Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Rufous Backed Bunting, Burung Unik dengan Corak yang Memikat

5 min read
5 Fakta Rufous Backed Bunting, Burung Unik dengan Corak yang Memikat
rufous-backed bunting (ebird.org/Jugdernamjil Nergui)
  • Rufous-backed bunting adalah burung pengicau kecil Asia Timur, panjang sekitar 20 cm, dengan punggung cokelat kemerahan dan pola kepala jantan yang kontras.
  • Spesies ini bergantung pada padang rumput serta semak tertentu; populasinya kini terpisah akibat fragmentasi habitat, meski kedua induk bekerja sama merawat anak saat berkembang biak.
  • Berstatus Terancam Punah sejak 2010, rufous-backed bunting terancam pertanian, penggembalaan, dan aktivitas manusia; survei China 2011–2016 memperkirakan 9.800–12.500 individu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Rufous-backed bunting (Emberiza jankowskii) merupakan burung kecil keluarga Emberizidae yang punya penampilan menarik sekaligus kisah konservasi yang cukup mengkhawatirkan. Burung yang juga dikenal dengan nama Jankowski's bunting ini dahulu tersebar lebih luas di kawasan Asia Timur, tetapi populasinya menyusut drastis akibat perubahan habitat. Corak bulunya yang kontras membuat burung padang rumput ini mudah mencuri perhatian meski ukuran tubuhnya tergolong mungil.

Di balik penampilannya yang memikat, rufous-backed bunting ternyata memiliki kebutuhan habitat yang cukup spesifik sehingga perubahan bentang alam dapat membawa dampak besar terhadap kelangsungan populasinya. Berbagai penelitian juga mengungkap perilaku berkembang biak, pergerakan, hingga kondisi genetiknya yang memberi gambaran lebih luas mengenai kehidupan burung langka tersebut. Supaya lebih mengenal salah satu burung unik Asia Timur ini, yuk simak sederet faktanya berikut!

  1. 1. Memiliki tubuh mungil dengan corak yang kontras

    rufous-backed bunting
    rufous-backed bunting (ebird.org/Kenneth Lam)

    Rufous-backed bunting merupakan burung pengicau padang rumput berukuran kecil dengan panjang tubuh sekitar 20 cm dari paruh hingga ekor. Penampilannya memiliki perpaduan warna yang khas, terutama bagian punggung bernuansa cokelat kemerahan yang menjadi asal nama rufous-backed. Burung jantan juga mempunyai pola kepala yang kontras sehingga penampilannya terlihat mencolok ketika bertengger di antara rerumputan dan semak rendah.

    Ukuran yang kecil gak berarti burung ini mudah terlewat begitu saja ketika berada di habitat terbuka. Corak tubuhnya menjadi salah satu karakter yang membedakannya dari sejumlah burung bunting lain yang hidup di kawasan Asia Timur. Meski demikian, pengamatan langsung di alam kini jauh lebih sulit karena populasinya tersebar dalam kelompok-kelompok yang terpisah akibat fragmentasi habitat.

  2. 2. Bergantung pada padang rumput dan semak tertentu

    rufous-backed bunting
    rufous-backed bunting (ebird.org/Kenneth Lam)

    Habitat rufous-backed bunting sangat berkaitan dengan padang rumput dan perbukitan rendah yang memiliki kombinasi rerumputan serta semak kecil. Penelitian di China menunjukkan populasi yang diketahui berkembang biak menempati zona stepa Mongolia dengan keberadaan semak aprikot siberia (Prunus sibirica) sebagai salah satu komponen vegetasi penting. Rerumputan seperti Stipa baicalensis dan Spodiopogon sibiricus juga menjadi bagian dari habitat yang disukai burung ini.

    Secara historis, jangkauannya meliputi bagian timur laut China, ujung timur laut Korea Utara, dan wilayah selatan Timur Jauh Rusia, sementara catatan lebih baru juga menunjukkan keberadaannya sebagai burung berbiak di Mongolia. Banyak lokasi berbiak bersejarah di China sudah kehilangan populasinya, sedangkan konsentrasi penting yang tersisa ditemukan terutama di Mongolia Dalam. Burung ini juga dapat melakukan perpindahan dari kawasan berbiaknya, bahkan wilayah musim dinginnya diketahui dapat mencapai Beijing.

