Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Klaim Kim Jong Un Sudah Merespons Ajakan Dialognya
Kim Jong-Un Bertemu Presiden Donald Trump di Singapura, 12 Juni 2018. (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Trump mengklaim Kim Jong Un telah merespons ajakan dialog, tanpa mengungkap isi tanggapan tersebut, setelah sebelumnya meragukan laporan bahwa Pyongyang belum menjawab.
  • Trump meminta Pentagon memangkas latihan gabungan AS-Korea Selatan, tetapi Seoul menegaskan latihan tahunan tetap berjalan demi keamanan dan tidak ditujukan menyerang pihak mana pun.
  • Analis menilai pemangkasan latihan lebih mencerminkan memburuknya hubungan Washington-Seoul; hubungan personal Trump-Kim juga dinilai tidak cukup untuk menghentikan program nuklir Korut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku telah menerima tanggapan dari Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un mengenai ajakan untuk berkomunikasi, meski ia tak membeberkan isinya. Pernyataan itu disampaikan Trump di Ruang Oval setelah sebelumnya meragukan pemberitaan yang menyebut Kim belum memberikan jawaban.

"Ya, dia sudah merespons," ujar Trump, dikutip Luxembourg Times, Selasa (18/8/2026).

Langkah diplomatik tersebut muncul setelah Trump secara mendadak meminta Departemen Pertahanan AS (Pentagon) memangkas latihan militer gabungan dengan Korea Selatan (Korsel). Melalui platform Truth Social, Trump menyebut latihan tahunan itu membutuhkan biaya besar dan menjadi sinyal bermusuhan bagi negara yang menurutnya selalu menghormati AS, sekaligus mengaitkannya dengan keengganan Seoul mendukung operasi militer AS di Iran.

1. Latihan AS-Korsel tetap berjalan sesuai rencana

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)

Ketegangan antara AS dan Korsel turut berkaitan dengan kebijakan tarif terhadap produk Seoul serta penolakan negara tersebut untuk membantu operasi di Iran, sementara Washington menempatkan 39 ribu prajurit di sana. Pendekatan terbaru Trump berisiko mengurangi daya tangkal kawasan terhadap lawan seperti China, meski Trump membantahnya dan menyatakan kedekatan personalnya dengan Kim justru membuat kawasan lebih aman.

“Apa yang saya lakukan adalah membuat segalanya lebih aman,” tegas Trump.

Pemerintah Korsel menyatakan latihan tahunan tetap digelar sesuai rencana untuk menjaga keamanan masyarakat dan tak ditujukan untuk menyerang pihak mana pun. Bloomberg News menyebut pihaknya tak memperoleh komentar dari kantor kepresidenan Seoul, sementara Presiden Korsel Lee Jae Myung terus berusaha memperbaiki hubungan dengan Korut meski Pyongyang telah menolaknya sebelum Washington mengakui status nuklir negara tersebut.

2. Hubungan Trump dan Kim mengalami perubahan

Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Hubungan personal Trump dan Kim dinilai tak lagi sehangat ketika Trump menjalani periode kepresidenan pertamanya, saat keduanya bertemu tiga kali sebelum perundingan mengenai senjata nuklir berakhir tanpa kesepakatan pada 2019. Kim Yo Jong, adik Kim, pernah menyatakan hubungan personal antarpemimpin tak dapat digunakan untuk menghentikan program nuklir Pyongyang, sementara Korut kini semakin memperkuat aliansinya dengan Rusia dan China.

Keterlibatan pasukan Korut dalam invasi Rusia ke Ukraina serta pemakaian rudal buatan Pyongyang dalam serangan di Zaporizhzhia turut menunjukkan posisi Korut yang semakin kuat. Mengenai relasinya dengan Pemimpin Korut tersebut, Trump menegaskan bahwa hubungan mereka didasari oleh rasa saling menghormati.

“Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan penuh rasa hormat. Saya memahami dia. Dia memahami saya,” katanya, dilaporkan Al Jazeera.

3. Analis meragukan respons cepat Korut

Bendera Korea Utara (unsplash.com/Mike Bravo)

Analis Center for Strategic and International Studies, Victor Cha, mengatakan kepada Reuters bahwa ia meragukan Korut akan segera memberikan respons dan memperkirakan Pyongyang memilih menunggu. Cha juga menilai keputusan Trump mengangkat kembali isu Korut dapat menjadi upaya mengalihkan perhatian dari perkembangan konflik di Iran, meski keinginan untuk kembali bertemu Kim masih ada.

Analis senior Bloomberg Economics, Adam Farrar, menilai keputusan mendadak memangkas latihan militer lebih mencerminkan memburuknya hubungan AS dengan Seoul dibandingkan membaiknya relasi dengan Pyongyang. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi permulaan tekanan yang lebih luas dan membawa risiko baru bagi aliansi kedua negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article