5 Fakta Crowned Cormorant, Pecuk Bermahkota dari Pesisir Afrika

- Crowned Cormorant adalah pecuk kecil berwarna hitam mengilap berjambul di dahi, berukuran sekitar 54 sentimeter, dengan persebaran terbatas di pesisir Namibia hingga Afrika Selatan.
- Burung ini menetap dekat pantai, mencari ikan kecil, krustasea, moluska, dan cacing laut di perairan dangkal serta hutan kelp, lalu bersarang di pulau, bangunan, atau dermaga.
- Gangguan manusia, perubahan habitat, tumpahan minyak, predator, dan pencemaran mengancamnya; status regional Afrika Selatan menjadi Vulnerable pada 2025, dengan pasangan berkembang biak menurun.
Crowned Cormorant (Microcarbo coronatus) merupakan salah satu burung laut berukuran kecil yang hidup di kawasan pesisir Afrika bagian selatan. Burung ini mudah dikenali dari tubuhnya yang berwarna hitam mengilap dan jambul kecil di bagian depan kepalanya. Meskipun penampilannya cukup sederhana, Crowned Cormorant memiliki sejumlah karakteristik menarik yang membuatnya berbeda dari banyak jenis pecuk lainnya.
Spesies ini menghabiskan sebagian besar waktunya di sekitar perairan pesisir dan kawasan hutan kelp yang menjadi tempatnya mencari makanan. Persebarannya terbatas di wilayah Afrika bagian selatan, terutama sepanjang pesisir Namibia hingga Afrika Selatan. Yuk, kita telusuri lima fakta menarik Crowned Cormorant, pecuk bermahkota dari pesisir Afrika ini!
1. Memiliki jambul kecil di dahinya

burung microcarbo coronatus (inaturalist.org/ivanparr) Salah satu ciri paling mencolok dari Crowned Cormorant adalah jambul kecil yang tumbuh di bagian depan kepalanya. Jambul tersebut biasanya terlihat setengah tegak dan menjadi alasan mengapa burung ini mendapatkan nama "Crowned Cormorant" atau pecuk bermahkota. Dilansir BirdLife South Africa, ukuran tubuhnya sendiri tergolong kecil untuk seekor pecuk, dangan panjang sekitar 54 sentimeter dan bobot sekitar 730-790 gram.
Tubuh burung dewasa didominasi bulu hitam yang tampak mengilap, sementara bagian wajah memiliki beberapa bulu putih halus. Paruhnya berwarna hitam dengan bagian pangkal dekat sudut mulut berwarna kuning-oranye, sedangkan matanya berwarna merah delima. Kulit di sekitar mata juga berwarna merah muda hingga merah dan dapat menjadi lebih mencolok ketika burung memasuki masa kawin.
2. Hidup di pesisir Afrika bagian selatan

burung microcarbo coronatus (inaturalist.org/Darren Obbard) Crowned Cormorant memiliki wilayah persebaran yang relatif terbatas di Afrika bagian selatan. Mengutip Birds to Watch in Namibia, burung ini dapat ditemukan di sepanjang pesisir dan pulau-pulau dari Möwe Bay di Namibia hingga Tsitsikamma di Afrika Selatan. Sebagian besar kehidupannya berlangsung di sekitar perairan pesisir dengan jarak tidak lebih dari sekitar lima kilometer dari garis pantai.
Spesies ini termasuk burung yang tidak bermigrasi jauh dan lebih banyak menetap di kawasan pesisir tempatnya berkembang biak. Koloni perkembangbiakannya dapat ditemukan di pulau-pulau kecil maupun sejumlah lokasi di daratan yang relatif sulit dijangkau perdator darat. Beberapa di antaranya bahkan memanfaatkan struktur buatan manusia seperti bangkai kapal, bangunan lama, dan fasilitas pesisir sebagai tempat bersarang.
3. Mencari makan di hutan kelp

burung microcarbo coronatus (inaturalist.org/Shaun Swanepoel) Crowned Cormorant mencari makanan terutama di perairan dangkal yang berada di sekitar kawasan hutan kelp. South African National Biodiversity Institute menyebutkan bahwa burung ini melakukan aktivitas mencari makan di dasar perairan dan memangsa ikan-ikan kecil yang hidup di lingkungan pesisir. Selain ikan, makanannya juga mencakup krustasea, moluska, serta cacing laut.
Jenis ikan yang dimangsanya antara lain berasal dari kelompok ikan yang hidup di sekitar dasar perairan dan kawasan kelp. Kebiasaan tersebut membuat Crowned Cormorant memiliki hubungan yang erat dengan kondisi ekosistem pesisir tempatnya hidup. Menariknya, makanan yang dikonsumsi spesies ini umumnya bukan jenis ikan yang menjadi sasaran utama perikanan komersial.
4. Bersarang di tempat yang tidak biasa

burung microcarbo coronatus (inaturalist.org/Gavin Falck) Crowned Cormorant memiliki kemampuan beradaptasi dalam memilih lokasi untuk membuat sarang. Dilansir BirdLife South Africa, selain bersarang di pulau dan tepian pantai, burung ini dapat membangun sarang di pohon, batu tinggi, dinding, atau atap bangunan lama, serta dermaga yang sudah tidak digunakan. Pemanfaatan berbagai tempat tersebut berkaitan dengan kebutuhan burung untuk mendapatkan lokasi yang relatif aman dari predator darat.
Namun, keberadaan manusia di dekat koloni dapat menjadi masalah bagi burung ini karena Crowned Cormorant sangat sensitif terhadap gangguan. Burung yang merasa terganggu dapat meninggalkan sarangnya sehingga telur atau anaknya menjadi lebih mudah ditemukan predator. Karena itu, perlindungan terhadap lokasi perkembangbiakan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menjaga populasinya.
5. Menghadapi tekanan di habitat pesisir

burung microcarbo coronatus (inaturalist.org/ianrijsdijk) Crowned Cormorant menghadapi berbagai ancaman yang berkaitan dengan kehidupan di lingkungan pesisir. Gangguan manusia, perubahan habitat tempat bersarang, tumpahan minyak, serta keberadaan predator dapat memengaruhi keberhasilan perkembangbiakannya. Ketergantungannya pada kawasan perairan dangkal dan hutan kelp juga membuat pencemaran laut menjadi perhatian penting bagi kelangsungan hidup spesies ini.
Dalam penilaian global, Crowned Cormorant masih dikategorikan Least Concern (LC), tetapi penilaian regional di Afrika Selatan pada 2025 menempatkannya dalam kategori Vulnerable (VU). Populasi perkembangbiakan di Afrika Selatan diperkirakan mengalami penurunan dari sekitar 1.908 pasangan pada periode 2008-2012 menjadi sekitar 1.490 pasangan pada periode 2018-2022. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa status global dan kondisi populasi di wilayah tertentu dapat memberikan gambaran yang berbeda mengenai tantangan konservasi yang dihadapi burung ini.
Crowned Cormorant merupakan pecuk kecil dengan penampilan khas yang mudah dikenali berkat jambul di bagian depan kepalanya. Kehidupannya sangat berkaitan dengan pesisir, terutama perairan dangkal dan hutan kelp di Afrika bagian selatan. Keberadaan burung ini sekaligus menunjukkan betapa pentingnya menjaga ekosistem pesisir sebagai tempat mencari makan dan berkembang biak berbagai jenis burung laut.





















