Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Delta Force, Pasukan Elite Rahasia AS yang Tangkap Maduro

tentara AS termasuk Delta Force mengepung kediaman putra Saddam Hussein, Uday dan Qusay, di Mosul, Irak.
tentara AS termasuk Delta Force mengepung kediaman putra Saddam Hussein, Uday dan Qusay, di Mosul, Irak. (SPC Robert Woodward, USA, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Delta Force didirikan pada 1977 oleh Kolonel Charles Beckwith setelah kegagalan tragis dalam Operation Eagle Claw di Iran.
  • Terdiri dari sekitar 2 ribu personel yang terbagi dalam beberapa skuadron untuk operasi penyerbuan, penerbangan, dan pengintaian canggih.
  • Anggota Delta Force melalui seleksi yang sangat ketat, termasuk ujian fisik "The Long Walk" dan wawancara psikologis intensif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nama Delta Force kembali menjadi perbincangan hangat setelah sukses menjalankan misi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Pasukan elite Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) ini menjadi eksekutor saat Amerika serang Venezuela dalam operasi senyap bertajuk "Operation Absolute Resolve".

Unit ini dikenal sangat rahasia dan tergolong dalam pasukan "Tier 1" yang menangani misi paling berbahaya, kompleks, dan sensitif secara politik. Keberhasilan di Caracas telah menambah daftar panjang rekam jejak Delta Force. Namun, siapakah sebenarnya pasukan hantu yang jarang terekspos publik ini?

1. Delta Force didirikan pada 1977

ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)
ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

Delta Force, atau secara resmi bernama 1st Special Forces Operational Detachment-Delta (1st SFOD-D), didirikan pada 1977 oleh Kolonel Charles Beckwith. Beckwith, seorang veteran Perang Vietnam, merancang unit ini setelah bertugas sebagai perwira pertukaran di Special Air Service (SAS) Inggris dan melihat kebutuhan AS akan satuan antiteror khusus yang mampu bergerak cepat.

Awal perjalanan unit ini tidak berjalan mulus karena misi besar pertamanya, Operation Eagle Claw pada 1980 untuk membebaskan sandera AS di Iran, berakhir dengan kegagalan tragis. Masalah mekanis pada helikopter dan tabrakan di lokasi pendaratan gurun menyebabkan tewasnya delapan personel serta pembatalan misi.

Kegagalan tersebut menjadi titik balik reformasi besar-besaran dalam komando operasi khusus AS, memicu pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan (JSOC) dan unit penerbangan khusus ke-160 atau "Night Stalkers". Evaluasi pahit dari Iran justru menempa Delta Force menjadi unit yang jauh lebih matang, adaptif, dan mematikan dalam operasi-operasi selanjutnya.

Sejak saat itu, Delta Force terus berevolusi menjadi kekuatan utama AS dalam perang melawan terorisme dan misi penyelamatan sandera di seluruh dunia. Markas mereka di Fort Bragg, North Carolina, menjadi pusat perencanaan operasi-operasi rahasia yang sering kali tidak pernah diakui keberadaannya oleh pemerintah.

2. Terdiri dari sekitar 2 ribu personel

pasukan Delta Force saat operasi penangkapan Abu Sayyaf di Suriah pada 2015
pasukan Delta Force saat operasi penangkapan Abu Sayyaf di Suriah pada 2015 (Petty Officer 1st Class Elisandro T. Diaz, Public domain, via Wikimedia Commons)

Delta Force beroperasi di bawah kendali operasional JSOC tapi administrasi hariannya diurus oleh Komando Operasi Khusus Angkatan Darat AS (USASOC). Unit ini diperkirakan memiliki sekitar 2 ribu personel, dengan hanya sekitar 300 hingga 400 orang yang merupakan operator atau personel tempur sesungguhnya.

Organisasi ini dibagi menjadi beberapa skuadron untuk efisiensi, yaitu Skuadron A, B, C, dan D yang berfungsi sebagai skuadron penyerbu. Selain itu, terdapat Skuadron E yang fokus pada penerbangan dan Skuadron G yang menangani operasi klandestin dan pengintaian canggih.

