Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Taiwan Ingin Perpanjang Kesepakatan Senjata dengan AS

Presiden China Xi Jinping (kanan) saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT APEC di Busan, Korsel, pada 30 Oktober 2025. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)
Presiden China Xi Jinping (kanan) saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT APEC di Busan, Korsel, pada 30 Oktober 2025. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)
Intinya sih...
  • Kementerian Pertahanan Taiwan ingin perpanjang batas waktu penandatanganan perjanjian pembelian senjata dengan AS
  • Parlemen yang dikuasai oposisi menghambat persetujuan anggaran pertahanan, memicu keresahan di Kongres AS
  • Presiden China Xi Jinping memperingatkan Trump untuk 'berhati-hati' terkait penjualan senjata ke Taiwan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan Taiwan pada Jumat (6/2/2026) mengatakan akan mengajukan perpanjangan batas waktu penandatanganan perjanjian pembelian senjata dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil menyusul terhambatnya persetujuan anggaran pertahanan di parlemen yang dikuasai oposisi.

Sebelumnya, Presiden Lai Ching-te mengusulkan anggaran pertahanan khusus senilai 40 miliar dolar AS (sekitar Rp674,2 triliun) pada 2025, guna menghadapi ancaman China. Namun, parlemen yang dikuasai oposisi mengajukan proposal alternatif dengan nilai lebih kecil yang hanya mencakup sebagian dari pembelian senjata AS.

"Keterlambatan persetujuan anggaran dapat menghambat pengiriman senjata penting karena pesanan dari negara lain berpotensi mendahului antrean Taiwan," kata kementerian tersebut, dikutip dari The Straits Times.

1. Berikut daftar pembelian senjata Taiwan dengan AS

Kementerian tersebut juga memperingatkan bahwa pemerintah AS telah mengirimkan draf Surat Penawaran dan Penerimaan (Letter of Offer and Acceptance/LOA) yang berlaku hingga 15 Maret 2026. LOA tersebut untuk pembelian rudal anti-tank TOW, rudal anti-lapis baja Javelin, serta howitzer swa-gerak M109A7. Angsuran pertama harus dibayarkan paling lambat 31 Maret, sementera parlemen belum memulai peninjauan proposal anggaran tersebut.

Kementerian mengatakan akan secara aktif meminta perpanjangan masa berlaku LOA, guna mencegah pembatalan kesepakatan. Pihaknya juga mendesak parlemen segera menyelesaikan peninjauan agar militer Taiwan dapat memperkuat kesiapan tempur dan menjaga keamanan nasional dari potensi agresi.

Di sisi lain, Partai oposisi utama Taiwan, Kuomintang (KMT), menyatakan mendukung peningkatan anggaran pertahanan. Namun, mereka menegaskan akan meneliti rencana tersebut secara menyeluruh dan menolak memberikan 'cek kosong'. Pernyataan tersebut disampaikan saat KMT mengirim delegasi ke Beijing pekan ini.

2. Keresahan di Kongres AS atas kebuntuan di Parlemen Taiwan

Ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)
Ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

Washington menyambut baik rencana Taiwan untuk meningkatkan belanja pertahanan, sejalan dengan dorongan AS agar para sekutunya memperkuat kemampuan militernya. Juru bicara Departemen Luar Negeri (DOS) AS mengatakan pihaknya mendukung anggaran pengadaan pertahanan khusus Taiwan senilai 40 miliar dolar AS, sebagaimana telah disampaikan secara terbuka oleh DOS dan American Institute in Taiwan (AIT).

Kebuntuan anggaran tersebut memicu kekecewaan di Kongres AS. Senator Jim Risch (Republik) dan Jeanne Shaheen (Demokrat), menyatakan sangat kecewa karena anggaran pertahanan Taiwan masih tertahan. Mereka mendesak partai-partai politik di Taiwan untuk bekerja sama demi mendanai pertahanan diri wilayah tersebut.

Kedua senator itu juga menyoroti latihan militer China pada Desember lalu, yang diklaim mensimulasikan blokade terhadap Taiwan sebagai bukti ancaman Beijing terhadap Taipei dan kawasan Indo-Pasifik. Mereka menyerukan agar para pemimpin di Taipei segera menyetujui investasi penting demi keamanan Taiwan dan kemitraan berkelanjutan dengan AS.

3. Xi memperingatkan Trump untuk berhati-hati dalam penjualan senjata ke Taiwan

Ilustrasi bendera Taiwan. (unsplash.com/Roméo A.)
Ilustrasi bendera Taiwan. (unsplash.com/Roméo A.)

Presiden China Xi Jinping menegaskan kembali bahwa Taiwan tetap menjadi isu terpenting dalam hubungan bilateral Beijing-Washington. Hal ini disampaikannya saat berbicara melalui telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Rabu (4/2/2026).

Xi memperingatkan Trump untuk 'berhati-hati' terkait penjualan senjata ke Taiwan. Ia menegaskan posisi Beijing dalam melindungi kedaulatan wilayahnya.

"AS dan China sama-sama memiliki kekhawatiran. Kita harus bekerja dengan semangat kesetaraan dan rasa hormat untuk mengatasi kekhawatiran masing-masing," ujar Xi, dikutip dari BBC.

Trump menggambarkan percakapan telepon tersebut sebagai diskusi yang panjang, menyeluruh, dan sangat baik. Melalui unggahan di Truth Social, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan personal yang kuat dengan Xi demi stabilitas kedua negara.

Selain pembahasan mengenai Taiwan, Trump mengatakan Beijing sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan pembelian kedelai AS dari 12 juta ton menjadi 20 juta ton. Terkait komitmen perdagangan, keduanya juga membahas pembelian minyak dan gas AS oleh China. Selain isu bilateral, Xi-Trump mendiskusikan perang Rusia di Ukraina dan situasi terkini di Iran.

Dialog tersebut terjadi di tengah gelombang kunjungan para pemimpin Barat ke Negeri Tirai Bambu, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang berupaya memulihkan hubungan dengan China, ekonomi terbesar kedua di dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Afrika Selatan Tarik Seluruh Pasukan dari Misi PBB di Kongo

10 Feb 2026, 10:09 WIBNews