5 Fakta Letusan Tambora, Bencana yang Memicu Tahun Tanpa Musim Panas

- Letusan Tambora mencapai puncak pada 10 April 1815, melontarkan sekitar 150 km³ tefra dan tercatat sebagai letusan eksplosif terbesar dalam sejarah dengan VEI 7.
- Erupsi meruntuhkan puncak Tambora, membentuk kaldera berdiameter sekitar 6 kilometer dan kedalaman 1.100 meter, serta diperkirakan menyebabkan sekitar 60.000 kematian akibat letusan, kelaparan, dan penyakit.
- Aerosol sulfat di stratosfer memicu pendinginan beberapa tahun; pada 1816, musim panas dingin di Eropa dan Amerika Utara mengganggu panen, memicu kelangkaan pangan dan kenaikan harga.
Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi lokasi salah satu letusan gunung api terbesar yang tercatat dalam sejarah. Peristiwa yang mencapai puncaknya pada April 1815 itu tidak hanya menghancurkan wilayah di sekitarnya, tetapi juga meninggalkan dampak yang terasa jauh dari Indonesia.
Setahun kemudian, sejumlah wilayah di belahan Bumi utara mengalami musim panas yang jauh lebih dingin dari biasanya. Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai Year Without a Summer atau Tahun Tanpa Musim Panas. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana letusan gunung api dapat memengaruhi atmosfer, kondisi iklim, hingga kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
1. Letusan Tambora menghamburkan 150 km³ material

Gunung Tambora (pixabay.com/Kanenori) Letusan besar Gunung Tambora di Pulau Sumbawa mencapai puncaknya pada 10 April 1815, setelah gunung ini aktif sejak 1812. NASA memperkirakan sekitar 150 kilometer kubik tefra, berupa pecahan batu dan abu vulkanik, terlontar saat peristiwa tersebut. Abu dari letusan itu bahkan terdeteksi setidaknya 1.300 kilometer ke arah barat laut.
Smithsonian Global Volcanism Program menyebutnya letusan eksplosif terbesar dalam catatan sejarah, dengan Indeks Eksplosivitas Vulkanik atau VEI 7. Indeks ini menggambarkan ukuran letusan lewat volume material dan tinggi kolom erupsi. Besarnya material yang terhambur menjelaskan mengapa dampaknya menjangkau wilayah jauh dari gunung.
2. Puncaknya runtuh dan membentuk kaldera selebar enam kilometer

Kaldera Gunung Tambora (commons.wikimedia.org/NASA Expedition 20 crew) Letusan 10 April 1815 mengubah bentuk Tambora secara drastis. Sebelum peristiwa itu, puncaknya diperkirakan mencapai sekitar 4.000 meter, sedangkan ketinggian gunung saat ini sekitar 2.850 meter. NASA menjelaskan bahwa hilangnya bagian puncak berkaitan dengan berkurangnya magma dari ruang di bawah gunung.
Peristiwa tersebut meninggalkan kaldera, yaitu cekungan besar di puncak gunung, dengan diameter sekitar 6 kilometer dan kedalaman 1.100 meter. Lantai kaldera kini dapat menampung danau air tawar sementara, endapan baru, serta aliran lava kecil. Bentuk cekungan itu menjadi bukti fisik betapa banyak material yang dikeluarkan selama erupsi.
3. Aliran panas dan abu memicu korban jiwa dalam jumlah besar

Lanskap Gunung Tambora (commons.wikimedia.org/Iqbal Ishlahiddin) Di sekitar Sumbawa, dampak letusan tidak hanya berupa hujan abu. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat aliran piroklastik, campuran gas panas, abu, dan pecahan batu yang bergerak cepat, mencapai laut di berbagai sisi semenanjung. Sementara itu, endapan tefra yang tebal juga merusak lahan pertanian di sekitar gunung.
Smithsonian memperkirakan letusan Tambora menyebabkan sekitar 60.000 kematian, meski angka korban historis tidak pasti. Ribuan orang tewas saat letusan, lalu banyak penduduk meninggal akibat kelaparan dan penyakit pada bulan-bulan berikutnya karena sumber pangan terganggu. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa korban bencana dapat terus bertambah setelah letusan selesai.
4. Aerosol sulfat mengurangi sinar matahari selama beberapa tahun

Ilustrasi awan (pexels.com/Gundula Vogel) Letusan Tambora melepas gas yang membentuk aerosol sulfat di stratosfer, lapisan atmosfer tinggi. Tinjauan ilmiah di WIREs Climate Change menjelaskan bahwa partikel ini menahan sebagian radiasi Matahari sebelum mencapai permukaan Bumi. Berbeda dari abu berat yang cepat jatuh, aerosol dapat menyebar luas dan bertahan lebih lama.
Aerosol ini berkaitan dengan pendinginan selama beberapa tahun, sekitar 0,4 hingga 0,8 derajat Celsius di wilayah tropis dan belahan Bumi utara di luar tropis. Angka ini adalah perubahan rata-rata dibandingkan tiga dekade sebelumnya, bukan penurunan seragam di semua tempat. Mekanisme ini menghubungkan letusan di Indonesia dengan iklim lintas benua.
5. Musim panas 1816 mengganggu panen di banyak wilayah

Ilustrasi musim dingin (pexels.com/Alina Chernii) Di sejumlah wilayah Eropa dan Amerika Utara, musim panas 1816 terasa jauh lebih dingin sehingga tahun itu dijuluki Year Without a Summer atau Tahun Tanpa Musim Panas. Tinjauan di WIREs Climate Change mengaitkan anomali ini dengan gagal panen dan kelaparan di sejumlah wilayah belahan Bumi utara. Namun, kondisi tidak sama di semua tempat.
National Park Service mencatat salju lebat dan embun beku masih terjadi di New England ketika musim panas seharusnya berlangsung. Kondisi itu mengganggu pertumbuhan tanaman, sedangkan gagal panen membuat pangan langka dan harganya naik di sejumlah daerah. Sebutan tersebut merujuk pada anomali cuaca, bukan hilangnya musim panas di seluruh dunia.
Letusan Tambora memperlihatkan bahwa dampak gunung api dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kerusakan langsung di sekitar sumber letusan hingga perubahan iklim dan gangguan pangan di wilayah yang jauh. Peristiwa 1815 menjadi bukti penting tentang keterkaitan sistem Bumi, ketika aktivitas geologi mampu memengaruhi atmosfer dan kehidupan manusia dalam skala luas.























