Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Kucing Tidak Mengeong kepada Sesama Kucing?

7 min read
Mengapa Kucing Tidak Mengeong kepada Sesama Kucing?
ilustrasi dua ekor kucing (pexels.com/mraqieb)
  • Mengeong bermula sebagai panggilan anak kucing kepada induknya saat terpisah atau tidak nyaman, lalu tetap digunakan kucing peliharaan karena manusia meresponsnya dengan makanan, perhatian, atau bantuan.

  • Dalam komunikasi antarkucing, bahasa tubuh dan aroma lebih dominan, termasuk posisi telinga, ekor, postur, feromon, serta penandaan wilayah untuk menyampaikan kondisi dan keberadaan dari jarak aman.

  • Vokalisasi antarkucing tetap muncul pada situasi tertentu: anak dengan induknya, pencarian pasangan, atau ancaman melalui yowl, desisan, dan geraman; karakter suara kucing liar dan rumahan juga berbeda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kucing dikenal sebagai hewan yang cukup vokal saat berinteraksi dengan manusia. Mereka bisa mengeong ketika meminta makan, menyapa pemiliknya, atau sekadar mencari perhatian. Namun, coba perhatikan ketika dua kucing bertemu. Alih-alih saling mengeong seperti saat berkomunikasi dengan manusia, mereka justru lebih sering menggunakan bahasa tubuh, suara desisan, atau gerakan tertentu.

Hal ini bukan berarti kucing tidak bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Justru, kucing memiliki berbagai cara untuk menyampaikan informasi kepada kucing lain, mulai dari posisi telinga dan ekor hingga aroma tubuh. Lalu, mengapa suara mengeong yang begitu akrab bagi manusia justru jarang digunakan saat kucing berinteraksi dengan sesamanya?

  1. 1. Awal mula suara mengeong

    Anak kucing mengeluarkan suara tangisan saat mereka terpisah dari induknya atau mengalami ketidaknyamanan. Dalam sebuah studi observasional dan eksperimental terhadap delapan kelompok anak kucing, para peneliti menemukan bahwa vokalisasi anak kucing berubah sebagai respons terhadap isolasi, suhu dingin, dan pengekangan, serta seiring bertambahnya usia selama enam minggu pertama kehidupannya. Suara-suara ini membantu anak kucing yang masih bergantung pada induknya untuk menarik perhatian ketika mereka tidak dapat mengatasi masalah tersebut sendiri. (Animal Behaviour, 1979)

    Seiring kucing beranjak dewasa, komunikasi dengan sesama kucing lebih banyak mengandalkan aroma dan bahasa tubuh, sementara kebiasaan mengeong layaknya anak kucing menjadi kurang dominan dalam interaksi dengan sesama kuxing. Kendati demikian, banyak kucing peliharaan tetap menggunakan suara mengeong saat berinteraksi dengan manusia hingga mereka dewasa. Hal ini merupakan kecenderungan umum pada hewan yang hidup bersama manusia untuk mempertahankan perilaku masa muda yang membuahkan respons bermanfaat. 

    Transisi ini mungkin bermula saat anak kucing memasuki rumah baru. Ketika anak kucing pindah ke rumah baru, ia akan mencoba menggunakan suara yang sama kepada manusia di sekitarnya. Saat manusia merespons dengan memberikan makanan, kehangatan, perhatian, atau membukakan pintu, ini membuat anak kucing terus menggunakan suara tersebut.

  2. 2. Bagaimana kucing menyesuaikan suaranya untuk hidup bersama manusia

    Selama ini, asal-usul kucing peliharaan sering dikaitkan dengan munculnya permukiman pertanian. Saat manusia mulai menyimpan biji-bijian, tikus dan hewan pengerat lain datang mencari makanan. Kehadiran hewan pengerat kemudian menarik kucing liar ke sekitar permukiman. Bagi manusia, keberadaan kucing ini justru menguntungkan karena mereka membantu memangsa hewan pengerat. Jadi, pada awalnya kucing kemungkinan mendekati manusia bukan karena sengaja dipelihara, melainkan karena menemukan sumber makanan.

