Terminal Haji Padat, Jemaah RI Pulang Lewat Terminal Internasional

- Otoritas Bandara Jeddah mengalihkan sebagian penerbangan jemaah haji, termasuk dari Indonesia, ke Terminal Internasional untuk mengurai kepadatan di Terminal Haji.
- PPIH memastikan layanan kepulangan tetap optimal dengan menempatkan petugas di dua terminal agar pendampingan dan proses keberangkatan jemaah berjalan lancar.
- Jemaah diimbau mematuhi aturan bagasi maksimal 32 kg dan tidak membawa barang terlarang guna mencegah antrean panjang serta keterlambatan jadwal penerbangan.
Jeddah, IDN Times — Tingginya volume pergerakan kepulangan jemaah haji dari berbagai belahan dunia membuat Terminal Haji di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, mengalami kepadatan luar biasa. Mengurai kemacetan ini, otoritas bandara Arab Saudi mengambil kebijakan taktis dengan mengalihkan sebagian penerbangan jemaah haji—termasuk dari Indonesia—melalui Terminal Internasional.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Abdul Basir, mengonfirmasi kebijakan pengalihan arus ini. Ia menyebutkan bahwa strategi tersebut sudah diterapkan dalam beberapa hari terakhir, khususnya bagi jemaah yang menggunakan maskapai Saudia Airlines.
"Dalam tiga hari terakhir, sebagian jemaah haji Indonesia yang dilayani Saudi Airlines dipulangkan melalui Terminal Internasional. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas penerbangan di Terminal Haji," terang Abdul Basir di Jeddah, Sabtu (6/6/2026).
Basir menekankan bahwa kebijakan ini tidak eksklusif untuk jemaah Indonesia. Jemaah dari negara lain yang menggunakan maskapai Saudia Airlines juga mengalami pengalihan serupa guna menjaga ritme jadwal penerbangan.
1. Layanan tetap optimal, petugas disebar di dua terminal

Meski terjadi perubahan lokasi boarding, PPIH memastikan bahwa kualitas layanan kepulangan jemaah Indonesia tidak akan berkurang. Otoritas haji Indonesia telah mengantisipasi perubahan ini dengan memecah kekuatan personel untuk bersiaga di dua lokasi berbeda.
"Sejauh ini proses kepulangan melalui Terminal Internasional terpantau lancar. Kami membagi personel agar pelayanan tetap berjalan maksimal di kedua terminal," tegas Basir meyakinkan jemaah dan keluarga di Tanah Air.
Di titik mana pun jemaah akan diterbangkan, kehadiran petugas PPIH dipastikan tetap ada untuk mendampingi, mengawal dokumen, serta memberikan bantuan teknis yang diperlukan jemaah sebelum naik ke pesawat.
2. Jangan bawa barang berlebih!

Di tengah dinamisnya situasi bandara, PPIH kembali menyoroti isu klasik yang kerap menjadi penghambat utama kelancaran keberangkatan: barang bawaan jemaah yang overload.
Basir kembali merinci aturan mutlak terkait tiga jenis bagasi yang diperbolehkan. Pertama, koper besar (maksimal 32 kg) yang wajib sudah dikirim ke gudang maskapai dua hari sebelum keberangkatan. Kedua, koper kabin (maksimal 7 kg). Ketiga, tas paspor berukuran kecil yang khusus digunakan untuk menyimpan dokumen penerbangan dan barang berharga.
"Kami tidak bosan mengingatkan jemaah agar mematuhi aturan barang bawaan. Jangan membawa barang yang dilarang atau melebihi batas ketentuan karena hal itu bisa memperlambat proses pemeriksaan di bandara," imbau Basir.
Jika nekat melanggar, jemaah sendiri yang akan direpotkan. Kasus overbaggage atau ditemukannya barang terlarang (seperti air zamzam di dalam koper) akan berujung pada pembongkaran paksa di mesin X-ray. Proses ini tidak hanya melelahkan jemaah, tetapi juga memicu antrean panjang yang berpotensi merusak jadwal keberangkatan kloter.
Sebagai antisipasi tambahan, jemaah juga disarankan untuk bijak mengelola bekal konsumsi. Jemaah diwajibkan tiba di bandara enam jam sebelum take-off, sementara pintu keberangkatan baru dibuka empat jam sebelum terbang.
"Kami menyarankan jemaah membawa bekal secukupnya karena tidak ada layanan konsumsi khusus bagi jemaah haji saat berada di bandara. Biasanya jemaah sudah mendapatkan makanan perjalanan dari hotel yang bisa dimanfaatkan selama menunggu keberangkatan," pungkasnya.

















