Kadis Damkar DKI: Petugas Gugur Hanya Ditugaskan Monitor Sumber Air

- Petugas Damkar DKI Andriyono meninggal saat bertugas sebagai komandan regu, dengan peran memantau ketersediaan dan tekanan sumber air, bukan memadamkan api di garis depan.
- Penugasan Andriyono disesuaikan dengan riwayat penyakit jantung sejak Desember 2025 dan pemasangan ring pada Februari 2026, sehingga ia ditempatkan pada tugas berisiko lebih rendah.
- Saat mencari sumber air dalam operasi kebakaran Sabtu, Andriyono mengeluhkan nyeri dada ketika menyambungkan selang; setelah pertolongan dan resusitasi, ia dinyatakan meninggal pukul 13.30 WIB.
Jakarta, IDN Times – Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, Bayu Meghantara, mengatakan, petugas Damkar DKI Jakarta, Andriyono, yang meninggal dunia saat bertugas sebagai komandan regu (Danru), tidak ditugaskan memadamkan api secara langsung.
Bayu mengatakan, tugas Andriyono saat itu adalah memantau ketersediaan sumber air dan memastikan pasokan air bagi petugas yang berada di garis depan tetap mencukupi.
"Dia memonitor anggota yang terkait dengan kesiapan sumber air karena bagaimanapun sumber air menjadi pasokan utama kami. Penugasannya hanya memonitor sumber air, tidak langsung menghadapi situasi kebakaran," ujar dia di Balai Kota, Senin (3/8/2026).
1. Andriyono punya riwayat jantung

Dia mengatakan, Andriyono memiliki riwayat penyakit jantung sejak Desember 2025. Andriyono kemudian menjalani pemasangan ring jantung pada Februari 2026.
"Dia merasakannya di Desember tahun 2025 dan Februari 2026 itu pasang ring. Makanya saat ini kondisinya sudah cukup baik, maka penugasannya kami tugaskan untuk memonitor terkait sumber air. Dia tugasnya hanya itu, jadi kami tidak tugaskan dia di situasi penyerangan," kata Bayu.
2. Penugasan hanya monitor air

Dia mengatakan, penugasan Andriyono sebenarnya sudah disesuaikan dengan kondisi medisnya. Oleh karena itu, Andriyono ditempatkan pada tugas yang dinilai memiliki risiko lebih rendah dibandingkan petugas yang berada di titik pemadaman.
"Contohnya Pak Andriyono itu sebenarnya sudah terpetakan. Jadi tentu penugasannya penugasan yang simpel. Hanya memonitor kecukupan sumber air menggunakan HT dan memastikan tekanan air mencukupi. Jadi tidak langsung berhadapan dengan situasi kebakaran," kata Bayu.
3. Korban sempat nyeri di dada

Dia mengatakan, insiden kebakaran dilaporkan terjadi pada pukul 07.02 WIB, Sabtu (1/8/2026). Dinas Gulkarmat kemudian mengerahkan 10 unit mobil pemadam beserta 50 personel ke lokasi.
Bayu menjelaskan, Andriyono saat itu bertugas mencari sumber air untuk mendukung operasi pemadaman dan tidak berada di titik penyerangan api.
"Ketika menyambungkan selang, korban tiba-tiba mengeluhkan nyeri dada. Rekan kerja kemudian segera meminta bantuan medis," kata dia.
Bayu mengatakan, rekan korban segera memberikan pertolongan pertama sebelum mengevakuasinya ke Rumah Sakit Harapan Bunda.
"Tim medis sempat melakukan resusitasi jantung paru (RJP), namun Andriyono dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.30 WIB," ujar Bayu.


















