O namanya, seekor monyet betina yang berambisi menikahi Kaisar Dangdut. Ia nekat menerjang rimba beton Jakarta yang lebih ganas dari hutan mana pun demi bersua Entang Kosasih, Kaisar Dangdut yang diyakini perwujudan sang kekasih.
O bukan sekadar monyet yang lihai meniru. Ia adalah pengamat yang terluka. Dengan belenggu di lehernya, O memperhatikan cara pawang mengancingkan kemeja, atau bagaimana manusia berlaga.
“Entang Kosasih monyetku pernah bilang ia akan menjadi manusia, dan setiap kali aku melihat Kaisar Dangdut, aku merasa ia kekasihku. Ia menungguku.” O - Eka Kurniawan
O boleh jadi mengalami krisis eksistensi akut, ia jatuh cinta pada sebuah mitos urban yang absurd, bahwa monyet akan bertransformasi menjadi manusia selama mengerti etika dan budi. Sayangnya, O justru mendapati dunia manusia sebagai sirkus kekacauan: perebutan kekuasaan, penghambaan nafsu, pemujaan citra. Melalui narasi ini, Eka Kurniawan menggambarkan perilaku manusia seringkali didorong oleh insting dasar yang tak jauh berbeda dengan hewan. Istilah "manusia" dalam prosa ini menjadi sebuah konstruksi sosial yang rapuh dan penuh kepalsuan.
Jalan yang ditempuh O untuk menjadi manusia seringkali buntu, terjebak dalam nasib yang berputar, berakhir kembali ke titik nol. Sebuah kesia-siaan ambisi yang tidak realistis. Pola pengulangan nasib ini seakan mengisyaratkan makna namanya, O, yang erat kaitannya dengan konsep sirkularitas atau siklus yang tak berujung.
"Itu untuk mengingatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran. Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O"
"O" secara linguistik merupakan sebuah huruf, dan secara fonetik hanyalah sebuah bunyi vokal. Dengan "O", Eka Kurniawan membentuk identitas yang paling minimal, meletakkan posisi tokoh sebagai "liyan" atau makhluk yang belum sepenuhnya memiliki identitas sosial. Selain itu, "O" serupa 0 (nol) melambangkan ketiadaan atau titik terendah dalam strata sosial. Kehampaan identitas ini adalah sebuah alegori mengenai stratifikasi sosial, menggambarkan perjuangan kelas bawah dalam usahanya memanjat tangga sosial demi sebuah status yang dianggap lebih mulia.
Kontras dengan simbolisme nama O sebagai lambang titik identitas paling sunyi, narasi dalam prosa ini justru riuh dengan polifonik di mana banyak suara dan fragmen cerita (manusia, polisi, pedangdut, hingga monyet) saling berkelindan. Polifoni memungkinkan Eka memberikan "suara" pada karakter dari berbagai kelas sosial tanpa dominasi narator. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk memahami konflik dari beragam perspektif yang berbenturan, menunjukkan kompleksitas dinamika sosial.
Teknik polifoni ini pada akhirnya bermuara pada kemunculan tokoh Kaisar Dangdut yang menjadi simbol dari dominasi budaya massa. Ia adalah representasi sosok mesianik, juru selamat dalam angan kolektif tokoh-tokohnya, yang menjanjikan transformasi hidup tetapi semu.
"Entang Kosasih berhasil menjadi manusia, dan sekarang ia Kaisar Dangdut yang dipuja semua manusia di negeri"
Transformasi monyet menjadi manusia merupakan bentuk realisme magis berupa mitos urban. Oleh Eka, realisme magis berfungsi sebagai instrumen untuk menyampaikan absurditas kehidupan modern, berupa ambisi manusia yang sering kali tak masuk akal.
Eksplorasi terhadap simbol-simbol dan realitas sosial dalam prosa ini mempertegas gagasan, bahwa identitas dan segala atribut yang disandang manusia bersifat rapuh. Pada akhirnya, Eka Kurniawan mengajarkan kepada pembaca untuk memahami manusia secara utuh, meski harus melihatnya dari perspektif seekor monyet. Novel ini adalah sebuah tesis imajinatif bahwa batas antara peradaban dan keliaran sebetulnya setipis kulit pisang.
![[OPINI] Kritik Eksistensialis Eka Kurniawan dalam Novel O](https://image.idntimes.com/post/20260414/img_20260414_101621_2eeabc49-bb57-4058-84c6-ad8fc19ed18f.png)