Penembakan di Tepi Barat Tewaskan 4 Warga Palestina dan 1 Warga Israel

Jakarta, IDN Times - Kekerasan berdarah kembali pecah di Tepi Barat setelah insiden penembakan di dekat kota Nablus menewaskan empat warga Palestina dan satu warga Israel pada Jumat (24/7/2026). Insiden di desa Tell ini juga menyebabkan sedikitnya delapan orang lainnya mengalami luka-luka. Korban tewas dari pihak Israel teridentifikasi sebagai Benayahu Mellet, pria berusia 32 tahun yang merupakan anggota tim tanggap darurat permukiman Havat Gilad.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa empat korban tewas dari pihak Palestina merupakan anggota keluarga yang sama. Peristiwa ini menjadi bentrokan paling mematikan di wilayah Tepi Barat sepanjang tahun ini. Militer Israel langsung menerapkan penutupan sementara di sekitar Nablus dan desa Tell untuk memburu para pelaku.
1. Perbedaan kronologi insiden versi Israel dan Palestina
Militer Israel mengklaim pasukan mereka diterjunkan ke lokasi setelah menerima laporan adanya serangan terhadap sekelompok warga Israel yang sedang mendaki. Menurut otoritas militer, seorang warga Palestina merebut senjata milik petugas keamanan lokal dan melepaskan tembakan ke arah para pendaki. Pasukan Israel kemudian menggelar operasi perburuan dan menembak mati pelaku penembakan tersebut.
"Kami memberikan perawatan medis kepada korban sebelum dievakuasi menggunakan helikopter militer," kata seorang petugas medis Magen David Adom, dilansir The Jerusalem Post.
Di sisi lain, tokoh lokal partai Fatah di desa Tell, Essam Saifi, memberikan keterangan berbeda terkait awal mula bentrokan. Ia menyebut sekitar 25 hingga 30 pemukim Yahudi yang bersenjata terlebih dahulu menyerang area timur desa dan berusaha menerobos masuk ke dua rumah warga.
Warga lokal yang berusaha mempertahankan rumah mereka kemudian terlibat bentrokan dengan kelompok pemukim tersebut. Menurut Saifi, tentara Israel tiba 30 menit kemudian dan ikut melepaskan tembakan bersama para pemukim ke arah warga Palestina.
2. Pemerintah Israel dan Palestina saling kecam
Menanggapi insiden tersebut, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu langsung menggelar rapat darurat bersama Menteri Pertahanan Israel Katz dan Panglima Militer Eyal Zamir. Pemerintah Israel berjanji akan mengambil langkah tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu. Sejumlah menteri garis keras Israel mendesak militer untuk melancarkan serangan balasan yang lebih agresif.
"Kami menuntut militer bertindak dengan tangan besi terhadap desa para pembunuh dan sekitarnya," kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, dilansir Al Jazeera.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras aksi pembunuhan terhadap warganya oleh tentara dan pemukim Israel. Pihak Palestina menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pembantaian berencana.
Pemerintah Palestina menganggap insiden ini sebagai gambaran berulang dari tragedi Nakba yang terus dialami warganya. Mereka juga menuding adanya kerja sama antara otoritas pendudukan dan kelompok pemukim ekstremis dalam meningkatkan aksi kekerasan di Tepi Barat.
3. Gelombang kekerasan di Tepi Barat terus meningkat
Bentrokan di desa Tell terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah Tepi Barat. Kekerasan dinilai semakin intensif dan meluas sejak pecahnya konflik di Jalur Gaza.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina, 1.049 warga Palestina tewas akibat tindakan tentara maupun pemukim Israel sejak konflik Gaza memanas. Di sisi lain, 47 warga Israel juga dilaporkan tewas dalam berbagai aksi serangan di wilayah tersebut.
Sebelum penembakan di desa Tell, Tepi Barat juga sempat diguncang oleh dua aksi penikaman dalam kurun waktu 24 jam. Selain itu, maraknya kasus pembakaran lahan pertanian kian memicu gesekan antara pemukim Yahudi dan warga Palestina.
Untuk mengantisipasi serangan balasan, militer Israel kini mengerahkan pasukan tambahan ke wilayah Nablus. Penutupan jalur dan pos pemeriksaan ketat juga diterapkan untuk membatasi pergerakan warga di sekitar area konflik.




















