Kuba Sebut 32 Tentaranya Tewas saat Melindungi Maduro

- Pemerintah Kuba mengklaim para personel tersebut tewas saat memberikan perlawanan sengit terhadap pasukan AS.
- Mereka dilaporkan gugur baik dalam pertempuran jarak dekat maupun akibat serangan udara di fasilitas pertahanan.
- Hubungan antara Kuba dan Venezuela telah terjalin sangat erat selama beberapa dekade terakhir.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kuba mengumumkan bahwa 32 warga negaranya tewas dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela pada Sabtu. Insiden berdarah ini terjadi bersamaan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus AS di Caracas.
Pada Minggu (4/1/2026), Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengonfirmasi para korban adalah anggota angkatan bersenjata dan kementerian dalam negeri yang sedang menjalankan misi resmi. Sebagai bentuk penghormatan, Havana menetapkan dua hari berkabung nasional bagi mereka yang gugur dalam pertempuran tersebut.
1. Kuba sebut personelnya gugur secara heroik

Dilansir Al Jazeera, pemerintah Kuba mengklaim para personel tersebut tewas saat memberikan perlawanan sengit terhadap pasukan AS. Mereka dilaporkan gugur baik dalam pertempuran jarak dekat maupun akibat serangan udara di fasilitas pertahanan.
Media pemerintah Kuba tidak merilis daftar nama atau pangkat spesifik dari 32 korban yang tewas dalam serbuan tersebut. Namun, otoritas menyatakan keberadaan mereka di Venezuela adalah atas permintaan pemerintahan Maduro.
Pemerintah Kuba memuji pengorbanan warganya yang dinilai telah menjalankan tugas kenegaraan dengan heroik. Havana mengutuk serangan AS dan menyebutnya sebagai aksi kriminal dan terorisme negara.
“Rekan-rekan kami memenuhi tugas mereka dengan bermartabat dan heroik lalu gugur setelah perlawanan sengit dalam pertempuran langsung melawan penyerang atau akibat pengeboman,” bunyi pernyataan resmi pemerintah Kuba, dilansir The Straits Times.
2. Trump konfirmasi banyak warga Kuba jadi korban

Presiden AS Donald Trump juga membenarkan adanya korban jiwa dari pihak Kuba dalam operasi penangkapan Maduro. Trump menyatakan operasi itu berjalan sukses tanpa adanya korban jiwa dari pihak AS.
Ia menilai keterlibatan tentara Kuba di Venezuela sebagai kesalahan fatal yang merugikan pihak Havana. Pernyataan ini disampaikan Trump di pesawat kepresidenan Air Force One saat perjalanan kembali ke Washington dari Florida.
“Anda tahu, banyak orang Kuba terbunuh kemarin dan ada banyak korban tewas di pihak lain, tetapi tidak ada korban jiwa di pihak kita,” ujar Trump kepada awak media, dilansir ABC.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan, aparat keamanan internal Maduro memang didominasi oleh agen intelijen dan militer Kuba. Washington menuding keterlibatan personel Kuba ini turut menopang kekuasaan Maduro.
3. Kuba dan Venezuela punya hubungan erat
Hubungan antara Kuba dan Venezuela telah terjalin sangat erat selama beberapa dekade melalui pertukaran sumber daya. Menurut CNN, Venezuela secara rutin mengirimkan pasokan minyak bumi untuk menopang ekonomi Kuba yang rapuh akibat sanksi dan isolasi internasional.
Sebagai imbalan atas minyak tersebut, Havana mengirimkan ribuan dokter, guru, serta penasihat militer dan intelijen ke Caracas. Personel keamanan Kuba diketahui memegang peran penting dalam tim pengaman pribadi Nicolas Maduro dan menjaga stabilitas militer Venezuela.
Laporan The New York Times pada Desember lalu menyebutkan Maduro meningkatkan peran pengawal Kuba karena ketakutan akan pengkhianatan dari pasukannya sendiri. Kehadiran agen kontra intelijen Kuba di dalam tubuh militer Venezuela dimaksudkan untuk mendeteksi dan mencegah upaya penggulingan kekuasaan.
Penangkapan Maduro dan tewasnya puluhan personel militer ini menjadi pukulan telak bagi kelangsungan pemerintahan komunis di Kuba. Trump bahkan memprediksi rezim Kuba kini berada di ambang kejatuhan karena terputusnya aliran dana dan minyak dari sekutu utamanya itu.


















