Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno mengungkapkan Indonesia bukan negara baru dalam menghadapi kompleksitas geopolitik internasional. Menurutnya, rivalitas geopolitik Asia Timur yang semakin dipengaruhi rivalitas kekuatan besar.
Dalam kuliah tamu yang digelar Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Senin (25/5/2026), bertajuk ‘Dinamika Geopolitik Asia Timur di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar’ Wamenlu Havas memperluas pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan geopolitik Asia Timur dan dampaknya terhadap ASEAN serta posisi Indonesia di tengah persaingan global.
Menurutnya, pengalaman sejarah sejak era Perang Dingin menjadi bekal penting bagi Indonesia dalam menghadapi situasi global saat ini. Ia mengingatkan sejak Konferensi Asia Afrika 1955, Indonesia telah berada di tengah pertarungan kepentingan negara-negara besar.
Saat itu, dunia sedang terbelah oleh rivalitas ideologi Barat dan Timur yang memengaruhi hubungan internasional.
“Pada 1955, ketika dunia berada dalam situasi Perang Dingin, Indonesia sudah harus berhadapan dengan pertarungan kepentingan negara-negara besar, konflik ideologi Barat dan Timur, hingga dinamika geopolitik global yang rumit,” ujar Havas.
Menurutnya, tantangan geopolitik yang dihadapi saat ini memang berbeda, tetapi Indonesia dinilai memiliki kesiapan yang lebih baik dibanding masa lalu.
