Jakarta, IDN Times - Presiden Rusia, Vladimir Putin, dikabarkan siap bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di Moskow untuk membicarakan perdamaian di antara kedua negara. Kabar tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Istana Kremlin, Dmitry Peskov, pada Rabu (22/4/2026).
Putin Siap Bertemu Zelenskyy di Moskow untuk Akhiri Perang

- Putin menyatakan siap bertemu Zelenskyy di Moskow untuk menandatangani perjanjian damai, namun menolak jika pertemuan membahas hal lain di luar kesepakatan perdamaian.
- Zelenskyy juga bersedia bertemu Putin, tetapi menolak lokasi di Rusia dan mengusulkan negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab sebagai tempat pertemuan.
- Upaya negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina terus tertunda karena perbedaan pendapat soal lokasi, dengan Amerika Serikat tetap ingin menjadi tuan rumah sementara Rusia menolak.
Kendati begitu, Peskov menjelaskan, Putin hanya bersedia bertemu Zelenskyy hanya untuk menandatangani perjanjian damai. Jika pertemuan ditujukan untuk hal lain, maka Putin tidak akan bersedia bertemu dengan Zelenskyy. Sebab, ini merupakan upaya Putin untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina.
“Yang terpenting adalah tujuan pertemuan tersebut. Mengapa mereka harus bertemu? (Vladimir) Putin mengatakan dia siap bertemu di Moskow kapan saja. Yang utama adalah adanya tujuan pertemuan dan yang terpenting, pertemuan tersebut harus produktif. Ini hanya dapat dilakukan untuk tujuan menyelesaikan kesepakatan (perdamaian),” ujar Peskov, seperti dilansir Anadolu Agency.
1. Zelenskyy tidak mau pertemuan digelar di Rusia

Menanggapi pernyataan Putin, Zelenskyy mengatakan dirinya juga siap bertemu dengan Putin untuk menandatangani perjanjian damai. Namun, Zelenskyy tidak ingin pertemuan digelar di Rusia. Ia ingin pertemuan digelar di negara-negara yang ada di Timur Tengah.
Ada beberapa negara Timur Tengah yang dipilih Zelenskyy untuk menggelar pertemuan dengan Rusia. Salah satunya adalah Uni Emirat Arab (UEA). Sebab, UEA juga pernah menjadi tempat negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina.
“Pada prinsipnya, kami tidak takut untuk bertemu (dengan Rusia) kapan saja di negara mana pun, kecuali di Rusia dan Belarus. Kami menekankan hal ini sekali lagi. Saya yakin bahwa pertemuan trilateral harus dilanjutkan,” ujar Zelenskyy kepada awak media.
2. Rusia dan Ukraina sudah berkali-kali melakukan negosiasi damai

Rusia dan Ukraina sendiri sudah berkali-kali menggelar negosiasi damai bersama Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. Namun, semua upaya tersebut selalu berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti.
Negosiasi pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, UEA, pada 23–24 Januari dan pada 4–5 Februari 2026. Namun, kedua upaya tersebut gagal menghasilkan kesepakatan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Negosiasi damai tahap ketiga juga sudah dihelat di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari. Sayangnya, negosiasi tersebut lagi-lagi gagal menghasilkan perdamaian.
3. Negosiasi damai lanjutan antara Rusia dan Ukraina kerap tertunda

Sebetulnya, Rusia dan Ukraina sudah sama-sama siap untuk melakukan negosiasi perdamaian. Sayangnya, upaya itu kerap gagal karena masalah tempat. Sebab, AS yang berperan sebagai mediator kerap tidak menyetujui usulan tempat negosiasi yang diusulkan Rusia.
Jadi, AS ingin pertemuan dilakukan di wilayahnya. Negeri Paman Sam enggan menggelar pertemuan di luar negeri akibat situasi konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, Rusia tidak mau pertemuan digelar di AS. Mereka ingin pertemuan digelar di Turki atau Swiss. Namun, AS menolak mentah-mentah usulan tersebut.


















