Wali Kota Israel Tuding Rezim Netanyahu Gagal Lindungi Warga Perbatasan

- Wali Kota Kiryat Shmona, Avichai Stern, menuding pemerintahan Netanyahu gagal melindungi warga perbatasan utara Israel dari serangan Hizbullah dan Iran yang terus meningkat sejak awal Maret 2026.
- Sekitar 19 orang tewas dan lebih dari 5.200 terluka di Israel akibat serangan balasan Iran dan Hizbullah, sementara pemerintah menerapkan pembatasan ketat terhadap informasi kerusakan dan korban.
- Perdana Menteri Netanyahu berjanji memperluas zona penyangga dengan merebut wilayah Lebanon selatan, meski menuai kecaman internasional dan peringatan risiko kehancuran seperti di Gaza.
Jakarta, IDN Times - Avichai Stern, Wali Kota permukiman Israel di bagian utara, Kiryat Shmona, menuding pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal melindungi penduduk yang tinggal di dekat perbatasan Lebanon selama perang berlangsung. Ia bahkan merasa bahwa Israel lah yang justru memerangi mereka, bukan kelompok Hizbullah.
"Tidak peduli bagaimana kita mengakhiri perang di Lebanon atau Iran. Jika kita kehilangan sebuah kota di wilayah Israel, ini akan menjadi yang pertama kalinya," kata Stern dalam forum para direktur kementerian pemerintah pada Rabu (25/3/2026), dikutip dari Anadolu.
Ia menyebutkan bahwa sekitar 10 ribu warga masih bertahan di Kiryat Shmona. Namun, jumlah tersebut diperkirakan akan terus menurun mengingat situasi keamanan yang belum membaik. Sejak 2 Maret 2026, Hizbullah telah meluncurkan roket dan drone ke arah pemukiman Israel di wilayah utara sebagai respons atas perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
“Anda mengharapkan mereka tetap tinggal dalam situasi suram ini selama sebulan, atau bahkan Anda sendiri tidak tahu sampai kapan. Apakah Anda pikir mereka akan tetap tinggal di sana?” ujarnya.
1. Ribuan rumah di Kiryat Shmona tidak memiliki perlindungan dasar

Stern mengatakan bahwa pemerintah Israel belum memberikan perlindungan yang memadai bagi warga sipil di daerah perbatasan. Ia menyebut ada ribuan rumah di Kiryat Shmona yang tidak memiliki perlindungan dasar.
“Saya memiliki 4.700 apartemen tanpa perlindungan, kemenangan Israel yang seperti apa itu? Anda tidak mengirim seorang tentara ke medan perang tanpa rompi pelindung, jadi mengapa menempatkan warga sipil di garis depan tanpa perlindungan?" kritiknya.
Wali kota itu juga membantah klaim bahwa Kiryat Shmona telah menerima pendanaan yang cukup dari pemerintah.
“Apakah saya harus meminta gencatan senjata kepada Hizbullah agar saya bisa mengevakuasi warga dengan helikopter? Apakah saya harus berbicara dengan mereka, bukan dengan negara saya sendiri?” ujarnya dengan nada sarkastik.
2. 19 orang tewas di Israel akibat serangan balasan Iran dan Hizbullah

Menurut pihak berwenang Lebanon, serangan Israel di negara tersebut telah menewaskan 1.094 orang dan melukai 3.119 lainnya sejak awal Maret. Selain itu, konflik ini juga telah menyebabkan lebih dari 1 juta warga mengungsi.
Sementara itu, otoritas Israel melaporkan bahwa serangan balasan oleh Iran dan Hizbullah telah menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai 5.229 lainnya di Israel, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai kerugian tambahan.
Israel diketahui menerapkan pembatasan ketat terhadap informasi terkait dampak serangan Iran dan Hizbullah. Militernya menerapkan kontrol ketat terhadap media dan melarang publikasi rekaman yang menampilkan rusakan atau lokasi yang menjadi sasaran.
3. Netanyahu berjanji untuk merebut wilayah di Lebanon

Dilansir dari The New Arab, Netanyahu menyatakan bahwa Israel akan mengambil alih wilayah-wilayah baru di Lebanon selatan demi memperluas zona penyangga (buffer zone).
“Kami bertekad untuk secara mendasar mengubah situasi di Lebanon,” katanya dalam sebuah video yang dipublikasikan pada Rabu.
Pernyataan tersebut disampaikannya sehari setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa pasukan Israel akan terus menduduki wilayah Lebanon di selatan Sungai Litani setelah perang berakhir. Tokoh-tokoh garis keras dalam pemerintahan Israel, seperti Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, bahkan mendesak Israel untuk mencaplok wilayah tersebut untuk dijadikan permukiman Yahudi.
Kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa Israel dapat menimbulkan kehancuran seperti yang terjadi di Gaza di wilayah Lebanon. Mereka pun mendesak komunitas internasional untuk melindungi warga sipil di sana.
“Model Gaza tidak boleh diterapkan di Lebanon,” kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Sementara itu, Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem menolak adanya perundingan gencatan senjata apa pun dengan Israel. Ia mengatakan bahwa negosiasi di tengah konflik sama saja dengan menyerah.
“Ketika perundingan dengan musuh Israel diusulkan dan mendapat kecaman, ini merupakan pemaksaan untuk menyerah,” kata Qassem.


















