Penulis opini adalah Guru Besar Ekonomi Emeritus, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEBUI), Jakarta
Apa yang dapat saya simak mengenai komentar tentang peringatan Tahun Baru Imlek 2026 dari para tokoh ahli? Sebut saja Veronica Tan (Wamen PPPA yang juga Wakil Ketua Panitia Nasional Perayaan Imlek), Irene Umar (Wamen Ekonomi Kreatif), Azmi Abubakar (Ketua Perhimpunan Masyarakat Tionghoa Aceh), dan Monica Tanuhandaru (Ketua Yayasan Bamboo Foundation).
Dimulai dengan pernyataan pembuka dari Wamen PPPA yang menggambarkan bahwa di kebanyakan keluarga, makan malam bersama selalu merupakan forum di mana orang tua memberikan berbagai wejangan tentang nilai-nilai luhur kepada putra-putrinya. Sebaliknya, itu juga waktu bagi putra-putri menyampaikan pertanyaan atau usulan kepada orang tua mereka.
Suatu kebiasaan yang sangat bagus dan menjadi tradisi, yang dewasa ini serasa mulai ditinggalkan. Kita semua sering melihat pemandangan ini: waktu makan malam di restoran, di meja sebelah tampak suatu keluarga bahagia—bapak, ibu, dan dua putra-putrinya bersantap bersama. Namun, bukannya saling berbicara satu sama lain, mereka semua malah sibuk dengan HP masing-masing. Sibuk mengirim atau membaca pesan, dan tidak memperhatikan keluarga sendiri yang duduk di depan serta di sebelahnya.
Sangat disayangkan, bukan? Kesempatan emas untuk berdiskusi dalam keluarga diabaikan, diganti berkomunikasi dengan pihak lain melalui pesan WA. Ini adalah suatu tantangan bagi semua keluarga agar bisa menumbuhkan kembali kebiasaan lama; menggunakan waktu makan malam bersama sebagai ajang silaturahmi untuk lebih mempererat tali persaudaraan yang bermula dari hubungan darah.
