Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

China Diduga Gunakan AI Buatan AS demi Perkuat Teknologi Militer

China Diduga Gunakan AI Buatan AS demi Perkuat Teknologi Militer
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
Intinya Sih
  • Peneliti dan lembaga pertahanan China diduga memakai keluaran AI AS, termasuk OpenAI dan Anthropic, untuk mendistilasi kemampuan model canggih ke sistem domestik.
  • Teknik distilasi digunakan untuk analisis kode militer, pemantauan media, pengolahan data sensitif, serta AI ringan pada drone dan simulasi operasi maritim.
  • Ahli menilai distilasi meningkatkan efisiensi dan kontrol lokal, tetapi model hasilnya tidak sepenuhnya meniru kecerdasan luas sistem AI frontier.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Peneliti militer China diduga menggunakan keluaran model kecerdasan buatan (AI) terkemuka asal Amerika Serikat (AS), seperti OpenAI dan Anthropic, untuk mengembangkan sistem pertahanan dalam negeri. Berdasarkan analisis makalah akademik dan paten yang dihimpun Jamestown Foundation serta dilaporkan The Independent melalui tinjauan Reuters, mereka berulang kali menerapkan teknik model distillation dengan memanfaatkan jawaban beserta penalaran langkah demi langkah dari model AI canggih ke model yang lebih kecil dan spesifik.

Metode tersebut membuat model baru mampu menguasai kemampuan tertentu tanpa perlu membangun sistem dari awal dengan kebutuhan komputasi yang besar. Fellow di Jamestown Foundation, Sunny Cheung, menyebut temuan dari lebih dari 60 makalah akademik itu memperlihatkan adanya upaya terkoordinasi untuk memindahkan proses penalaran bernilai tinggi dari sistem AI Barat.

“Mengajarkan model jawaban yang benar adalah satu hal, tetapi mengajarkan alasan di balik jawaban itu jauh lebih sulit,” kata Cheung, dikutip The Independent.

1. Lembaga pertahanan China menerapkan teknik distilasi AI

ilustrasi logo Open AI (pexels.com/Andrew Neel)
ilustrasi logo Open AI (pexels.com/Andrew Neel)

Teknik tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan militer, mulai dari pengolahan data sensitif hingga pemantauan media. Tinjauan Reuters terhadap lebih dari 80 publikasi akademik dan paten China yang diinformasikan NDTV menunjukkan lembaga pertahanan China memanfaatkan model AI canggih AS sebagai sumber pengetahuan teknis sekaligus cara memperkecil selisih kemampuan. Pejabat AS menilai praktik itu berpotensi melemahkan kontrol ekspor dan perlindungan kekayaan intelektual, sedangkan Pemerintah China membantah tuduhan tersebut serta menyatakan perusahaan AS juga memakai metode serupa.

Sejumlah lembaga militer China juga diketahui menggunakan model AI tertentu untuk mendukung operasinya. Salah satu makalah dari Unit Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) 96941, unit intelijen militer dan perang siber yang berbasis di Beijing, memaparkan penggunaan GPT-3.5 milik OpenAI guna menganalisis kode perangkat lunak militer sebelum pengetahuannya dipindahkan ke model domestik yang berjalan di jaringan tertutup, sedangkan peneliti North University of China memakai Claude 3 Haiku milik Anthropic untuk menghasilkan data pelatihan sistem pemantauan media sosial dan moderasi konten.

Anthropic menyatakan mereka tak menyediakan akses komersial Claude di China maupun kepada perusahaan yang dikendalikan Beijing. Perusahaan itu juga mengandalkan sistem pendeteksi pelanggaran kebijakan serta mengingatkan bahwa model hasil distilasi dapat kehilangan perlindungan keselamatan yang penting.

2. Peneliti China mengembangkan AI ringan untuk perangkat militer

ilustrasi perakitan chip China (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
ilustrasi perakitan chip China (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Selain dipakai untuk analisis data, teknik model distillation juga dimanfaatkan agar sistem AI dapat berjalan pada perangkat dengan kemampuan komputasi terbatas. Makalah dari National University of Defense Technology milik PLA menjelaskan metode tersebut digunakan untuk mengecilkan model pengenalan gambar sehingga video langsung bisa diproses di atas pesawat tanpa awak (drone) tanpa bergantung pada komunikasi eksternal, sementara Academy of Military Sciences China menggambarkan penerapannya dalam simulasi operasi maritim yang melibatkan drone, kapal perang, dan kapal selam tanpa awak.

Pemerintah China juga mendorong pengembangan model AI ringan serta komputasi tepi (edge computing) di tengah pembatasan ekspor chip kelas tinggi dari AS. Pendanaan dan subsidi diarahkan agar sistem AI tetap dapat beroperasi pada perangkat keras militer, termasuk drone dan satelit yang memiliki kapasitas pemrosesan terbatas.

3. Ahli menyoroti keterbatasan teknik distilasi AI

iluatrasi AI
Ilustrasi AI (pexels.com/Tara Winstead)

Sejumlah ahli menilai teknik distilasi AI memang meningkatkan efisiensi, tetapi memiliki keterbatasan dalam menghasilkan sistem yang sepenuhnya mandiri.

“Ini paling baik dipahami sebagai memindahkan kemampuan terpilih ke dalam sistem yang lebih murah dan dikendalikan secara lokal, bukan mencapai kemandirian dari AI frontier,” kata Co-founder perusahaan data AI Sapien, Trevor Koverko.

Ia menambahkan bahwa model hasil distilasi tidak dapat sepenuhnya meniru kecerdasan luas dari sistem frontier dan hanya mewarisi karakteristik tertentu. Makalah yang diterbitkan Army Engineering University membahas risiko teknik data-free distillation, metode merekayasa balik kemampuan model tanpa perlu mengakses parameter mendasar secara langsung, sekaligus mengusulkan cara menyembunyikan informasi logis tersebut. Pada sisi lain, startup AI China Moonshot membantah sistem Kimi K3 dikembangkan melalui distilasi, sementara Gedung Putih, Pentagon, OpenAI, Kementerian Luar Negeri China, serta pihak PLA belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait isu tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More