Turki Minta Rusia-Ukraina Setop Serangan di Laut Hitam

- Turki menyerukan moratorium sementara serangan Rusia dan Ukraina di Laut Hitam untuk melindungi pelayaran komersial serta keamanan navigasi.
- Ankara meneruskan proposal Ukraina kepada Rusia dan mendorong mekanisme komunikasi teknis, sambil menunggu tanggapan Moskow mengenai pelaksanaan jeda pertempuran.
- Serangan terhadap kapal sipil meningkatkan risiko bagi awak dan perdagangan gandum, pupuk, serta energi, termasuk biaya pengiriman dan asuransi.
Jakarta, IDN Times - Turki menyerukan penghentian sementara serangan militer Rusia dan Ukraina di Laut Hitam pada Sabtu (8/8/2026). Ankara menilai jeda pertempuran diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap pelayaran komersial dan menjaga keamanan navigasi di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengatakan pemerintahnya mendorong pembentukan mekanisme komunikasi untuk membahas moratorium tersebut. Ankara juga telah meneruskan proposal yang sebelumnya disampaikan Ukraina kepada pemerintah Rusia dan kini menunggu tanggapan Moskow.
1. Turki usulkan mekanisme jeda pertempuran
Fidan mengatakan Turki membutuhkan wadah komunikasi teknis untuk membahas pelaksanaan moratorium serangan di Laut Hitam. Menurutnya, proposal serupa telah disampaikan Ukraina dan diteruskan Ankara kepada pemerintah Rusia.
"Pihak Ukraina sudah memiliki proposal bersesuaian, dan kami telah meneruskannya kepada rekan-rekan kami di Rusia serta sedang menunggu tanggapan," kata Fidan, dilansir Kyiv Independent.
Usulan tersebut ditujukan untuk membatasi aksi militer di wilayah laut, bukan sebagai perjanjian perdamaian untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Turki berharap mekanisme tersebut dapat mengurangi risiko konfrontasi di kawasan perairan yang menjadi jalur perdagangan penting.
Ankara juga berupaya mempertahankan perannya sebagai penghubung komunikasi antara Rusia dan Ukraina. Pemerintah Turki menyatakan siap memfasilitasi pembahasan teknis jika kedua pihak menyepakati mekanisme tersebut.
2. Serangan mengancam kapal komersial di Laut Hitam
Fidan menyoroti meningkatnya risiko terhadap pelayaran sipil di Laut Hitam. Menurutnya, sasaran serangan dalam konflik kini tidak hanya mencakup fasilitas militer dan pelabuhan.
"Mula-mula mereka menargetkan pelabuhan dan kapal perang, namun kini mereka menyerang semua pelayaran komersial tanpa membeda-bedakan," kata Fidan.
Sejumlah kapal kargo dan kapal penangkap ikan yang terkait dengan Turki dilaporkan terkena serangan drone atau rudal. Salah satu insiden menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan awak kapal.
"Konflik ini telah meluas ke seluruh wilayah Laut Hitam," ujar Fidan, dilansir The Guardian.
Pemerintah Turki menilai peningkatan serangan terhadap kapal sipil dapat membahayakan awak kapal dari berbagai negara. Kondisi tersebut juga menambah risiko bagi aktivitas pelayaran internasional yang melintasi Laut Hitam.
3. Gangguan Laut Hitam berisiko tekan perdagangan global
Laut Hitam merupakan jalur penting bagi perdagangan komoditas seperti gandum, pupuk, dan energi. Gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman serta memengaruhi kelancaran distribusi barang ke berbagai wilayah.
Perusahaan pelayaran juga menghadapi risiko peningkatan biaya asuransi dan kebutuhan untuk menyesuaikan rute pengiriman. Dampaknya berpotensi dirasakan hingga kawasan Mediterania, Timur Tengah, dan Afrika.
"Jika kapal-kapal Turki atau kapal yang dimiliki orang Turki atau berawak warga Turki diserang, ini menjadi masalah yang sangat serius bagi kami," kata Fidan, dilansir Eurasia Business News.
Turki menilai moratorium serangan dapat membantu menciptakan kepastian bagi aktivitas pelayaran. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada kesediaan Rusia dan Ukraina untuk menyepakati mekanisme jeda militer di Laut Hitam.




















