Kunjungi Korsel, PM Jepang Tingkatkan Hubungan Bilateral

- PM Jepang bertemu Presiden Korsel menjelang akhir masa jabatan
- Keduanya menandatangani nota kesepahaman untuk kerja sama bilateral
- Kunjungan menuai reaksi keras dari sejumlah warga Korsel atas kekejaman kolonial Jepang
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida bertemu dengan Presiden Korea Selatan (Korsel) Yoon Suk Yeol di Seoul dalam kunjungan dua hari. Kishida mengunjungi negara itu menjelang akhir masa jabatannya.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat (6/9/2024), Kishida dan Yoon berkomitmen untuk meningkatkan hubungan bilateral. Kepada wartawan, Kishida mengatakan bahwa pertemuan dengan Yoon tersebut mungkin adalah pertemuan resmi terakhir baginya.
1. Kerja sama evakuasi warga jika terjadi krisis
Kishida dan Yoon menandatangani nota kesepahaman untuk kerja sama bilateral. Mereka menekankan akan memperkuat kerja sama dan pertukaran secara berkelanjutan meski terganjal isu sejarah dan wilayah.
Dilansir Manichi, kedua pemerintahan juga sepakat untuk kerja sama dalam evakuasi warga negara mereka jika terjadi krisis di negara ketiga. Mereka berdua juga membicarakan upaya memperlancar prosedur imigrasi bagi pengunjung antara kedua negara.
Kunjungan Kishida ke Korsel merupakan bagian dari diplomasi timbal balik rutin. Ini merupakan pertemuan ke-12 kedua pemimpin tersebut. Mereka sebelumnya telah setuju untuk melanjutkan hubungan ketika Yoon jadi Presiden Korsel pertama yang mengunjungi Jepang dalam hampir empat tahun.
2. Mempertahankan momentum positif
Jepang merupakan bekas negara yang menjajah Semenanjung Korea. Luka sejarah itu sebagian masih membekas di beberapa kelompok warga Korsel.
Meski begitu, Jepang menekankan masalah kolonisasi telah diselesaikan berdasar perjanjian tahun 1965, yang merupakan normalisasi kedua negara.
Dilansir Yonhap, Yoon mengatakan kedua negara harus mengambil sikap berwawasan ke depan untuk mengatasi isu-isu yang menantang, termasuk isu sejarah.
"Jika kita menggabungkan upaya kita, kita dapat menciptakan titik balik tahun depan, menandai peringatan 60 tahun normalisasi hubungan diplomatik, dan mengangkat hubungan Korea-Jepang ke tingkat yang baru," katanya.
Kunjungan Kishida masih menuai reaksi keras dari sejumlah warga Korsel atas kekejaman kolonial Jepang. Puluhan pengunjuk rasa sempat bentrok dengan polisi di depan patung Laksamana Yi Sun Shin, pahlawan angkatan laut Korea abad ke-16 yang berperan menangkal invasi Jepang.
Massa meneriakkan slogan anti-Jepang dan memegang spanduk yang menggambarkan Yoon sebagai pengkhianat. Polisi menahan dua orang yang mencoba memanjat patung Yi Sun Shin.
3. Meningkatkan koordinasi trilateral dengan AS
Jepang dan Korsel adalah dua sekutu utama AS di Indo-Pasifik. Kerja sama keduanya juga penting bagi AS untuk meningkatkan aliansi regional sebagai respons pengaruh China dan ancaman Pyongyang.
"PM Kishida telah mempertaruhkan modal politik pribadinya untuk memperbaiki hubungan dengan Korel. Bersama Presiden Yoon, Kishida meningkatkan kerja sama diplomatik dan keamanan bilateral serta meningkatkan trilateralisme dengan AS," kata Leif-Eric Easley, profesor studi internasional di Ewha Womans University di Seoul, dikutip Associated Press.
"Pertemuan puncak perpisahan di Seoul ini dimaksudkan untuk memperkuat warisan itu," tambahnya.
Yoon dan Kishida sepakat untuk mempertahankan momentum positif hubungan bilateral. Keduanya berkomitmen memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat (AS) terkait peningkatan ancaman dari Korea Utara (Korut).
"Penting untuk menjaga momentum positif kerja sama bilateral yang telah dibangun oleh PM Kishida dan saya untuk memajukan kerja sama bilateral, serta kerja sama antara Korsel, AS, dan Jepang," ujar Yoon.