Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Bornean Peacock Pheasant, Burung Cantik Permata Hutan Kalimantan

5 Fakta Bornean Peacock Pheasant, Burung Cantik Permata Hutan Kalimantan
burung bornean peacock pheasant (ebird.org/Ayuwat Jearwattanakanok)
Intinya Sih
  • Merak Kalimantan adalah burung endemik langka dari Pulau Kalimantan dengan bulu berkilau hijau kebiruan, menjadi simbol keindahan sekaligus indikator kesehatan ekosistem hutan tropis.
  • Habitat alaminya di hutan hujan dataran rendah terancam oleh deforestasi, perkebunan sawit, dan pertambangan yang menyebabkan fragmentasi serta penurunan populasi secara signifikan.
  • Berstatus terancam punah menurut IUCN, upaya konservasi dilakukan melalui perlindungan hutan, penelitian populasi, dan edukasi masyarakat untuk menjaga keberlangsungan spesies ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bornean peacock pheasant atau merak kalimantan (Polyplectron schleiermacheri) adalah salah satu burung endemik paling langka dari Pulau Kalimantan. Julukan “permata hutan” terasa sangat pantas karena pola bulunya memancarkan kilau metallic hijau kebiruan dengan corak menyerupai mata merak kecil. Sayangnya, di balik keindahannya, burung ini hidup dalam tekanan besar akibat penyusutan hutan tropis yang semakin masif.

Sebagai bagian dari kekayaan hayati Kalimantan, keberadaan burung ini bukan sekadar soal estetika, tapi juga indikator kesehatan ekosistem hutan dataran rendah. Populasinya yang terus menurun menjadi sinyal bahwa ada ketidakseimbangan serius dalam habitat alaminya. Mengenal lebih dekat burung ini berarti memahami betapa berharganya hutan tropis Indonesia. Yuk, kenali fakta penting tentang merak kalimantan dan ikut peduli pada kelestariannya!

1. Ukuran tubuh dan ciri fisik yang khas

burung bornean peacock pheasant
burung bornean peacock pheasant (ebird.org/Ayuwat Jearwattanakanok)

Bornean peacock pheasant memiliki ukuran tubuh relatif sedang, dengan panjang sekitar 65–70 cm pada jantan dewasa termasuk ekor. Betina biasanya sedikit lebih kecil dan memiliki warna yang lebih kusam dibanding jantan. Tubuhnya ramping dengan kaki kuat yang cocok untuk berjalan di lantai hutan.

Ciri paling mencolok terletak pada bulu jantan yang dihiasi pola ocelli atau motif menyerupai “mata” berkilau di bagian sayap dan ekor. Warna dasarnya cokelat gelap dengan semburat hijau iridescent yang tampak berkilau saat terkena cahaya. Bagian wajahnya memiliki kulit tanpa bulu berwarna kebiruan yang mempertegas ekspresi eksotisnya.

2. Habitat alami yang semakin terdesak

burung bornean peacock pheasant
burung bornean peacock pheasant (ebird.org/Wai Loon Wong)

Merak kalimantan hidup di hutan hujan dataran rendah Kalimantan, terutama di wilayah Indonesia dan sebagian kecil Malaysia. Habitat favoritnya adalah hutan primer dan sekunder yang lebat dengan tutupan tajuk rapat. Lantai hutan yang lembap dan penuh serasah daun menjadi tempat ideal untuk mencari makan dan berlindung.

Sayangnya, alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan menjadi ancaman utama. Fragmentasi habitat membuat populasi terisolasi dan sulit berkembang biak secara optimal. Kehilangan hutan berarti kehilangan ruang hidup, sumber makanan, sekaligus perlindungan alami bagi spesies ini.

3. Perilaku dan peran ekologis di hutan

burung bornean peacock pheasant
burung bornean peacock pheasant (ebird.org/Jason Vassallo)

Sebagai burung darat, merak kalimantan lebih sering berjalan di lantai hutan daripada terbang. Ia aktif pada pagi dan sore hari, mencari biji-bijian, buah kecil, dan serangga. Pola makan ini menjadikannya bagian penting dalam siklus penyebaran biji tanaman hutan tropis.

Burung ini dikenal pemalu dan cenderung soliter, kecuali saat musim kawin. Suaranya relatif pelan dan jarang terdengar dibanding kerabatnya dari Asia Tenggara lainnya. Sifat ini membuat pengamatan di alam liar menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti dan pengamat burung.

4. Proses pembiakan yang rentan

burung bornean peacock pheasant
burung bornean peacock pheasant (ebird.org/Ayuwat Jearwattanakanok)

Musim kawin biasanya terjadi saat kondisi hutan mendukung ketersediaan pakan. Jantan akan memamerkan bulu ekor dengan gerakan khas untuk menarik perhatian betina, sebuah ritual yang memadukan keindahan visual dan strategi biologis. Sarang dibuat sederhana di tanah, tersembunyi di balik vegetasi lebat.

Betina biasanya bertelur dua butir dan mengerami sendiri tanpa bantuan jantan. Anak burung yang menetas langsung mampu mengikuti induknya mencari makan, namun tetap sangat rentan terhadap predator. Tingkat keberhasilan reproduksi yang rendah menjadi salah satu faktor populasi sulit meningkat secara signifikan.

5. Status konservasi dan ancaman serius

burung bornean peacock pheasant
burung bornean peacock pheasant (ebird.org/Wich’yanan Limparungpatthanakij)

Menurut IUCN, bornean peacock pheasant berstatus Endangered atau terancam punah. Populasinya diperkirakan terus menurun akibat perburuan liar dan kehilangan habitat. Angka pastinya sulit dipastikan karena sifatnya yang pemalu dan sebarannya yang terbatas.

Upaya konservasi melibatkan perlindungan kawasan hutan, penelitian populasi, dan edukasi masyarakat lokal. Tanpa langkah konkret dan konsisten, spesies ini berisiko menghadapi penurunan populasi yang lebih drastis. Melindungi merak kalimantan berarti menjaga warisan hayati Kalimantan tetap hidup untuk generasi mendatang.

Merak kalimantan adalah simbol keindahan sekaligus kerapuhan ekosistem hutan tropis. Keunikan fisik, perilaku, dan perannya di alam membuatnya layak mendapat perhatian serius. Dengan mengenal fakta-faktanya, kesadaran kolektif tentang pentingnya konservasi bisa semakin kuat. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan yang bergantung di dalamnya, termasuk permata tersembunyi bernama merak kalimantan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More