    Namun, sejarah domestikasi kucing ternyata lebih rumit dari cerita tersebut. Studi besar tentang DNA kucing purba menganalisis 87 genom kucing dari masa lalu hingga masa kini. Hasilnya menunjukkan bahwa kucing peliharaan tidak menyebar ke Eropa bersama para petani pada Zaman Neolitikum seperti yang selama ini diduga. Nenek moyang kucing peliharaan di Eropa justru diperkirakan berasal dari Afrika Utara sekitar 2.000 tahun lalu. (Science, 2025)

    Kehidupan yang berlangsung selama berabad-abad di sekitar manusia kemungkinan juga ikut memengaruhi cara kucing berkomunikasi. Sebuah penelitian membandingkan perilaku 25 kucing liar dengan 13 kucing rumahan dalam lima situasi sosial. Beberapa di antaranya adalah ketika kucing didekati orang yang sudah dikenalnya, orang asing yang dianggap mengancam, serta orang asing yang datang bersama anjing atau kucing lain.  Hasilnya, kucing liar cenderung menunjukkan perilaku yang lebih defensif dan mengeluarkan suara dengan frekuensi lebih tinggi. Baik kucing liar maupun kucing rumahan sama-sama dapat mengeong, mendesis, dan menggeram. Namun, karakteristik suara yang mereka hasilkan ternyata berbeda. (Behavioural Processes, 2011)

  3. 3. Apakah kucing saling berkomunikasi satu sama lain?

    dua ekor kucing yang tidur di atas selimut merah
    ilustrasi dua ekor kucing (pexels.com/Francesco Ungaro)

    Jarang sekali kucing berkomunikasi satu sama lain menggunakan suara mengeong atau vokalisasi lainnya. Kucing peliharaan kita merupakan keturunan dari kucing liar Afrika yang hidup menyendiri. Ini berarti mereka tidak mengembangkan kemampuan komunikasi sosial yang sama seperti anjing atau manusia. 

    Kucing lebih cenderung menggunakan bahasa tubuh yang halus dan isyarat berbasis aroma untuk berkomunikasi satu sama lain. Bahasa kucing yang khas ini memungkinkan mereka berkomunikasi dari jarak yang aman satu sama lain. Penandaan aroma bahkan dapat membantu mereka berkomunikasi dari jarak sekian kilometer jauhnya.

    Kucing peliharaan biasanya hanya mengeong untuk berkomunikasi dengan manusia. Mereka telah belajar bahwa kita merespons suara mengeong dengan memberikan apa yang mereka inginkan. Biasanya berupa makanan lezat!

  4. 4. Bagaimana kucing berkomunikasi dengan satu sama lain

    Alih-alih dengan suara mengeong, kucing berkomunikasi dengan satu sama lain dengan cara berikut:

    1. Bahasa tubuh - Kucing berkomunikasi melalui postur tubuh, telinga, mata, kumis, dan ekor mereka. Tubuh yang merendah bisa menandakan kecemasan, sementara punggung yang melengkung dan bulu yang mengembang menunjukkan bahwa kucing merasa terancam. Ekor yang tegak biasanya menunjukkan rasa percaya diri atau keramahan.
    2. Aroma - Kucing menggunakan indra penciuman yang tajam dan feromon untuk berkomunikasi. Mereka meninggalkan aroma dengan cara menggosokkan pipi pada benda, mencakar permukaan, atau menyemprotkan urine untuk menandai wilayah dan menunjukkan keberadaan mereka.
    3. Sentuhan dan perawatan tubuh (grooming) - Kucing yang memiliki ikatan sosial mungkin saling menggosokkan tubuh, menyentuhkan hidung, melilitkan ekor, saling membersihkan bulu, atau tidur berdekatan. Perilaku-perilaku ini menunjukkan kepercayaan dan keakraban. 
    4. Vokalisasi - Kucing jarang menggunakan suara untuk berkomunikasi dengan kucing lain, tetapi ada beberapa pengecualian. Anak kucing menggunakan suara mengeong pelan, chirp (suara mencicit pendek), dan trill (suara bergetar) untuk berkomunikasi dengan induknya. Kucing juga bisa mengeluarkan suara melengking keras (yowl) saat mencari pasangan, atau mendesis dan menggeram saat merasa terancam.

