Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Fakta Asamkirche, Gereja Bergaya Barok yang Menakjubkan di Munich
potret fasad gereja St. Yohanes Nepomuk atau yang lebih dikenal dengan Asamkirche di Kota Munich, Jerman (commons.wikimedia.org/Lämpel)
  • Asamkirche, Gereja St. Yohanes Nepomuk di Munich, dibangun Egid Quirin dan Cosmas Damian Asam pada 1733–1746 sebagai kapel pribadi kecil bergaya Barok akhir.
  • Interior gereja terbagi tiga tingkat teologis, dari area gelap simbol penderitaan duniawi hingga langit-langit terang bagi Tuhan; bangunan ini juga memiliki bilik pengakuan dosa dan menggelar misa rutin.
  • Fresko trompe-l'œil karya Cosmas Damian menggambarkan kehidupan St. Yohanes Nepomuk; gereja rusak akibat pengeboman 1944 lalu direstorasi bertahap, termasuk interior pada 1975–1983.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gereja St. Yohanes Nepomuk atau yang lebih dikenal sebagai Asamkirche (Gereja Asam dalam bahasa Jerman) adalah sebuah gereja Katolik Roma yang berada di kota Munich, Bavaria, Jerman. Gereja tersebut berada dalam wilayah yuridiksi gerejawi Keuskupan Agung Munich dan Freising. Terkenal dengan nama Asamkirche atau Gereja Asam karena dibangun oleh 2 orang seniman bersaudara bernama: Egid Quirin Asam (1692-1750), seorang pemahat dan Cosmas Damian Asam (1686-1739), seorang pelukis. Asamkirche dibangun pada tahun 1733 hingga 1746, memiliki ukuran kecil dengan panjang 28 m dan lebar 8 m, karena awalnya hanya ingin dipergunakan sebagai kapel pribadi pembuatnya.

Gereja ini dianggap sebagai salah satu bangunan terpenting bergaya Barok akhir di wilayah Jerman selatan. Menurut laman Victoria and Albert Museum, Gaya Barok adalah sebuah gaya seni dan arsitektur yang penuh dengan ornamen detail rumit dan dramatis yang berkembang di seluruh Eropa dan dunia dari abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18. Berbeda dengan seni Renaisans yang menekankan keseimbangan, desain Barok menggunakan gestur yang dinamis dan ekspresi yang intens. Gaya ini memadukan seni lukis, patung dan arsitektur ke dalam satu desain yang megah untuk menyampaikan pesan emosional yang kuat.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai gereja yang dianggap sebagai hidden gem di Kota Munich ini? Simak 4 fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Awalnya dibangun untuk kapel pribadi

Menurut laman Atlas Obscura, awalnya Asamkirche dibuat oleh seniman Asam bersaudara sebagai kapel pribadi dan tempat retret spiritual yang megah dan kaya dengan ornamen dekorasi spiritual untuk mereka sendiri. Karenanya bangunan religius tersebut hanya memiliki ukuran kecil dan tak mengikuti pola umum sebagaimana katedral atau gereja Katolik bersejarah yang banyak terdapat di Eropa. Salah satu contohnya, seluruh bangunan beserta altar utama di Asamkirche ini menghadap ke barat bukan ke arah timur sebagaimana lazimnya dalam tata liturgi tradisional gereja Katolik.

Di antara ornamen emas, mosaik dan lukisan dinding yang indah terselip satu ornamen yang menyeramkan, sebuah patung berlapis emas dekat pintu masuk yang menampilkan sosok berwujud kerangka memegang gunting yang siap memutus benang kehidupan seseorang yang juga mengingatkan akan pertobatan. Semua ornamen dekorasinya memiliki detail yang luar biasa. Dalam perkembangan waktu, masyarakat umum juga ingin bisa mengakses bangunan religius tersebut hingga akhirnya kapel pribadi tersebut dibuka untuk umum karena tingginya minat masyarakat. Kapel pribadi tersebut dibuka untuk umum saat kedua Asam bersaudara tersebut masih hidup.

2. Interiornya dibagi dalam 3 tingkatan

potret interior Asamkirche dengan ornamen dekorasinya yang menakjubkan (commons.wikimedia.org/Andrew Bossi)

Dilansir laman Munich travel, interior gereja dibagi dalam 3 tingkatan yang menggambarkan konsep tingkatan teologis. Area tempat duduk umat atau pengunjung gereja cenderung bernuansa gelap dan suram, yang melambangkan penderitaan duniawi. Kemudian semakin tinggi pandangan diarahkan, dalam artian tingkat teologis yang semakin dekat dengan surga, suasana gereja pun bernuansa semakin terang. Tingkatan tengah gereja dihiasi dengan warna putih dan biru, serta dikhususkan bagi penguasa atau Raja di masa lalu. Hal tersebut mencerminkan hierarki feodal pada masa silam, yang menempatkan Raja di atas rakyat.

