Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pertama Sejak 2022, Menlu Jerman dan Rusia Bertemu di Sela Sidang PBB

3 min read
Pertama Sejak 2022, Menlu Jerman dan Rusia Bertemu di Sela Sidang PBB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (Duma.gov.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Menlu Jerman Johann Wadephul dan Menlu Rusia Sergey Lavrov bertemu di New York, menjadi dialog tatap muka pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, tanpa kesepakatan baru.
  • Jerman mendesak gencatan senjata segera, dukungan terhadap kedaulatan Ukraina, serta pembukaan jalur ekspor biji-bijian Laut Hitam untuk mencegah krisis pangan.
  • Rusia menilai desakan Berlin tidak membawa hal baru, sementara hubungan kedua negara memburuk setelah tudingan serangan drone dan langkah penutupan fasilitas Rusia di Jerman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di New York, Amerika Serikat (AS), pada Sabtu (26/9/2026). Pertemuan di sela Sidang Majelis Umum PBB ini merupakan pembicaraan tatap muka pertama bagi menteri luar negeri kedua negara sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Dialog tersebut digelar atas permintaan pihak Jerman untuk membahas konflik Ukraina dan hubungan kedua negara. Pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit di ruangan yang disediakan pihak Rusia itu berakhir tanpa kesepakatan baru. Kedua menteri sempat berjabat tangan sebelum Lavrov menyampaikan pidato tahunannya di hadapan para pemimpin dunia.

  1. 1. Jerman desak gencatan senjata dan pembukaan jalur ekspor pangan

    Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul
    Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul (UK Government, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Dalam pertemuan tersebut, Wadephul mendesak Moskow menghentikan eskalasi berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan aliansi NATO. Ia juga meminta Rusia membuka kembali kesepakatan ekspor biji-bijian di Laut Hitam demi mencegah krisis pangan di berbagai negara.

    Wadephul menilai penyelesaian masalah jalur perdagangan Laut Hitam dapat menjadi langkah awal menuju dialog damai yang lebih nyata. Menurutnya, kesepakatan ini sangat mendesak karena ancaman kelangkaan pangan kian nyata di belahan bumi selatan.

    "Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk menegaskan kembali posisi kami terkait perang agresi Rusia terhadap Ukraina dan menyerukan gencatan senjata segera dan menyeluruh," tulis Wadephul dalam pesannya kepada sekutu-sekutu Jerman di Eropa, dilansir The Straits Times.

    Wadephul juga menegaskan bahwa pemerintah Jerman tidak akan goyah mendukung kedaulatan Ukraina. Ia menyatakan berbagai insiden keamanan maupun ancaman serangan hibrida tidak akan memengaruhi komitmen Berlin.

  2. 2. Rusia merespons dingin desakan Jerman

    Ilustrasi Bendera Rusia
    Ilustrasi Bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)

    Pihak Rusia menanggapi dingin desakan yang disampaikan delegasi Jerman. Dalam konferensi pers, Lavrov menyebut pertemuan tersebut tidak menghasilkan hal baru di luar sikap resmi Berlin yang selama ini mengecam Rusia.

    "Saya katakan terus terang kepadanya bahwa Anda sebenarnya cukup menelepon saya dan mengatakan: 'baca pernyataan saya'," ujar Lavrov.

    Mengenai navigasi Laut Hitam, Lavrov menegaskan Moskow memilih membahas rencana keselamatan pelayaran secara terpisah bersama India, Mesir, dan Turki. Ia menyatakan pembicaraan terpisah dengan Ukraina harus disampaikan dalam bahasa tuntutan tegas, bukan permohonan.

    Ketegangan berlanjut saat Lavrov berpidato di mimbar Majelis Umum PBB. Ia menuduh Jerman bertindak sebagai donor utama Ukraina, mempertanyakan apakah Berlin melupakan pelajaran Perang Dunia II, serta memastikan Rusia akan memveto upaya Jerman dan Jepang untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

  3. 3. Hubungan Rusia-Jerman memburuk sejak insiden drone

    ilustrasi drone
    ilustrasi drone (unsplash.com/Valentin Zickner)

    Hubungan Berlin dan Moskow kian memburuk setelah insiden percobaan serangan drone di Bandara Leipzig pada Agustus lalu. Pemerintah Jerman menuding Rusia bertanggung jawab atas insiden tersebut.

    Berlin membalas dengan menutup satu kantor konsulat dan pusat kebudayaan Rusia di wilayahnya. Kedutaan Besar Rusia menepis tudingan itu dan menyebut langkah Jerman sebagai provokasi palsu untuk memicu sentimen anti-Rusia.

    Pertemuan diplomatik di New York berlangsung saat perang Rusia dan Ukraina masih intensif. Garis depan pertempuran darat relatif tidak bergeser sejak tahun lalu, tetapi Rusia terus meluncurkan rudal balistik dan drone ke target sipil serta fasilitas data internet di Kiev.

    Pasukan Ukraina membalas dengan mengerahkan drone jarak jauh untuk menyerang kilang minyak di wilayah pedalaman Rusia. Serangan udara kedua kubu pada Sabtu menewaskan empat orang di Ukraina dan tiga orang di Rusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More