Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jerman Sebut Penarikan Pasukan AS Tak Berpengaruh buat NATO

Jerman Sebut Penarikan Pasukan AS Tak Berpengaruh buat NATO
potret Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul (commons.wikimedia.org/Olaf Kosinsky)
Intinya Sih
  • Pemerintah Jerman menegaskan penarikan ribuan pasukan AS tidak akan memengaruhi kekuatan NATO, meski diakui dapat sedikit mengurangi kemampuan pencegahan serangan musuh.
  • Presiden AS Donald Trump berencana menarik 5.000 pasukan dari Jerman secara bertahap dalam 6 hingga 12 bulan, sambil mendorong negara-negara NATO meningkatkan anggaran pertahanan mereka.
  • Saat ini terdapat sekitar 36.400 pasukan AS di Jerman yang telah ditempatkan sejak akhir Perang Dunia II dan berperan penting dalam memperkuat aliansi militer NATO di Eropa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jerman mengatakan bahwa penarikan ribuan pasukan Amerika Serikat dari negaranya sama sekali tidak berpengaruh bagi kekuatan NATO. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, kepada awak media pada Senin (4/5/2026).

Kendati begitu, Wadephul mengakui bahwa pengurangan pasukan AS di Jerman akan sedikit mengurangi kemampuan NATO untuk menangkal serangan musuh. Namun, ia mengatakan NATO akan segera mengatasi hal tersebut. Ini diperlukan agar NATO tidak perlu lagi bergantung dengan AS dalam aspek pertahanan.  

“Saya sama sekali tidak ragu bahwa akan ada pengurangan kemampuan pencegahan konvensional NATO di Eropa. Namun, hal itu akan diimbangi dengan satu atau cara yang lain,” ujar Wadephul, seperti dilansir Anadolu Agency

1. Donald Trump akan menarik 5.000 pasukan AS dari Jerman

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang bertepuk tangan.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/North Charleston via commons.wikimedia.org/North Charleston)

Pernyataan Wadephul tadi dilontarkan untuk merespons rencana Presiden AS, Donald Trump, untuk menarik 5.000 pasukannya dari Jerman. Langkah ini dilakukan Trump karena Kanselir Jerman, Friedrich Merz, telah menghina AS soal perang dengan Iran. 

Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengancam akan mengurangi lebih banyak lagi pasukan AS dari Jerman. Ini dilakukan agar pasukan AS di Jerman yang membela NATO berkurang sehingga kekuatan militer aliansi tersebut ikut menurun. 

“Kita akan mengurangi jumlahnya (pasukan AS) secara drastis. Kita akan mengurangi jauh lebih banyak dari 5.000,” kata Trump kepada wartawan di Florida pada Sabtu (2/5/2026), seperti dilansir CNBC.

2. Trump akan merampungkan penarikan pasukan AS dalam 6 sampai 12 minggu

Tentara Amerika Serikat yang sedang bertugas.
potret tentara Amerika Serikat (pexels.com/George Pak)

Trump sendiri tidak akan langsung menarik 5.000 pasukan AS dari Jerman. Sebab, Trump akan melakukannya secara bertahap. Ia dikabarkan akan merampungkan penarikan pasukan AS dari Jerman dalam waktu 6 sampai 12 bulan.

Penarikan secara bertahap ini dilakukan untuk memberikan waktu bagi Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) dan NATO dalam mengatur ulang strategi pertahanan di Eropa tanpa menimbulkan kekosongan keamanan yang mendadak. Trump menekankan bahwa proses ini juga bertujuan untuk mendorong negara-negara NATO agar meningkatkan anggaran pertahanan mereka sendiri.

3. AS punya 36.400 pasukan yang ditugaskan di Jerman

Tentara sedang naik ke helikopter.
ilustrasi pasukan militer Amerika Serikat (pexels.com/Art Guzman)

AS sendiri punya kurang lebih 36.400 pasukan yang kini ditugaskan di Jerman. Penempatan pasukan AS di Jerman ini bukan tanpa alasan. Langkah ini bermula dari sejarah panjang yang melatarbelakanginya. 

Dilansir The Guardian, keberadaan pasukan AS di Jerman dimulai sejak Perang Dunia Ke-2 pada 1945. Saat itu, pasukan AS ditempatkan di Jerman usai berhasil mengalahkan pasukan Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler. 

Seiring berjalannya waktu, pasukan AS mulai mengubah perannya setelah NATO berdiri pada 1949. Sejak NATO berdiri hingga saat ini, pasukan AS mulai membantu mereka menjadi aliansi militer yang kuat untuk menangkal ancaman dari negara-negara rival, seperti Rusia dan China. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More