  3. 3. Kedua induk bekerja sama merawat anak

    rufous-backed bunting
    rufous-backed bunting (ebird.org/Kenneth Lam)

    Perilaku reproduksi rufous-backed bunting menunjukkan kerja sama yang cukup kuat antara burung jantan dan betina. Penelitian terhadap populasi di Jilin mencatat musim berbiaknya berlangsung sejak akhir April dan umumnya berakhir pada penghujung Juli. Kedua induk sama-sama terlibat dalam pembangunan sarang, pemberian makanan kepada anak, serta pertahanan sarang dari berbagai gangguan.

    Dalam penelitian yang memantau 74 upaya bersarang, jumlah telur dalam satu sarang berkisar antara empat sampai tujuh butir dengan rata-rata sekitar 5,26 butir. Sayangnya, tingkat keberhasilan reproduksinya relatif rendah karena sarang dapat menghadapi parasitisme, pemangsaan, gangguan manusia, serta penelantaran. Rendahnya keberhasilan anak mencapai tahap meninggalkan sarang diduga ikut menghambat pemulihan populasi burung ini.

  4. 4. Populasinya terfragmentasi tetapi keragaman genetiknya masih menarik

    rufous-backed bunting
    rufous-backed bunting (ebird.org/Kenneth Lam)

    Salah satu fakta menarik rufous-backed bunting adalah populasinya yang menyerupai pulau-pulau kecil karena habitat yang semakin terfragmentasi. Kondisi tersebut membuat kelompok burung tersebar pada kantong-kantong habitat yang terpisah dan meningkatkan kerentanannya terhadap gangguan lingkungan. Meski demikian, penelitian genetika menemukan tingkat konektivitas yang tinggi serta sejarah penurunan demografis yang tergolong moderat pada populasi yang diteliti.

    Penelitian lain terhadap populasi berbiak di Mongolia Dalam bahkan menemukan keragaman genetik yang relatif tinggi dan gak mendapati struktur genetik yang kuat di antara populasi yang diteliti. Temuan tersebut menarik karena spesies dengan habitat terfragmentasi sering dikhawatirkan kehilangan variasi genetik seiring berjalannya waktu. Namun, kondisi genetik yang teramati bukan berarti ancamannya telah hilang karena degradasi habitat, penggembalaan, kekeringan, kebakaran, dan berbagai tekanan lain masih memengaruhi kelangsungan hidupnya.

  5. 5. Berstatus terancam dengan populasi yang masih terbatas

    rufous-backed bunting
    rufous-backed bunting (ebird.org/Jugdernamjil Nergui)

    Rufous-backed bunting tercatat berstatus Terancam Punah (Endangered) dan telah masuk kategori tersebut dalam Daftar Merah IUCN sejak 2010. Daftar Merah untuk burung dan penilaiannya mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk ukuran serta tren populasi dan jangkauan geografis. Penyusutan dan fragmentasi habitat akibat pertanian, penggembalaan, serta aktivitas manusia menjadi ancaman penting bagi kelangsungan burung ini.

    Untuk jumlah yang tersisa, survei komprehensif di China pada 2011-2016 memperkirakan sekitar 9.800-12.500 individu dengan habitat berbiak yang sesuai hanya sekitar 280 kilometer persegi. Angka tersebut merupakan estimasi dari survei ilmiah, bukan hasil penghitungan seluruh individu secara langsung, sehingga gak tepat diperlakukan sebagai jumlah pasti populasi global saat ini. Walaupun estimasinya lebih tinggi daripada perkiraan terdahulu, hilangnya banyak lokasi berbiak historis menunjukkan bahwa perlindungan padang rumput dan semak alaminya tetap sangat penting.

    Rufous-backed bunting membuktikan bahwa burung bertubuh kecil dapat menyimpan cerita ekologis yang begitu kompleks. Corak memikat, habitat yang spesifik, perilaku reproduksi, hingga kondisi populasinya membuat Emberiza jankowskii menarik untuk dipelajari lebih jauh. Perlindungan habitat padang rumput yang tersisa menjadi bagian penting dalam menjaga agar burung khas Asia Timur ini tetap dapat dijumpai di alam liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More