Polisi Jerman Tangkap Dua Warganya, Diduga Jadi Mata-mata China

- Polisi Jerman menangkap pasangan suami istri di München atas dugaan spionase untuk China, dengan tuduhan mengumpulkan data teknologi canggih yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer.
- Keduanya diduga menyamar sebagai penerjemah dan pegawai pabrik otomotif guna mendekati ilmuwan Jerman, lalu mengundang mereka ke acara di China yang ternyata dihadiri perusahaan senjata negara.
- Pemerintah Jerman memperketat keamanan nasional melalui strategi de-risking untuk mencegah kebocoran teknologi penting, sementara proses hukum kasus ini kini ditangani Mahkamah Agung Federal.
Jakarta, IDN Times - Kepolisian Jerman menahan sepasang suami istri di München pada Selasa (19/5/2026) atas dugaan spionase untuk badan intelijen China. Keduanya disangka berupaya mengumpulkan data teknologi canggih dari Jerman yang berpotensi dimanfaatkan untuk keperluan militer asing.
Langkah hukum ini diambil oleh kejaksaan federal Jerman berdasarkan surat perintah resmi yang terbit pada pekan sebelumnya. Saat ini, kedua tersangka telah diamankan untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut oleh hakim investigasi di Mahkamah Agung Federal guna menentukan status penahanan mereka.
1. Polisi geledah lokasi dan periksa sepuluh saksi
Sesuai dengan aturan privasi Jerman, identitas kedua warga negara tersebut hanya diungkap dengan nama Xuejun C. dan Hua S. Setelah penangkapan, pihak berwenang langsung melakukan penggeledahan serentak di kediaman serta tempat kerja mereka di München pada Rabu (20/5/2026).
Selain mengamankan tersangka, polisi juga meminta keterangan dari 10 orang saksi yang tersebar di enam negara bagian, yakni Baden-Württemberg, Bayern, Berlin, Brandenburg, Niedersachsen, dan Nordrhein-Westfalen. Pihak berwenang memastikan para saksi murni hanya dimintai keterangan tambahan.
"Kesepuluh saksi ini berstatus bersih dan sama sekali tidak dicurigai terlibat dalam tindak pidana tersebut," jelas perwakilan Jaksa Penuntut Umum Federal Jerman, dilansir DW.
2. Modus penyamaran untuk dekati para ilmuwan
Dalam menjalankan aksinya, pasangan ini kerap menyamar sebagai penerjemah atau pegawai pabrik otomotif. Tujuannya adalah untuk mendekati para guru besar dan peneliti di berbagai universitas Jerman, khususnya mereka yang ahli di bidang teknik penerbangan, ilmu komputer, dan kecerdasan buatan (AI).
Mereka mengelabui para akademisi dengan memberikan undangan untuk mengisi kuliah umum berbayar di China. Namun, alih-alih masyarakat sipil, acara tersebut rupanya dihadiri oleh perwakilan perusahaan pembuat senjata milik negara China. Hal ini diyakini sebagai upaya sistematis untuk memindahkan pengetahuan teknologi Jerman ke sektor pertahanan mereka.
"Pasangan ini secara aktif menghubungi ilmuwan di lembaga penelitian Jerman guna menyerap informasi ilmiah yang dapat diaplikasikan secara militer," tulis jaksa dalam laporan surat perintah penangkapan, dilansir Euronews.
3. Langkah antisipasi pemerintah Jerman
Peristiwa ini sejalan dengan langkah pemerintah Jerman yang tengah memperketat keamanan nasionalnya dari ancaman luar. Jerman saat ini sedang menerapkan strategi pengurangan risiko (de-risking) dalam hubungan ekonomi bilateral untuk menekan potensi kebocoran teknologi penting yang tidak diinginkan.
Di sisi lain, pemerintah China secara konsisten membantah semua tuduhan terkait aktivitas mata-mata di negara lain. Kini, proses hukum sepenuhnya berada di tangan Mahkamah Agung Federal Jerman yang akan mengawal kasus ini hingga jadwal persidangan ditetapkan.

















