Trump Hadiri Peringatan 9/11 di Pentagon, Vance ke New York

- Donald Trump menghadiri peringatan 25 tahun 9/11 di Pentagon, sementara JD Vance bersama empat mantan presiden menghadiri Ground Zero; upacara juga digelar di Shanksville.
- Wali Kota New York Zohran Mamdani menghadapi penolakan kelompok sayap kanan, di tengah sorotan terhadap dampak debu beracun pasca-9/11 yang masih menyebabkan penyakit dan kematian.
- New York memperketat pengamanan dengan tim anti-drone tanpa ancaman spesifik, serta menyalakan 2.977 lampu drone untuk mengenang korban dan mendorong refleksi generasi muda.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan memperingati 25 tahun tragedi 11 September dengan menghadiri upacara di Pentagon pada Jumat (11/9/2026). Langkah tersebut diambil untuk memberikan penghormatan bagi para korban serangan teror yang mengubah arah kebijakan luar negeri serta pertahanan nasional negaranya.
Sementara Trump berada di Pentagon, Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan menghadiri lokasi Ground Zero di New York bersama empat mantan presiden AS. Rangkaian peringatan peristiwa tersebut juga berlangsung di Shanksville, Pennsylvania, guna mengenang hampir 3.000 korban tewas akibat aksi pembajakan pesawat oleh kelompok Al Qaeda pada 2001.
1. Pembagian lokasi peringatan dan kehadiran pejabat tinggi

Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Peringatan di Pentagon ini menjadi kehadiran Trump selama dua tahun berturut-turut setelah dia terakhir kali mendatangi upacara di New York pada 2024. Seperti dilansir TRT World, Trump sebelumnya telah mengeluarkan proklamasi yang menetapkan peringatan tahun ini sebagai Patriot Day 2026 seraya berjanji memperkuat pertahanan negara. Dalam acara di dekat Gedung Putih pada Selasa, dia menegaskan komitmennya untuk tidak melupakan para korban dari peristiwa bersejarah tersebut.
Di New York, Vance direncanakan hadir bersama mantan presiden George W. Bush yang menjabat saat serangan terjadi, serta Joe Biden, Barack Obama, dan Bill Clinton. Acara di kawasan Manhattan bawah ini digelar tanpa pidato resmi dari para tokoh yang hadir. Pihak keluarga korban membacakan langsung nama-nama korban tewas, disertai dentangan lonceng untuk menandai momen-momen penting penyerangan.
Serangan teror pada 2001 tersebut dilancarkan melalui pembajakan empat pesawat komersial oleh 19 anggota Al Qaeda yang menabrak Menara Kembar World Trade Center, Pentagon, dan ladang di Shanksville setelah para penumpang melawan. Peristiwa tersebut menjadi pemicu Perang Melawan Teror yang mencakup invasi ke Irak dan Afghanistan. Berdasarkan proyek Cost of War dari Brown University, rangkaian konflik tersebut menelan korban jiwa yang diperkirakan mencapai 4,5 juta hingga 4,7 juta orang.
2. Sorotan terhadap wali kota muslim dan dampak kesehatan

Wali Kota New York Zohran Mamdani (Bingjiefu He, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Upacara di New York juga dihadiri oleh Wali Kota Zohran Mamdani yang merupakan wali kota muslim pertama di kota tersebut. Kehadiran Mamdani menuai penolakan dari kelompok sayap kanan lewat petisi yang menghimpun lebih dari 100 ribu tanda tangan. Petisi tersebut menuduh dirinya memiliki kaitan dengan pihak-pihak yang dinilai mengabaikan institusi AS atau kurang kritis terhadap ideologi ekstremis.
Penolakan terhadap Mamdani mendapat pembelaan dari anggota dewan kota Shahana Hanif. "Sangat mengkhawatirkan bagi saya bahwa wali kota diperlakukan berbeda hanya karena dia seorang Muslim," kata Shahana Hanif kepada CNN. Mamdani sendiri sempat menuai apresiasi setelah membuka ribuan dokumen yang mengungkap apa yang sebenarnya diketahui para pejabat kota mengenai tingkat racun udara di Manhattan bawah pasca serangan.
Paparan debu beracun akibat runtuhnya menara kembar memicu berbagai penyakit kronis seperti kanker yang masih dialami ribuan warga hingga kini. "Orang-orang jatuh sakit karena para pemimpin yang mereka percayai berbohong dan mengatakan bahwa mereka aman untuk menghirup udara beracun," kata Mamdani pada Selasa. Menurut data program medis federal yang dilaporkan The Standard, lebih dari 9.400 orang telah meninggal dunia akibat penyakit yang berkaitan dengan tragedi 11 September.
3. Pengamanan ketat dan refleksi generasi baru di New York

ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media) Kerumunan warga dalam jumlah besar diperkirakan memadati lokasi memorial di Manhattan bawah dengan penjagaan ketat dari dinas pengamanan Secret Service. Komisaris Kepolisian Jessica Tisch menyatakan bahwa tim anti-drone akan dikerahkan sebagai langkah antisipasi pengamanan. Meski demikian, aparat kepolisian menegaskan tidak ada informasi intelijen mengenai ancaman spesifik terhadap jalannya peringatan.
Peringatan 25 tahun ini juga diwarnai pertunjukan 2.977 lampu drone di atas Pelabuhan New York untuk melambangkan seluruh korban tewas. Pada saat yang sama, kelompok Al Qaeda merilis rekaman video yang menampilkan foto mendiang pemimpin mereka, Osama bin Laden, dan putranya, Hamza, yang menurut pernyataan Trump pada 2019 lalu juga telah tewas. Peringatan ini sekaligus menjadi sarana refleksi bagi sekitar 100 juta warga AS yang belum lahir atau terlalu muda saat peristiwa terjadi.
Salah satu kerabat korban, Logan Miller, menuturkan bagaimana generasi muda kini memandang peristiwa tersebut. "Menurut saya generasi berikutnya tidak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seseorang dapat terdampak oleh peristiwa itu, jadi saya justru mendapati mereka mengajukan lebih banyak pertanyaan," tuturnya. Sementara itu, seorang pengunjung memorial bernama Robert Kafka menilai ruang diskusi dan peringatan sejarah sangat penting agar tragedi kemanusiaan serupa tidak terulang kembali.




















