Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Fakta Prasinohaema Virens, Spesies Kadal Berwarna Hijau yang Memiliki Darah Hijau, Beda dan Unik!

Ilustrasi spesies kadal berdarah hijau (commons.m.wikimedia.org/Museum Psum)
Ilustrasi spesies kadal berdarah hijau (commons.m.wikimedia.org/Museum Psum)
Intinya sih...
  • Zat biliverdin penyebab darah kadal berwarna hijau
  • Zat yang dihasilkan beracun, namun berguna untuk kadal
  • Terdapat beberapa spesies yang tinggal di Papua Nugini
  • Kadal berdarah hijau berevolusi dari nenek moyang kadal berdarah merah, apakah mungkin?
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Salah satu reptil yang umum dijumpai adalah kadal kecil yang memiliki beragam spesies. Seperti kadal dalam keluarga Scincidae, ada Prasinohaema virens. Mereka juga dikenal dengan kadal berdarah hijau, yang biasa ditemukan pada pepohonan di hutan maupun kebun.

Spesies kadal yang memiliki keunikan, karena darahnya yang berwarna hijau. Zat biliverdin dalam tubuhnya menjadi penyebab warna darah hijau tersebut. Bagaimana keadaan Prasinohaema virens dengan kondisi yang demikian? Apakah zat tersebut bermanfaat dalam tubuhnya? Serta seperti apa fakta-fakta lainnya dari kadal berdarah hijau ini, simak ulasannya sebagai berikut.

1. Zat biliverdin penyebab darah kadal berwarna hijau

Ilustrasi salah satu spesies kadal pohon hijau (commons.m.wikimedia.org/Donna Belder)
Ilustrasi salah satu spesies kadal pohon hijau (commons.m.wikimedia.org/Donna Belder)

Hal unik dari Prasinohaema virens adalah warnanya hijau, hingga ke darahnya. Penyebabnya adalah dalam tubuhnya terdapat zat biliverdin. Spesies kadal dalam genus Prasinohaema ini didalam tubuhnya terjadi penumpukan zat biliverdin, sehingga jumlahnya berlebih.

Dilansir dalam iNaturalist, kadar plasma biliverdin yaitu sekitar 1,5-30 kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki ikan. Sedangkan dibandingkan dengan kadar biliverdin pada manusia yaitu 40 kali lebih besar. Dengan tingginya kadar biliverdin tersebut bukan hanya menyebabkan darah berwarna hijau, tetapi juga lidah, tulang dan jaringan tubuh kadal menjadi hijau.

2. Zat yang dihasilkan beracun, namun berguna untuk kadal

Ilustrasi spesies kadal pohon hijau (commons.m.wikimedia.org/Terburu-buru)
Ilustrasi spesies kadal pohon hijau (commons.m.wikimedia.org/Terburu-buru)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa kadar zat biliverdin pada Prasinohaema virens sangat tinggi. Jika, zat ini terlalu tinggi pada manusia maka bisa mengganggu kesehatan tubuh bahkan mematikan. Namun, tidak demikian dengan kadal genus Prasinohaema yang dijelaskan dalam sebuah penelitian tetap sehat dengan kondisi tersebut. Sedangkan, pada manusia kadar biliverdin dengan jumlah sedikit hanya akan terlihat saat memar. Ketika kadar zat ini terlalu banyak pada manusia akan menyebabkan penyakit kuning. 

Masih menjadi pertanyaan, bagaimana Prasinohaema virens meningkatkan ketahanan terhadap kondisi biliverdin sangat tinggi pada tubuhnya? Seperti yang dijelaskan dalam website Live Science, bukan karena makanannya. Tetapi empedu hijau dalam darah menyebabkan bagian dalam tubuh lainnya berwarna hijau limau cerah. Ketika zat ini diubah menjadi bilirubin bisa menyebabkan penyakit kuning. 

Hal uniknya, kadal tetap sehat meskipun demikian dan zat ini menjadikannya perlindungan seperti dari parasit merugikan. Selain itu, juga ada anggapan bahwa kadal juga rentan terhadap ratusan spesies malaria, sehingga berdarah hijau bisa memberikan perlindungan.

3. Terdapat beberapa spesies yang tinggal di Papua Nugini

Ilustrasi peta persebaran genus Prasinohaema (commons.m.wikimedia.org/rbrausse-Natural Earth)
Ilustrasi peta persebaran genus Prasinohaema (commons.m.wikimedia.org/rbrausse-Natural Earth)

Dalam genus Prasinohaema, setidaknya terdapat beragam spesies yang menghuni Indonesia yaitu Papua Nugini dan ada di Kepulauan Solomon. Namun, disebutkan paling banyak terdistribusi di Papua Nugini. Mereka biasanya terlihat bergerak di pepohonan hutan hujan maupun perkebunan yang menjadi habitatnya. 

Adapun spesies tersebut dijelaskan dalam RepFocus-A Survey of the Reptiles of the World, antara lain Prasinohaema flavipes yang sebelumnya pada tahun 1936 termasuk genus Lygosoma. Spesies ini terdistribusi di Papua Nugini bagian Timur. Prasinohaema parkeri (genus Lygosoma pada 1937), serta terdistribusi di Papua Nugini bagian barat. Prasinohaema prehensicauda (genus Lygosoma pada 1945), serta terdistribusi di Papua Nugini bagian timur. Prasinohaema semoni (genus Lygosoma pada tahun 1894), serta distribusinya di Papua Nugini bagian barat dan timur. Prasinohaema virens (genus Lipinia pada tahun 1881). Spesies ini terdistribusi di Papua Nugini bagian barat dan timur serta Kepulauan Solomon. Kemudian pada tahun 1974 semua spesies kadal tersebut dideskripsikan dalam genus Prasinohaema

4. Kadal berdarah hijau berevolusi dari nenek moyang kadal berdarah merah, apakah mungkin?

Ilustrasi spesies kadal pohon (commons.m.wikimedia.org/Bernard DUPONT)
Ilustrasi spesies kadal pohon (commons.m.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Spesies Prasinohaema virens atau kadal berdarah hijau mungkin tidak hadir begitu saja. Ada anggapan bahwa spesies kadal ini adalah kadal yang berevolusi. Dilansir dalam jurnal penelitian Science Advance, Prasinohaema virens mengalami evolusi hingga empat kali sepanjang sejarah hingga menghasilkan darah berwarna hijau. Kemungkinan terbesarnya spesies kadal ini berevolusi dari nenek moyang kadal berdarah merah. 

Pada dasarnya, kadar warna hijau pada pigmen empedu ini bisa menghalangi warna darah normal merah pada kadal tersebut. Selain itu, ada kemungkinan darah yang berwarna hijau menunjukkan hal yang menguntungkan. Misalnya, pigmen berwarna hijau dalam empedu ini bisa berperan sebagai antioksidan atau terkait dengan penyakit lainnya. Tetapi, para peneliti masih ragu akan peran tingginya zat biliverdin dalam tubuh kadal. 

Perbedaan warna darah hijau pada Prasinohaema virens adalah hal unik yang ada padanya. Terlepas dari evolusi ataupun penyebabnya karena kadar zat biliverdin yang sangat tinggi. Mereka adalah salah satu keanekaragaman yang harus diberikan perlindungan. Mungkin hal yang benar, jika dilakukan penelitian lebih lanjut terkait efek dari pigmen darah hijau. Berkaitan dengan rentannya infeksi pada kadal yang bisa disebabkan parasit maupun malaria. Semoga bermanfaat! 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us