Prabowo Ingatkan SPPG Tak Kurangi Porsi MBG: Dosa Loh!

- Presiden Prabowo menegaskan mitra SPPG tidak boleh mengurangi porsi lauk dalam program Makan Bergizi Gratis, terutama ukuran potongan ayam yang maksimal 14 bagian per ekor.
- Prabowo meminta Mendikdasmen, kepala sekolah, guru, dan siswa ikut mengawasi serta melaporkan jika menemukan lauk dengan ukuran kecil agar kualitas gizi anak tetap terjaga.
- Ia juga menekankan penyajian telur harus utuh dalam bentuk ceplok atau rebus, melarang penggunaan telur dadar atau orak-arik yang bisa dicampur bahan lain.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengingatkan para mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tidak mengurangi porsi lauk.
Dalam acara Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition, Rabu (3/6/2026), Prabowo memanggil 10 mitra SPPG yang hadir untuk menanyakan terkait ketentuan menetapkan porsi lauk MBG.
Salah satu yang dia soroti adalah pemotongan ayam untuk satu porsi. Di panggung, Prabowo juga memamerkan dua piring berisikan ayam goreng, dengan ukuran potongan delapan, dan 14. Menurut dia, ayam yang dipotong sebanyak 14 bagian cukup untuk porsi MBG.
Oleh sebab itu, dia mengingatkan para mitra SPPG untuk tidak menyajikan ayam dengan ukuran kecil atau yang dipotong menjadi lebih dari 14 bagian per ekor ayam.
"Kalau potong lebih dari 14 dosa! Dosa! Berapa juta anak-anak Indonesia akan kecewa? Betul? Bener ya?" kata Prabowo.
Para mitra SPPG yang naik ke atas panggung mengaku tidak pernah memotong ayam terlalu kecil. Bahkan, mereka mengaku menyajikan ayam yang dipotong hanya 10-12 bagian per ekor.
Dia pun meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), kepala sekolah, guru, dan siswa untuk melapor jika menerima lauk dengan ukuran kecil.
"Nanti saya minta ya Menteri Pendidikan, Mendikdasmen, minta kepala-kepala sekolah, guru-guru, anak-anaknya suruh lapor: ayamnya kecil atau besar. Kalau perlu, secara random difoto dan ditimbang. Ya? Oke?" ucap Prabowo, disambut tepukan tangan audiens.
Dia juga menyinggung penyajian telur di setiap porsi MBG. Dia mengingatkan saat menyajikan lauk telur, setiap porsi mendapatkan satu butir telur yang dimasak dengan metode mata sapi atau rebus.
Oleh sebab itu, dia melarang penyajian telur dalam bentuk dadar, karena dapat dicampur dengan bahan lain.
"Kalau telur dadar, saya sudah lama jadi orang Indonesia, nanti dicampur macam-macam itu. Iya kan? Tepungnya lebih banyak daripada telurnya. Jadi, telur harus utuh, ceplok atau rebus. Betul ya?" ujar Prabowo.
Dia juga menegaskan tidak boleh menyajikan telur dengan model orak-arik.
"Mendikdasmen, kepala sekolah, guru, yakinkan tidak ada lagi telur dadar atau apa itu orak-arik, iya. Harus diceplok dan bulat dan dikupas juga itu kulitnya. Oke? Sanggup? Awas lho! Aku, nanti aku doakan kualat kalau kalian... Oke?" kata Prabowo.

















