Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kekacauan di Iran yang Meresahkan

bendera Iran dalam peringatan Revolusi Iran, pada 11 Februari 2016 (commons.wikimedia.org/Mohammad Akhlaghi)
bendera Iran dalam peringatan Revolusi Iran, pada 11 Februari 2016 (commons.wikimedia.org/Mohammad Akhlaghi)
Intinya sih...
  • Demonstrasi besar-besaran di Iran dilancarkan anak muda, pria dan wanita yang tidak pusas terhadap pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.
  • Korban meninggal dunia akibat demonstrasi meningkat menjadi 16.000 orang, keluarga Syah Iran meminta Presiden Trump mengirimkan militer untuk meredakan kekacauan.
  • Pimpinan militer Iran Jenderal Amir Hatami dikabarkan mengambil alih kekuasaan, sementara Ayatollah Ali Khamenei kabur ke Moskow minta perlindungan dari Presiden Putin.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Beberapa waktu lalu demonstrasi besar-besaran di Teheran dan berbagai kota lain di Iran meledak, dilancarkan anak-anak muda, pria dan wanita yang sudah kesal terhadap pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei yang menjawab protes dengan cara yang brutal. Dalam singkat disebutkan korban meninggal dunia meningkat dari 3.000 orang menjadi 16.000 orang.

Di lain pihak para pemimpin agama merasa disepelekan, bahkan perempuan di sana mulai menanggalkan aturan memakai jubah dan kerudung. Di saat yang bersamaan keluarga Syah Iran Pahlavi diberitakan meminta Presiden Trump mengirimkan militer untuk meredakan kekacauan, meskipun belum ada jawaban positif. Dalam pada itu diberitakan pula bahwa pimpinan militer Iran Jenderal Amir Hatami dikabarkan mengambil alih kekuasaan dan dalam kekalutan ini Ayatollah Ali Khamenei kabur ke Moskow, minta perlindungan dari Presiden Putin.

Suatu perbedaan yang jelas antara Ayatollah Ruhollah Khomeini yang melawan pemerintahan Syah Reza Pahlavi lari ke Perancis untuk menggalang kekuatan menyiapkan Revolusi Islam yang nantinya berhasil dilakukan menggulingkan kekuasaan dinasti Pahlavi, ini terjadi di tahun 1979. Ayatollah Khomeini diganti Ayatollah Ali Khamenei tahun 1992. Tetapi waktu tidak bisa menguasai keadaan Ayatollah Khamenei lari minta suaka ke Moskow, kepada Presiden Vladimir Putin. Bagaimana semua ini akan berakhir belum jelas, tetapi semoga tidak akan menelan korban orang meninggal lagi apapun hasil akhirnya.

Yang jelas kelihatan adalah generasi muda tidak bisa lagi menerima aturan ketat dari para pemimpin agama tentang cara berpakaian dan yang lain, dan sebaliknya dengan para pemimpin agama Islam Syiah yang sangat keras tersebut, karena itu susah didamaikan. Apakah pemerintahan militer di bawah Jenderal Hatami akan menghasilkan solusi yang bisa diterima semua pihak? Kita tunggu, semoga demikian, korban manusia sudah terlampau banyak, dan kekacauan ini bisa menjalar ke negara lain, itu yang meresahkan.

Sangat menarik dinamisme perkembangan politik di Iran dari kekuasaan Syah Reza Pahlavi sampai sekarang di bawah Jenderal Hatami. Pengaruh Islam Syiah, agama resmi Republik Islam Iran sejak dinasti Pahlavi tumbang, tidak seluas Sunni.

Yang jelas di AS sekarang Wali Kota New York Zohran Mamdani adalah seorang penganut muslim aliran Syiah dengan kiblat politiknya sosial demokrat. Yang saya tahu hanya bahwa seorang muslim syiah kalau sembahyang lima waktu tidak berkiblat ke Mekah, tetapi kepada batu yang berasal dari Karbala, diletakkan di depan sajadahnya. Juga ada suatu ritual untuk memperingati Imam Husein ibnu Ali yang mati syahid di kota Karbala, orang syiah memperingatinya dengan mencambuk bagian belakang tubuhnya.

Saya secara pribadi mempunyai perhatian khusus kepada Iran dan Irak, karena waktu menjabat Menteri Muda Perdagangan di Kabinet Pembangunan kedua Presiden Soeharto saya menggalang perdagangan imbal beli dengan kedua negara tersebut, membeli minyak mentah dari mereka untuk minyak tanah dan menjual berbagai produk ekspor seperti teh, kopi, tekstil dan garmen.

Tetapi sebagai orang moneter saya tidak melupakan jasa perbankan, minta bank-bank komersial ikut serta membiayai transaksi dagang kita, sehingga membuat para eksportir melakukan kegiatan ekspor biasa saja. Yang jelas semua pihak senang karena memperoleh manfaat dari trik ini. Waktu Menteri Perdagangan Irak mengatakan bahwa saya harus pilih antara kurma, hasil utama Irak atau pistachio hasil Iran, saya dengan enteng menjawab saya suka keduanya, kurma maupun pistachio, jadi kedua negara merasa saya hormati. Ya, pedagang harus bisa jual kecap. Enak juga makan ikan bakar di tepi Sungai Tigris (Euphrate) sambil guyonan, padahal sebelumnya saya hanya tahu karena baca Kitab Suci Bible.

Keuntungan tambahan dari diplomasi dagang imbal beli ini saya di Bagdad pada suatu kesempatan pernah berjabatan tangan dengan Saddam Husein, terus terang orangnya charming tidak nampak kejam. Di Iran selain Teheran saya berkunjung ke Qom, masuk Masdjid Agung di mana Ayatollah Khomeini dimakamkan, saya bisa membedakan karpet dari Ishafan yang cantik dengan lukisan yang enak dipandang mata, beda dengan carpet Qom yang agak hambar, hanya hitam dan merah tok.

Saya juga merasa bahwa counterpart saya Mendag Iran, kayaknya semula melihat saya menjadi merasa superior, karena saya masih tampak muda dan belum berpengalaman. Saya pikir ya dia merasa berdarah Arya, jadi merasa super. Sedagkan Mendag Irak biasa saja, juga perempuan Irak berpakaian lebih bebas, yang tidak demikian di Iran waktu itu.

Akhirnya mengenai konflik antara anak-anak muda dan para imam, semoga cepat dicapai kesepakatan yang menyejukkan dan tidak menambah korban nyawa lagi yang seolah meninggal percuma. Siapa tahu di bawah Jenderal Hatami mereka bisa berdamai untuk seterusnya. (Dradjad, 28/01/2026).

Guru Besar Ekonomi Emeritus, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEBUI), Jakarta.

Share
Topics
Editorial Team
Umi Kalsum
EditorUmi Kalsum
Follow Us

Latest in Opinion

See More

Kekacauan di Iran yang Meresahkan

01 Feb 2026, 11:33 WIBOpinion
ilustrasi kuliah

Benarkah Kuliah Itu Scam?

20 Jan 2026, 12:41 WIBOpinion