Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Partai Kristen Lebanon Sebut Aliansi dengan Hizbullah Terancam

Partai Kristen Lebanon Sebut Aliansi dengan Hizbullah Terancam
Bendera Hizbullah Lebanon (twitter.com/Jewish Community)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Ketua partai Free Patriotic Movement Lebanon (FPM), Gebran Bassil, mengatakan pada Minggu (2/1/2022) bahwa aliansinya dengan Hizbullah selama 15 tahun terakhir akan terhenti. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi dan menandakan frustrasi politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hizbullah telah beraliansi dengan partai kristen terbesar Lebanon tersebut sejak tahun 2006 demi membantu menjaga perdamaian negara itu dari bahaya. Komentar Bassil juga muncul di tengah krisis ekonomi yang memorak-porandakan Lebanon menjelang pemilihan parlemen dimana partainya mengharapkan persaingan yang ketat.

1. FPM berpotensi kehilangan dukungan dalam pemilihan

Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Arief Rahmat)

Melansir AP, menghentikan aliansi dengan Hizbullah akan membuat Bassil kehilangan dukungan dalam pemilihan yang rencananya diselenggarakan pada Mei mendatang. Sementara itu, Bassil memandang bahwa aliansi tersebut justru mengorbankan kredibilitasnya di mata para pendukungnya.

Bassil yang merupakan seorang mantan menteri luar negeri sekaligus menantu presiden Lebanon Michel Aoun, telah memposisikan dirinya sebagai seorang reformis dan diyakini memiliki ambisi untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Bassil juga menekankan rasa frustrasinya pada sekutu Hizbullah lainnya yaitu AMAL yang dipimpin oleh ketua parlemen, Nabih Berri. Dia mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir Hizbullah telah mendukung AMAL dengan mengorbankan aliansi mereka sendiri.

“Kami mencapai kesepahaman dengan Hizbullah (tahun 2006) bukan dengan AMAL. Ketika kami menemukan bahwa yang membuat keputusan dalam (aliansi ini) adalah AMAL, itu adalah hak kami untuk mempertimbangkan Kembali,” kata Bassil dalam pidatonya.

2. Persaingan FPM dengan faksi lainnya

Gebran Bassil, ketua partai FPM Lebanon (twitter.com/Suat Kılıçtaş)
Gebran Bassil, ketua partai FPM Lebanon (twitter.com/Suat Kılıçtaş)

Berri adalah saingan lama Bassil yang menuduhnya menggunakan kekuasaan di parlemen untuk memblokir beberapa rancangan undang-undangnya.

Melansir Arab News, Bassil juga mengklaim bahwa partainya adalah satu-satunya pihak yang menentang proyek Barat seperti “deal of the century” yang merupakan rencana perdamaian di Timur Tengah dan dicetuskan oleh mantan presiden AS Donald Trump.

Baru-baru ini, Hizbullah dan AMAL secara luas mengkritik penyelidikan ledakan pelabuhan Beirut yang terjadi tahun lalu. Mereka menuduh keputusan hakim bias terhadap sekutu mereka dimana posisinya itu bertentangan dengan partai Bassil.

Hizbullah telah meminta hakim untuk dicopot yang menyebabkan kelumpuhan dalam pemerintahan. Bentrokan pada bulan Oktober yang melibatkan pendukung AMAL dan Hizbullah melawan orang-orang bersenjata Kristen dipicu oleh perselisihan investigasi dan hubungan yang semakin tegang dengan partai Bassil yang menuduh AMAL melakukan kekerasan.

Bassil mengkritik Hizbullah karena tidak mendukung partainya pada undang-undang reformasi yang katanya bertujuan untuk memberantas korupsi dan memastikan kebijakan keuangan yang terdesentralisasi, atau dalam upaya untuk melindungi kekuasaan konstitusional presiden. Dia juga menyalahkan Berri atas keretakan hubungan tersebut.

“Dapat dimengerti mengapa Amerika ingin menyudutkan Hizbullah, tetapi tidak dapat dimengerti mengapa (Hizbullah) ingin menyudutkan diri mereka sendiri,” kata Bassil tentang aliansi Hizbullah dengan Berri.

3. Sanksi AS kepada Hizbullah dan FPM diduga untuk memecah hubungan keduanya

Ilustrasi sanksi (uscgpi.com)
Ilustrasi sanksi (uscgpi.com)

Hizbullah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat (AS), sementara Bassil telah ditempatkan pada daftar sanksi AS karena tindak korupsi. Dia mengklaim sanksi itu untuk menekannya untuk membatalkan aliansinya dengan Hizbullah.

“Kami tidak ingin membatalkan atau mengobrak-abrik nota kesepahaman (2006). Tapi kami ingin itu berkembang karena tidak lagi menjawab tantangan, terutama ekonomi dan keuangan, yang kami hadapi,” kata Bassil. 

Para pendukung memuji aliansi itu sebagai langkah menuju Lebanon yang lebih demokratis yang melampaui persaingan tradisional antara Kristen dan Syiah. Bagi Hizbullah, aliansi dengan kelompok-kelompok Kristen, yang secara tradisional memihak Barat, memberikan perlindungan setelah perang 2006 dengan Israel.

“Tentu saja, kami lebih kuat secara elektoral jika bersekutu dengan Hizbullah. Tetapi antara memenangkan pemilihan dan mendapatkan diri kita sendiri, kita memilih diri kita sendiri, kredibilitas kita dan martabat kita,” tutur Bassil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zidan Patrio
EditorZidan Patrio

Related Articles

See More

Dari Nostalgia ke Kota Global, Ini Rencana Besar Pemprov DKI untuk Kota Tua

11 Jun 2026, 09:00 WIBNews