabi-cover-7d0b3b2b4abad8912775212d324e6661.jpg)