Setiap skuadron penyerbu dibagi lagi menjadi tiga pasukan atau troops, di mana dua pasukan berspesialisasi dalam aksi langsung (penyerbuan) dan satu pasukan fokus pada pengintaian serta penembak jitu. Struktur ini memungkinkan Delta Force untuk beroperasi secara mandiri atau dalam tim kecil yang sangat fleksibel tergantung pada kompleksitas target.

Operator Delta Force sering disebut dengan berbagai nama samaran seperti Combat Applications Group (CAG), Army Compartmented Elements (ACE), atau sekadar "The Unit". Mereka dikenal sebagai profesional senyap yang dilarang keras membicarakan aktivitas mereka, bahkan keberadaan unit ini pun jarang dikonfirmasi secara resmi oleh Pentagon.

3. Anggota Delta Force melalui seleksi yang sangat ketat

personel Delta Force mengawal Jenderal Norman Schwarzkopf saat Perang Teluk Persia 1991
personel Delta Force mengawal Jenderal Norman Schwarzkopf saat Perang Teluk Persia 1991 (Staff Sergeant Dean W. Wagner, Public domain, via Wikimedia Commons)

Menurut Britannica, proses masuk ke Delta Force terkenal sangat sulit, di mana mayoritas kandidat berasal dari unit elite lain seperti Army Rangers dan Green Berets. Calon operator harus sudah berpangkat minimal Kopral atau Spesialis, berusia minimal 21 tahun, dan memiliki sisa masa dinas setidaknya 2,5 tahun.

Tahap seleksi fisik melibatkan serangkaian tes navigasi darat yang melelahkan dan mencapai puncaknya pada ujian "The Long Walk". Ujian ini mengharuskan kandidat berjalan sejauh 64 kilometer sambil membawa beban ransel seberat 20 kilogram dalam batas waktu yang dirahasiakan.

Selain ketahanan fisik, aspek psikologis menjadi saringan utama melalui wawancara intensif untuk memastikan stabilitas emosi kandidat dalam situasi ekstrem. Tingkat kegagalan dalam proses seleksi ini sangat tinggi, dengan estimasi 9 dari 10 kandidat tidak berhasil lolos menjadi anggota unit.

Mereka yang lolos akan menjalani Kursus Pelatihan Operator (OTC) selama enam bulan yang mencakup berbagai keterampilan mematikan dan intelijen. Materi pelatihan tidak hanya soal menembak presisi dan penghancuran, tetapi juga teknik spionase atau tradecraft layaknya agen CIA, termasuk membongkar kunci, menyetir taktis, dan operasi penyamaran.

4. Berhasil menangkap Saddam Hussein dan Manuel Noriega

mantan Presiden Irak Saddam Hussein
mantan Presiden Irak Saddam Hussein (SSGT D. MYLES CULLEN, USAF, Public domain, via Wikimedia Commons)

Dilansir Business Insider, unit ini memiliki sejarah panjang dalam mengeksekusi target bernilai tinggi, termasuk perburuan pemimpin Irak Saddam Hussein pada 2003. Delta Force juga menjadi ujung tombak dalam operasi penyerbuan yang menewaskan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi di Suriah pada 2019.

Salah satu pertempuran paling ikonik yang melibatkan unit ini adalah Pertempuran Mogadishu di Somalia pada 1993, yang kemudian difilmkan dalam Black Hawk Down. Insiden tersebut mengakibatkan gugurnya beberapa operator Delta saat mencoba menyelamatkan kru helikopter yang jatuh, di mana dua personelnya menerima Medal of Honor secara anumerta.

Delta Force juga terlibat dalam operasi invasi Panama tahun 1989 yang berujung pada penangkapan diktator Manuel Noriega. Misi bernama Operation Acid Gambit tersebut sukses menyelamatkan sandera warga AS dari penjara Modelo yang dijaga ketat.

Selain aksi langsung, unit ini juga aktif dalam operasi kontraterorisme global pasca serangan 9/11, memburu pimpinan Al-Qaeda dan Taliban di Afghanistan. Kemampuan mereka untuk beradaptasi dari gurun Irak hingga pegunungan Afghanistan menjadikan Delta Force sebagai aset militer paling serbaguna dan mematikan milik Amerika Serikat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Gakkum Kehutanan Tangkap DPO Pelaku Tambang Ilegal di Bukit Soeharto

08 Jan 2026, 18:57 WIBNews