Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Marcos Buka Wacana Program Nuklir, Prancis Tawarkan Bantu Filipina
Ilustrasi energi nuklir. (Unsplash.com/Thomas Millot)
  • Prancis siap berbagi keahlian nuklir dengan Filipina, termasuk peluang hibah dan dukungan EDF, setelah Manila kembali mempertimbangkan energi nuklir untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
  • Kerja sama nuklir melengkapi penguatan hubungan strategis Filipina-Prancis pasca-SOVFA, dengan fokus pada kapasitas kelembagaan, sumber daya manusia, keamanan, dan penguatan jaringan listrik.
  • Rencana nuklir Filipina menghadapi warisan PLTN Bataan yang tak pernah beroperasi; pemerintah diminta memprioritaskan keselamatan, tata kelola, transparansi, serta evaluasi biaya dan manfaat dibanding energi terbarukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Prancis menawarkan berbagi keahlian, kemungkinan hibah, dan dukungan EDF untuk pengembangan energi nuklir Filipina, setelah Presiden Ferdinand Marcos Jr. membuka kembali wacana produksi energi nuklir.
  • Who?
    Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., Duta Besar Prancis Marie Fontanel, pemerintah Prancis dan Filipina, serta Electricité de France terlibat dalam pembahasan kerja sama nuklir.
  • Where?
    Kerja sama dibahas antara Prancis dan Filipina; fokus pengembangan program energi nuklir berada di Filipina. Kesepakatan pertahanan kedua negara ditandatangani di Paris.
  • When?
    Diskusi kerja sama nuklir telah berlangsung sejak 2023. Marcos Jr. menyampaikan wacana tersebut dalam pidato kenegaraan pada 27 Juli 2026, sementara pernyataan Fontanel dilaporkan 5 Agustus 2026.
  • Why?
    Filipina mempertimbangkan energi nuklir untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Prancis menawarkan pengalaman terkait keselamatan, regulasi, dan pengelolaan nuklir.
  • How?
    Prancis mengupayakan berbagi pengalaman melalui keahlian teknis, kemungkinan hibah, serta dukungan EDF. Filipina masih menghadapi kebutuhan membangun kepercayaan publik terkait keselamatan, tata kelola, transparansi, dan warisan PLTN Bataan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, ingin memikirkan lagi listrik dari nuklir. Prancis mau membantu Filipina belajar soal nuklir dan cara menjaganya tetap aman. Dulu Filipina punya bangunan nuklir di Bataan, tapi tidak pernah dipakai. Sekarang pemerintah harus membuat orang merasa aman dan percaya dulu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Wacana kerja sama Filipina–Prancis membuka ruang bagi Filipina untuk menilai energi nuklir dengan dukungan pengalaman Prancis mengenai keselamatan, regulasi, pengelolaan limbah, serta penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia. Penekanan pada penjelasan manfaat kepada publik dan transparansi menunjukkan pembahasan ini dapat ditempatkan dalam kerangka kehati-hatian dan ketahanan energi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Prancis menyatakan kesiapan untuk berbagi keahlian di bidang energi nuklir dengan Filipina seiring upaya kedua negara mempererat kerja sama strategis, termasuk di sektor pertahanan. Tawaran tersebut muncul setelah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. kembali membuka wacana menghidupkan program energi nuklir untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Duta Besar Prancis untuk Filipina, Marie Fontanel, mengatakan, Paris telah berdiskusi dengan Manila mengenai kerja sama nuklir sejak 2023. Menurut dia, Prancis juga tengah mengupayakan kemungkinan pemberian hibah serta dukungan dari perusahaan listrik negara Electricité de France (EDF) untuk berbagi pengalaman mengenai keamanan dan pengelolaan energi nuklir.

Pernyataan itu disampaikan beberapa hari setelah Marcos Jr, dalam pidato kenegaraannya pada 27 Juli lalu menyebut sudah saatnya Filipina kembali mempertimbangkan produksi energi nuklir.

“Kami akan memastikan keamanannya. Kami juga akan memastikan manfaat energi nuklir dapat dijelaskan dengan baik kepada masyarakat,” kata Marcos Jr dikutip dari South China Morning Post, Rabu (5/8/2026).

1. Prancis siap berbagi keahlian

ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/Rafael Garcin)

Fontanel mengatakan, pengalaman Prancis menunjukkan pengembangan energi nuklir memerlukan sistem ilmiah dan regulasi yang kuat, mulai dari standar keselamatan hingga pengelolaan limbah radioaktif.

Prancis saat ini merupakan produsen sekaligus pengekspor listrik berbasis nuklir terbesar di Eropa. Sekitar 70 persen pasokan listrik negara tersebut berasal dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Analis dari Institut Montaigne, Joseph Dellatte, menilai kerja sama tersebut bukan sekadar menawarkan teknologi, melainkan membantu Filipina membangun kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia untuk menentukan apakah energi nuklir sesuai dengan strategi energi jangka panjang negara itu.

Menurut dia, opsi energi nuklir juga dapat membantu Filipina mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor sekaligus meningkatkan ketahanan energi dalam jangka panjang.

2. Kerja sama perkuat hubungan strategis

ilustrasi bendera Filipina (pexels.com/Kimy Moto)

Tawaran kerja sama nuklir datang setelah Filipina dan Prancis menandatangani Status of Visiting Forces Agreement (SOVFA) pada Maret lalu di Paris. Kesepakatan tersebut memungkinkan kedua negara mengerahkan personel militer di wilayah masing-masing sebagai bagian dari peningkatan kerja sama pertahanan.

Presiden International Development and Security Cooperation yang berbasis di Manila, Chester Cabalza, menilai kombinasi kerja sama pertahanan dan energi mencerminkan semakin eratnya hubungan strategis kedua negara.

Dia mengatakan, keahlian Prancis dalam pembangkitan listrik berbasis nuklir dapat membantu Filipina memperkuat jaringan listrik sekaligus menjadi penyangga bagi ketahanan energi nasional di masa depan.

3. Warisan PLTN Bataan jadi tantangan

ilustrasi PLTN (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Meski demikian, rencana pengembangan energi nuklir di Filipina masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait warisan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bataan yang dibangun pada era Presiden Ferdinand Marcos Sr.

Fasilitas tersebut selesai dibangun pada 1984, tapi tidak pernah dioperasikan akibat tuduhan korupsi, kekhawatiran terhadap aktivitas seismik, serta meningkatnya kekhawatiran publik setelah bencana nuklir Chernobyl.

Peneliti energi dan keberlanjutan Filipina, Jonas Marie Dumdum, mengatakan, pemerintah perlu membangun kembali kepercayaan publik sebelum mendorong proyek nuklir baru.

“Filipina masih mengingat pelajaran dari PLTN Bataan. Pemerintah perlu memastikan aspek keselamatan, tata kelola, dan transparansi benar-benar menjadi prioritas,” ujar dia.

Menurut Dumdum, Manila juga perlu mempertimbangkan biaya dan manfaat energi nuklir dibandingkan dengan pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, termasuk dampaknya terhadap keamanan energi jangka panjang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article