Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pentagon Sepakati Pembelian 850 Jet Tempur F-35 Selama 10 Tahun
jet F-35 Lightning II milik AS (MSgt John Nimmo Sr., Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Pentagon dan Lockheed Martin menyepakati kerangka 10 tahun untuk sedikitnya 850 F-35, mencakup produksi Lot 21–30, suku cadang, modifikasi, serta pemeliharaan armada global.
  • Kesepakatan masih menunggu otorisasi pengadaan multi-tahun dan anggaran Kongres; Lockheed menargetkan 156 pesawat per tahun serta mendanai sendiri sedikitnya 7 miliar dolar AS.
  • Program F-35 menghadapi lonjakan biaya, kendala TR-3, kelangkaan suku cadang, dan perlambatan pengiriman, meski pesawat ini tetap dibutuhkan saat F-15 serta F-16 dipensiunkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dan produsen alutsista Lockheed Martin menyepakati kerangka kerja 10 tahun untuk pengadaan sedikitnya 850 jet tempur siluman F-35 Lightning II pada Kamis (22/10/2026). Kesepakatan ini menjadi komitmen pengadaan terbesar sepanjang 25 tahun sejarah program pesawat tersebut dan menegaskan posisi F-35 sebagai tulang punggung kekuatan udara militer AS.

Kedua pihak belum mengungkap total nilai kesepakatan jangka panjang ini, namun harga satu unit F-35 diperkirakan mencapai 100 juta dolar AS (Rp1,8 triliun). Kesepakatan tersebut belum berstatus kontrak produksi final karena masih membutuhkan otorisasi pengadaan multi-tahun dan persetujuan anggaran puluhan miliar dolar AS dari Kongres.

1. Cakupan kesepakatan Pentagon dan Lockheed Martin

F-35 Lightning II milik AS (U.S. Air Force photo by Senior Airman Adriana Jordan Alcaniz, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kerangka kerja ini mencakup produksi jet tempur Lot 21 hingga Lot 30, penyediaan suku cadang awal, paket modifikasi, dan pemeliharaan armada global selama satu dekade. Ratusan pesanan tambahan untuk pelanggan internasional juga masuk dalam skema kesepakatan tersebut.

Lockheed Martin menargetkan total produksi tetap stabil di angka 156 pesawat per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor. Dari jumlah tersebut, militer AS akan menerima rata-rata 85 unit pesawat setiap tahunnya.

Sebagai timbal balik atas komitmen jangka panjang Pentagon, Lockheed Martin sepakat mendanai mandiri sedikitnya 7 miliar dolar AS (Rp126 triliun) untuk mendukung program F-35. CEO Lockheed Martin, Jim Taiclet, mengatakan kepastian kontrak dari pemerintah membantu perusahaan merencanakan investasi awal guna memperluas kapasitas pabrik, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat ketahanan rantai pasok.

"Hal itu baik bagi pembayar pajak, baik bagi pemasok kami, dan yang terpenting baik bagi Amerika Serikat serta para sekutunya," ujar Taiclet, dilansir France 24.

2. Upaya Pentagon menstabilkan industri pertahanan AS

pesawat tempur AS (U.S. Navy photo by Photographer's Mate 3rd Class Todd Frantom., Public domain, via Wikimedia Commons)

Kesepakatan F-35 ini merupakan bagian dari strategi luas Pentagon untuk memberi kepastian pesanan bagi produsen senjata dan mempercepat kapasitas produksi masa perang. Sebelumnya, kontrak F-35 hanya disepakati dalam blok jangka pendek berdurasi tiga tahun. Kontrak produksi terakhir yang diteken pada September 2025 mencakup 296 unit pesawat untuk Lot 18 dan Lot 19 senilai 24,3 miliar dolar AS (Rp439 triliun).

Wakil Menteri Pertahanan AS Urusan Akuisisi, Michael Duffey, menyebut skema multi-tahun ini dirancang untuk menyelaraskan insentif finansial dengan kinerja aktual produsen. Langkah ini juga mengikuti kontrak serupa yang disetujui pada Juli 2026, termasuk pengadaan pencegat rudal PAC-3 MSE selama tujuh tahun senilai 58,62 miliar dolar AS (Rp1 kuadriliun).

"Kami telah mengubah cara menstabilkan basis industri pertahanan Amerika guna memproduksi dengan cepat dan berskala besar. Kesepakatan dengan Lockheed Martin ini membuktikannya," kata Duffey, dilansir The Straits Times.

Setelah Kongres mengesahkan anggaran dalam Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) 2027, Kantor Program Gabungan F-35 dan Lockheed Martin akan segera menegosiasikan harga pasti serta jadwal pengiriman. Kepastian ini mempermudah ratusan pemasok membeli bahan baku dalam jumlah besar dan menekan biaya produksi lewat diskon volume industri. Lockheed Martin memperkirakan program F-35 akan menopang lebih dari 315 ribu lapangan kerja dan menghasilkan aktivitas ekonomi hampir 80 miliar dolar AS (Rp1,4 kuadriliun) per tahun selama satu dekade ke depan.

3. Program F-35 dibayangi lonjakan biaya dan kendala pengiriman

jet tempur F-35 milik Israel. (William Lewis, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kesepakatan baru ini hadir saat program F-35 menghadapi masalah kesiapan tempur dan keterlambatan pembaruan perangkat lunak dan perangkat keras Technology Refresh 3 (TR-3). Laporan Angkatan Udara AS juga menyoroti masih adanya celah sistem tempur yang signifikan dan kelangkaan suku cadang pada armada tersebut.

Biaya program senjata termahal di dunia ini telah melonjak sekitar 51 miliar dolar AS (Rp922 triliun) sejak akhir 2023 akibat kendala pembaruan perangkat lunak dan peningkatan daya mesin. Total biaya siklus hidup seluruh armada F-35 bahkan diproyeksikan menembus angka 2 triliun dolar AS (Rp36,1 kuadriliun) untuk pembelian, pengoperasian, dan perawatan.

Di sisi lain, negosiasi kontrak jangka pendek untuk produksi Lot 20 hingga kini belum rampung dan biayanya mulai melampaui anggaran pemerintah. Laju pengiriman pesawat ke pelanggan juga melambat sepanjang tahun ini. Lockheed Martin tercatat hanya mengirimkan 94 unit F-35 dalam sembilan bulan pertama 2026, turun dari 143 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Terlepas dari kendala tersebut, F-35 tetap dibutuhkan karena jet tempur generasi keempat seperti F-15 dan F-16 akan segera dipensiunkan sebelum pesawat generasi baru F-47 dan F/A-XX masuk jalur produksi. Saat ini, lebih dari 1.375 unit F-35 telah beroperasi di berbagai negara dan digunakan dalam operasi tempur melawan Iran. Minat pasar global terhadap pesawat ini juga tetap tinggi, terlihat dari persetujuan penjualan 48 unit F-35 ke Arab Saudi senilai 24,3 miliar dolar AS (Rp439 triliun) pada bulan lalu serta upaya Turki untuk kembali masuk ke dalam program tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article