Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ratusan Warga Kenya Protes Pembangunan Fasilitas Karantina Ebola AS

Ratusan Warga Kenya Protes Pembangunan Fasilitas Karantina Ebola AS
ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih
  • Ratusan warga Kenya di Nanyuki memprotes pembangunan fasilitas karantina Ebola AS di pangkalan militer, menuntut pembatalan karena dianggap berisiko bagi kesehatan masyarakat.
  • Pemerintah AS dan Kenya menyatakan fasilitas 50 tempat tidur itu untuk menampung warga AS terpapar Ebola tanpa gejala, sementara pengadilan telah menangguhkan proyek tersebut.
  • Serikat dokter dan lembaga hukum Kenya menilai sistem kesehatan masih rapuh serta perjanjian kurang transparan, bahkan mengancam mogok jika proyek senilai 13,5 juta dolar AS tetap dilanjutkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ratusan warga Kenya turun ke jalan untuk memprotes rencana pembangunan fasilitas karantina Ebola di sebuah pangkalan militer yang akan menampung warga negara Amerika Serikat (AS). Aksi ini berlangsung di kota Nanyuki pada Senin (1/6/2026), hanya beberapa hari setelah Pengadilan Tinggi Kenya memerintahkan penangguhan rencana tersebut.

Rekaman menunjukkan sekitar 100 orang berkumpul sekitar 4 kilometer dari lokasi fasilitas yang direncanakan sambil meneriakkan slogan-slogan anti-Ebola dan menuntut agar rencana tersebut dibatalkan. Asap juga terlihat membumbung dari sesuatu yang dibakar di jalan. Sementara itu, polisi dan tentara memperketat penjagaan di jalan-jalan menuju pangkalan militer tersebut.

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir dari The Straits Times, para pejabat senior AS mengatakan bahwa unit berkapasitas 50 tempat tidur yang rencananya dibangun di Pangkalan Udara Laikipia dekat Nanyuki akan menampung warga AS yang terpapar virus Ebola tapi masih belum menunjukkan gejala. Pemerintah Kenya juga telah mengonfirmasi rencana pembangunan fasilitas tersebut, dengan Menteri Kesehatan Aden Duale menyatakan bahwa langkah itu merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat sistem respons darurat.

Menurut pejabat AS, fasilitas itu diperkirakan mulai beroperasi pada Jumat (29/5/2026) lalu. Sejumlah pesawat militer dilaporkan terlihat keluar-masuk Nanyuki pada akhir pekan lalu.

Sejauh ini, Kenya belum mencatat kasus Ebola, yang wabahnya telah menewaskan lebih dari 200 orang di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Oleh sebab itu, warga menolak rencana AS untuk menampung orang-orang yang terpapar virus di negara mereka karena dinilai dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

2. Warga minta fasilitas karantina tersebut segera ditutup permanen

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Patrick Wahome, salah satu penyelenggara demonstrasi, mengatakan bahwa mereka menuntut agar fasilitas tersebut ditutup permanen paling lambat pada Selasa (2/9/2026).

“Nanyuki adalah kota yang sangat kecil. Personel militer yang bertugas di pangkalan itu hidup bersama kami. Anak-anak kami bersekolah di tempat yang sama dan itu berarti jika seseorang terinfeksi, maka kami semua ikut terinfeksi. Kami turun aksi demi menyelamatkan hidup kami," ujarnya.

Sementara itu, Malin Ndegwa mengatakan bahwa Kenya seharusnya tidak boleh terekspos virus Ebola dengan menampung warga asing, terlebih negara itu bukan pusat wabah penyakit tersebut.

“Mengapa mereka tidak melakukannya di DRC (Kongo)? Mengapa mereka tidak melakukannya di Uganda? Kenapa harus dibawa ke sini?” ujarnya, seraya mendesak agar fasilitas tersebut segera ditutup.

3. Sistem kesehatan di Kenya dinilai masih rapuh

ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)
ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)

Menurut gugatan yang diajukan oleh Law Society of Kenya dan sebuah lembaga pengawas konstitusi ke Pengadilan Tinggi Kenya, lokasi pembangunan fasilitas karantina Ebola itu dapat membahayakan kesehatan masyarakat mengingat rapuhnya sistem kesehatan negara tersebut. Selain itu, mereka juga menilai perjanjian tersebut kurang tansparan.

Pemerintah AS sendiri mengatakan berencana mengalokasikan dana sebesar 13,5 juta dolar AS (sekitar Rp241 miliar) untuk mendukung upaya kesiapsiagaan Ebola di Kenya. Namun, hingga kini hanya sedikit rincian mengenai pusat karantina tersebut yang diungkap ke publik.

Dilansir dari Sky News, serikat dokter Kenya juga ikut mengeluarkan ancaman mogok kerja selama 48 jam pada Kamis (4/6/2026) jika pemerintah tetap melanjutkan kesepakatan tersebut. Mereka menyatakan bahwa Kenya tidak boleh menjadi tempat pembuangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More