Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menteri Ekraf Puji ‘Pelangi di Mars’, Terobosan Baru Film Indonesia
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya usai nobar film ‘Pelangi di Mars’. (IDN Times/Marcheilla)
  • Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya memuji film ‘Pelangi di Mars’ karena berani menggabungkan genre fiksi ilmiah dan isu lingkungan yang masih jarang diangkat dalam perfilman Indonesia.
  • Film ini menggunakan teknologi extended reality (XR) berbasis Unreal Engine untuk menciptakan pengalaman menonton imersif, menandai langkah inovatif dalam produksi film nasional.
  • Produksi ‘Pelangi di Mars’ melibatkan ratusan animator dan kru selama lima tahun, mencerminkan kapasitas besar industri film Indonesia yang kini menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengapresiasi film karya anak bangsa, “Pelangi di Mars”. Ia menilai, film ini menghadirkan pendekatan baru dalam industri perfilman nasional.

Menurutnya, film ini tidak hanya menawarkan cerita berbeda, tetapi juga menggabungkan teknologi dan tema yang masih jarang diangkat di Indonesia.

Dalam acara Intimate Screening bersama Kabinet Merah Putih di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Riefky menyoroti pentingnya keberanian sineas lokal dalam mengeksplorasi genre yang belum populer. Ia menilai langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong perkembangan industri kreatif tanah air.

Menurut Riefky, film ini menunjukkan industri film Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih inovatif, baik dari sisi cerita maupun teknologi produksi. Ia juga melihat adanya potensi besar untuk menarik minat penonton dengan pendekatan yang lebih segar.

“Satu hal penting, science fiction itu juga genre-nya jarang diangkat orang. Isu lingkungan juga jarang diangkat orang,” kata Riefky dalam sambutannya, Kamis (2/4/2026).

Ia menambahkan, kombinasi genre fiksi ilmiah dan isu lingkungan menjadi nilai lebih yang membuat film ini berbeda dari kebanyakan produksi film nasional.

1. Film Indonesia jarang angkat genre science fiction

Pelangi di Mars (instagram.com/pelangidimars)

Riefky menilai keberanian mengangkat genre science fiction menjadi salah satu kekuatan utama film “Pelangi di Mars”. Genre ini selama ini belum banyak digarap oleh sineas Indonesia, sehingga kehadirannya menjadi sesuatu yang baru di industri.

Selain itu, film ini juga mengangkat isu lingkungan sebagai tema utama. Menurutnya, topik tersebut masih jarang menjadi fokus dalam film nasional, padahal memiliki relevansi besar dengan kondisi global saat ini.

Ia melihat kombinasi dua elemen tersebut sebagai langkah strategis dalam memperluas spektrum cerita yang ditawarkan industri film Indonesia. Pendekatan ini juga dinilai mampu membuka peluang baru bagi sineas untuk bereksperimen dengan berbagai ide.

Riefky menegaskan, keberanian semacam ini perlu terus didorong agar industri film nasional tidak stagnan dan mampu bersaing di tingkat global.

2. Inovasi teknologi XR dalam produksi film

Para Wakil Menteri Kabinet Merah Putih nobar film ‘Pelangi di Mars’. (IDN Times/Marcheilla)

Selain dari sisi cerita, Riefky juga menyoroti penggunaan teknologi extended reality (XR) dalam film ini. Teknologi tersebut berbasis Unreal Engine, yang selama ini lebih dikenal dalam pengembangan gim.

Menurutnya, penerapan teknologi ini dalam produksi film menjadi langkah inovatif yang patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih imersif bagi penonton.

Ia menjelaskan, teknologi XR memungkinkan penonton merasakan suasana seolah berada langsung di dalam cerita. “Teknologi tersebut memungkinkan penonton merasakan pengalaman seolah berada di dalam cerita, termasuk saat berada di pesawat maupun di planet Mars,” ujarnya.

Inovasi ini dinilai sebagai bagian dari transformasi industri film Indonesia yang mulai memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas produksi.

3. Industri Film Indonesia tunjukkan tren positif

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya usai nobar film ‘Pelangi di Mars’. (IDN Times/Marcheilla)

Riefky juga menyoroti skala produksi film Pelangi di Mars melibatkan sumber daya manusia dalam jumlah besar. Film ini melibatkan sekitar 300 animator dan 500 kru yang bekerja selama lima tahun.

Menurutnya, ini menunjukkan industri film nasional memiliki kapasitas untuk mengerjakan proyek besar dengan tingkat kompleksitas tinggi. Keterlibatan banyak tenaga kerja juga menjadi indikator pertumbuhan sektor ini.

Ia turut mengungkapkan industri film Indonesia saat ini menunjukkan tren positif. Pada 2025, sekitar 130 juta tiket bioskop terjual, dengan 60 persen di antaranya merupakan film nasional.

“Antusiasme penonton ada, demand-nya ada, supply-nya juga ada, tetapi perlu dukungan kita semua,” kata Riefky.

Ia menambahkan pemerintah akan terus mendorong industri ini melalui berbagai dukungan, termasuk akses pasar dan pembiayaan. “Mari mendukung film nasional tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga untuk mendunia,” tambahnya.

Editorial Team