Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rusia Dituduh Pakai Rudal Korut untuk Serang Ukraina
ilustrasi peluncur rudal (unsplash.com/Vony Razom)
  • Ukraina menuduh Rusia memakai rudal balistik Korea Utara dalam serangan 11 Agustus 2026 yang menewaskan sedikitnya sembilan orang, terutama di Zaporizhzhia.
  • Di Zaporizhzhia, serangan menewaskan enam warga dan melukai 19 orang serta merusak apartemen dan fasilitas publik; Rusia mengklaim hanya menargetkan logistik dan industri militer.
  • Kiev menyebut Rusia berencana menempatkan 30.000–50.000 tentara Korea Utara, ketika menipisnya rudal pencegat Patriot membuat pertahanan udara Ukraina semakin rentan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Ukraina menuduh Rusia menggunakan rudal balistik buatan Korea Utara (Korut) dalam gelombang serangan udara mematikan pada Selasa (11/8/2026). Serangan tersebut menewaskan sedikitnya sembilan orang di beberapa wilayah Ukraina.

Kota Zaporizhzhia di bagian tenggara menjadi wilayah yang paling parah terdampak gelombang serangan tersebut. Selain rudal balistik Korut, militer Rusia juga meluncurkan rudal jelajah hipersonik Zircon dan bom udara terpandu.

1. Rudal Korut hantam Zaporizhzhia dan tewaskan warga

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (President Of Ukraine from Україна, CC0, via Wikimedia Commons)

Serangan udara Rusia di Zaporizhzhia menyebabkan enam warga sipil tewas dan 19 orang luka-luka. Ledakan bom serta rudal dilaporkan merusak empat gedung apartemen dan fasilitas publik.

Di kawasan Dnipropetrovsk, serangan drone dan rudal militer Rusia menewaskan tiga warga sipil. Serangan terpisah juga merusak rumah sakit di Kiev serta gardu listrik di Kherson dan Kharkiv.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengutuk gelombang serangan yang menargetkan area permukiman warga tersebut. Ia menyebut serangan udara itu sengaja dirancang untuk memicu kerusakan fasilitas publik dalam skala besar. Namun, pihak militer Rusia mengklaim serangan terbaru hanya mengincar pusat logistik dan industri militer.

2. Rusia bersiap tempatkan 50 ribu tentara Korut

tentara Korea Utara (unsplash.com/Mike Bravo)

Zelenskyy memperingatkan bahwa Moskow tengah bersiap mendatangkan prajurit tambahan dari Korut. Pihak Kiev mengklaim Rusia berencana menempatkan sekitar 30 ribu hingga 50 ribu tentara Korut di wilayahnya.

Kerja sama militer kedua negara terus menguat sejak penandatanganan perjanjian pertahanan bersama pada 2024. Sebelumnya, Pyongyang telah mengirimkan sekitar 12 ribu prajurit untuk membantu pasukan Rusia dalam pertempuran di wilayah Kursk.

Sebagai imbalan, Korut telah menerima bantuan teknologi militer serta dukungan ekonomi dari Rusia. Bantuan ini memperkuat perekonomian Pyongyang yang sempat tertekan akibat sanksi internasional.

Pelibatan pasukan dan senjata Korut di Ukraina turut menjadi sarana uji coba kemampuan tempur Pyongyang. Zelenskyy menilai pengembangan taktik perang tersebut berisiko mengancam keamanan di kawasan Asia-Pasifik.

3. Ukraina kekurangan amunisi sistem pertahanan udara Patriot

Peningkatan serangan rudal Rusia dinilai berbahaya bagi celah pertahanan udara Ukraina. Selama ini, Kiev sangat mengandalkan sistem Patriot buatan AS untuk mencegat rudal balistik musuh.

Stok rudal pencegat Patriot milik Ukraina dilaporkan semakin menipis. Kelangkaan tersebut diperburuk oleh perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang meletus pada Februari.

Negara-negara sekutu di Eropa juga dilaporkan mulai kehabisan cadangan amunisi Patriot untuk dikirimkan ke Ukraina. Kondisi ini membuat perkotaan Ukraina semakin rentan terhadap gempuran udara dari Rusia.

"Setiap langkah yang diambil Rusia menunjukkan bahwa Moskow bersiap untuk eskalasi," tutur Zelenskyy, dilansir CNBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article