  5. 5. Apakah kucing memahami saat kucing lain mengeong?

    Kucing dapat merespons suara-suara tertentu dari kucing lain, misalnya:

    • Memanggil pasangan - Jika kucing yang belum disteril mendengar kucing lain yang juga belum disteril mengeluarkan suara melengking keras (yowl), mereka mungkin akan mencoba mencarinya untuk kawin.
    • Mendesis atau menggeram - Jika seekor kucing mendesis atau menggeram ke arah kucing lain, itu berarti mereka ingin kucing tersebut menjauh.
    • Induk kucing dan anak-anaknya - Induk kucing dan anak-anaknya akan memahami suara mengeong, kicauan pendek, dan suara bergetar satu sama lain sehingga mereka dapat tetap bersama dan saling menjaga.

    Selain contoh-contoh tersebut, kucing biasanya tidak saling mengeong satu sama lain.

    Jadi, kucing sebenarnya tetap berkomunikasi dengan sesamanya, hanya saja tidak selalu menggunakan suara mengeong. Bahasa tubuh, aroma, ekspresi wajah, hingga suara lain seperti desisan dan geraman justru lebih berperan dalam interaksi antarkucing.

    Sementara itu, mengeong berkembang menjadi salah satu cara utama kucing berkomunikasi dengan manusia. Jadi, ketika kucing di rumah terus mengeong kepada pemiliknya, bisa jadi ia memang sedang “berbicara” dengan cara yang paling mudah dipahami oleh manusia.

    Referensi

    Cats Protection. Diakses pada September 2026. How do Cats Communicate with Each Other?
    De Martino, M., De Cupere, B., Rovelli, V., Serventi, P., Mouraud, B., Baldoni, M., Di Corcia, T., Geiger, S., Alhaique, F., Alves, P. C., Buitenhuis, H., Ceccaroni, E., Cerilli, E., De Grossi Mazzorin, J., Detry, C., Dowd, M., Fiore, I., Gourichon, L., Grau-Sologestoa, I., Küchelmann, H. C., Kunst, G. K., McCarthy, M., Miccichè, R., Minniti, C., Moreno, M., Mrdic, N., Onar, V., Oueslati, T., Parrag, M., Uria, B. P., Romagnoli, G., Rugge, M., Salari, L., Saliari, K., Santos, A. B., Schmolcke, U., Sforzi, A., Soranna, M., Spassov, N., Tagliacozzo, A., Tine, V., Trixl, S., Vukovic, S., Wierer, U., Wilkens, B., Doherty, S., Sykes, N., Frantz, L., Mattucci, F., Caniglia, R., Larson, G., Peters, J., Van Neer, W., & Ottoni, C. (2025). The dispersal of domestic cats from North Africa to Europe around 2,000 years ago. Science, 390(6776), Article eadt2642. https://doi.org/10.1126/science.adt2642
    Haskins, R. (1979). A causal analysis of kitten vocalization: An observational and experimental study. Animal Behaviour, 27, 726–736. https://doi.org/10.1016/0003-3472(79)90008-3
    Space Daily. Diakses pada September 2026. We Assume a Cat's Meow is Simply How Cats 'Talk', but Adult Cats Almost Never Meow at One Another: the Sound is Aimed Squarely at Us, a Call Kittens Make to Their Mothers That Housecats Have Repurposed Purely to Manage Humans
    Yeon, S. C., Kim, Y. K., Park, S. J., Lee, S. S., Lee, S. Y., Suh, E. H., Houpt, K. A., Chang, H. H., Lee, H. C., Yang, B. G., & Lee, H. J. (2011). Differences between vocalization evoked by social stimuli in feral cats and house cats. Behavioural Processes, 87(2), 183–189. https://doi.org/10.1016/j.beproc.2011.03.003

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More