Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Netanyahu: Israel Belum Setujui Proposal BOP Tarik Pasukan di Gaza
potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Netanyahu menyatakan Israel belum menyetujui proposal perdamaian Gaza dukungan AS, meski ada jaminan penarikan pasukan dilakukan setelah Hamas melucuti senjata dan Gaza didemiliterisasi.
  • Netanyahu menghadapi tekanan mitra koalisi sayap kanan untuk menggelar pemungutan suara ulang, sementara pengamat menilai isolasi diplomatik membuat Israel sulit menolak rencana Washington.
  • Di tengah pembahasan proposal, militer Israel membatasi serangan di Gaza: setiap serangan kini memerlukan persetujuan Kepala Staf, kecuali ancaman langsung terhadap pasukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, pemerintahnya belum menyetujui proposal perdamaian Gaza yang didukung Amerika Serikat (AS), meski telah menerima jaminan penarikan pasukan Israel baru dilakukan setelah Hamas melucuti seluruh persenjataannya.

Dalam video yang diunggah di media sosial, Netanyahu mengatakan, tim Presiden AS Donald Trump meyakini Hamas dapat dilucuti dan Gaza didemiliterisasi melalui proposal tersebut. Namun, menurutnya, Israel masih mengkaji isi rancangan itu.

“Kami sedang memeriksanya. Mereka mengirimkan kepada kami sebuah rancangan. Kami tidak menyetujuinya, itu bukan rancangan kami. Kami telah menyampaikan komentar kami,” kata Netanyahu, dikutip dari AFP, Kamis (6/8/2026).

1. Tekanan dari koalisi sayap kanan

potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/Hudson Institute via commons.wikimedia.org/Hudson Institute)

Pernyataan Netanyahu muncul setelah ia bertemu dengan Board of Peace yang didukung AS sehari sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Israel memperoleh jaminan bahwa tentaranya hanya akan ditarik dari posisi saat ini di Gaza setelah Hamas menyelesaikan proses pelucutan senjata.

Meski demikian, Netanyahu menghadapi tekanan dari mitra koalisi sayap kanan yang mendesaknya menolak proposal tersebut.

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Permukiman Orit Strook meminta digelar pemungutan suara ulang terhadap rencana itu. Keduanya menilai isi proposal yang beredar tidak sesuai dengan pembahasan awal di kabinet keamanan.

Media Israel melaporkan rapat kabinet keamanan yang semula dijadwalkan berlangsung pada Senin ditunda hingga Kamis, di tengah pelaksanaan pemilihan pendahuluan Partai Likud menjelang pemilu pada 27 Oktober mendatang.

2. Pengamat: Israel sulit menolak tekanan AS

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri), sedang melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., pada Selasa (28/7/2026). (x.com/WhiteHouse)

Peneliti lembaga kajian Molad, Tal Elovits menilai tuntutan pemungutan suara ulang lebih merupakan langkah politik untuk meningkatkan tekanan terhadap Netanyahu.

Menurutnya, kelompok kanan di Israel sejak lama berupaya menghindari skenario yang menjadikan konflik Gaza berada di bawah pengawasan internasional.

“Netanyahu tidak memiliki pilihan lain selain mendengarkan satu-satunya sahabat yang masih dimilikinya di komunitas diplomatik,” ujar Elovits, merujuk pada Presiden AS Donald Trump.

Ia menambahkan, Israel saat ini berada dalam posisi diplomatik yang semakin terisolasi sehingga kecil kemungkinan dapat membatalkan rencana yang disponsori Washington.

3. Serangan Israel mulai dibatasi

ilustrasi kondisi Gaza (unsplash.com/Emad El Byed)

Di tengah pembahasan proposal perdamaian, laporan media Israel menyebut militer kini menerapkan prosedur baru terkait serangan di Gaza.

Harian Haaretz melaporkan, setiap serangan kini harus mendapat persetujuan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, kecuali dalam situasi yang mengancam keselamatan pasukan secara langsung. Kebijakan tersebut disebut berbeda dari aturan sebelumnya yang hanya memerlukan persetujuan komandan wilayah.

Sebelumnya, Board of Peace memastikan penarikan pasukan Israel dari Gaza hanya akan dimulai setelah Hamas menyelesaikan proses pelucutan senjata, sebagai bagian dari roadmap perdamaian yang didukung Amerika Serikat. Namun hingga kini, pemerintah Israel menegaskan proposal tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum disetujui secara resmi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article