Tingkat paling atas yang dihiasi lukisan fresko di langit-langitnya yang bermandikan cahaya dari cahaya alami yang masuk dari jendela-jendela yang dibuat tersembunyi dipersembahkan bagi Tuhan dan keabadian. Altar utama gereja ini dibingkai oleh 4 pilar spiral yang terinspirasi dari 4 pilar (siborium) karya seniman era Barok, Bernini yang berada di atas makam St. Petrus di Basilika St. Petrus, Vatikan. Asamkirche ini dirancang sebagai tempat pelaksanaan sakramen pengakuan dosa sehingga dilengkapi dengan beberapa bilik pengakuan dosa. Misa rutin juga masih dilakukan di gereja ini.

3. Fresko langit-langitnya dilukis dengan metode Trompe-l'œil

potret lukisan fresko di langit-langit Asamkirche (commons.wikimedia.org/Berthold Werner)

Salah satu karya seni yang menakjubkan di gereja ini adalah lukisan fresko di langit-langitnya. Lukisan fresko sendiri adalah seni mural kuno di mana seniman menimpa pigmen warna langsung pada plester dinding atau langit-langit yang masih basah sehingga ketika plester tersebut kering, pigmen warna turut menyatu dan dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama. Lukisan fresko di langit-langit Asamkirche ini dibuat dengan teknik ilusi optik Trompe-l'œil. Menurut laman The Art league, teknik Trompe-l'œil bertujuan untuk mengecoh mata agar mengira obyek 2 dimensi terlihat seperti benda 3 dimensi yang nyata atau hidup pada permukaan datar.

Lukisan Fresko yang dramatis di langit-langit Asamkirche ini dibuat oleh Cosmas Damian Asam antara tahun 1733 hingga tahun 1735. Sebagaimana diinformasikan dalam laman The Alternative Guide, lukisan fresko yang membentang di seluruh bagian tengah menceritakan kehidupan pelindung gereja, St. Yohanes Nepomuk. Karya teatrikal tersebut memandu visual penonton, di kedalaman fresko, dunia terselubung dalam bayangan, sementara pada puncaknya malaikat muncul dari awan bercahaya surgawi yang menciptakan puncak kemegahan Ilahi. Cahaya matahari yang masuk menerangi fresko dari jendela yang tersembunyi turut menambah vibes dramatis.

4. Sempat mengalami kerusakan di era Perang Dunia II

potret pemandangan Kota Munich, Jerman setelah PD II di tahun 1945 (kiri) dan setelah direstorasi di tahun 1989 (kanan) (commons.wikimedia.org/ F McGady)

Di era Perang Dunia (PD) II yang terjadi di tahun 1939 hingga 1945 di Eropa, sejumlah kota besar di Jerman yang menjadi pusat militer dan industrinya, termasuk Kota Munich menjadi target utama pengeboman udara yang dilakukan oleh Sekutu untuk melumpuhkan kekuatan Nazi Jerman dan mengakhiri peperangan di Eropa sesegera mungkin. Sejumlah bangunan bersejarah di Jerman turut terdampak oleh perang terbesar dalam sejarah peradaban manusia tersebut, termasuk Asamkirche. Sejumlah sumber sejarah menuliskan, pada pengeboman udara Sekutu di tahun 1944 atas Kota Munich, Jerman, mengakibatkan bagian paduan suara (choir) Asamkirche dan struktur bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan parah.

Sebagian kerangka atap gereja runtuh serta sejumlah ornamen dekorasi interior gereja yang bersejarah turut rusak akibat pengeboman tersebut. Setelah perang berakhir, Asamkirche direnovasi dan direstorasi secara bertahap. Restorasi interior skala besar dilakukan pada tahun 1975 hingga 1983 dengan memanfaatkan studi terhadap sumber-sumber lama untuk membangun kembali area paduan suara sedekat mungkin dengan tampilan aslinya. Fasad gereja juga direnovasi untuk menyempurnakan pemulihan bangunan bersejarah tersebut.

Bagaimana apakah kamu tertarik untuk mengunjungi Asamkirche, hidden gem di Kota Munich ini, ketika nanti ada kesempatan untuk berwisata ke Jerman?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article