Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Puluhan Warga Palestina Ditangkap Usai Serangan di Tepi Barat
pasukan Israel ( / IDF Spokesperson's Unit)

Jakarta, IDN Times - Pasukan Israel menangkap sedikitnya 70 warga Palestina dalam penggerebekan di wilayah pendudukan Tepi Barat pada Sabtu (25/7/2026). Tindakan ini dilakukan sebagai respons atas serangan yang menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel sehari sebelumnya.

Dikutip Anadolu, lebih dari 40 pemuda Palestina ditangkap di desa Tal, sebelah barat daya Nablus, tempat terjadinya penembakan pada Jumat (24/7/2026). Menurut laporan, pasukan Israel menyita sebuah rumah di kota tersebut dan mengubahnya menjadi pusat interogasi lapangan. Selain itu, para tentara juga menggerebek puluhan rumah warga.

1. Penggerebekan juga dilakukan di Jenin dan Tubas

tentara Israel (Picture taken by Justin McIntosh,, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Penangkapan juga terjadi di kota Jenin, wilayah utara Tepi Barat, serta di sejumlah kota kecil dan desa di seluruh kegubernuran tersebut. Pasukan Israel menggerebek sejumlah rumah dan mengerahkan banyak personel militernya ke wilayah itu.

Menurut kantor berita Palestina WAFA, pasukan Israel juga memasuki Tubas dengan iring-iringan besar kendaraan militer dan disebar ke sejumlah permukiman. Mereka menggerebek rumah-rumah warga selama sekitar 3 jam sebelum bergerak menuju Kamp Pengungsi Far'a yang terletak di selatan kota tersebut.

Pasukan Israel juga menggerebek sejumlah lokasi lainnya, termasuk desa Far’ata di sebelah timur Qalqilya, di mana sedikitnya delapan warga Palestina terluka. Selain itu, Kamp pengungsi Aqbat Jabr di Jericho dan desa Kobar di Kegubernuran Ramallah dan el-Bireh turut menjadi sasaran penggerebekan.

2. Netanyahu instruksikan operasi militer besar-besaran di desa-desa Palestina

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (DedaSasha, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Menteri Keamanan, Israel Katz, sebelumnya memerintahkan operasi militer berskala besar di desa-desa Palestina di seluruh wilayah Tepi Barat usai serangan di dekat permukiman ilegal Havat Gilad yang menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya.

Laporan menyebutkan bahwa pemukim Israel kemudian menyerang sejumlah komunitas Palestina di wilayah Nablus, dengan membakar rumah-rumah dan properti milik warga di sana. Menurut otoritas setempat, empat warga Palestina tewas dalam serangan di desa Tal.

Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, menyebut serangan Israel terhadap warga sipil Palestina di Tepi Barat sebagai pogrom, yaitu kekerasan terorganisir yang menargetkan kelompok etnis atau agama tertentu. Ia pun mendesak komunitas internasional untuk menerapkan embargo senjata dan menghentikan hubungan perdagangan dengan Israel.

"Terapkan embargo senjata sekarang juga — hentikan perdagangan sekarang juga," kata Albanese.

3. Serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina bersifat sistemik

seorang pria membawa bendera Palestina (pixabay.com/hosnysalah)

Dilansir Al Jazeera, Ubai Al Aboudi, seorang aktivis hak asasi manusia di Ramallah, mengatakan bahwa serangan pemukim Israel terhadap desa-desa Palestina bersifat sistemik dan dilakukan tanpa adanya konsekuensi hukum. Ia menyebut serangan-serangan itu bukanlah insiden terisolasi, melainkan sesuatu yang terjadi di seluruh Tepi Barat.

Ia menambahkan bahwa sebelum serangan pada Jumat, desa Tal juga pernah menjadi sasaran serangan sepekan sebelumnya, tepatnya pada 18 Juli.

"Orang-orang yang disebut sebagai pendaki oleh pejabat Israel memasuki desa, lalu membakar sebuah rumah yang masih dihuni satu keluarga. Merupakan suatu keajaiban warga Tal berhasil menyelamatkan keluarga tersebut sebelum mereka terbakar hidup-hidup," kata Al Aboudi.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 87 warga Palestina telah tewas akibat serangan tentara dan pemukim Israel di berbagai wilayah Tepi Barat sejak awal 2026. Para kritikus menilai para pemukim ilegal semakin berani melancarkan aksi mereka karena kurangnya tekanan internasional terhadap Israel untuk mengakhiri perang di Gaza serta retorika yang digaungkan oleh menteri sayap kanan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article