Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fakta Unik George Soros, Sakit Punggung Jadi Sinyal Trading

6 min read
Fakta Unik George Soros, Sakit Punggung Jadi Sinyal Trading
ilustrasi George Soros (commons.wikimedia.org/World Economic Forum)
  • George Soros pernah memakai sakit punggung sebagai sinyal untuk meninjau portofolio, mengandalkan naluri selain analisis saat mengelola investasi.
  • Artikel menyoroti kaitan potensial antara stres, respons tubuh, hormon, dan pengambilan risiko finansial, tetapi tidak membuktikan nyeri punggung bisa memprediksi pasar.
  • Sebagai investor kontrarian, Soros berani melawan mayoritas pasar; pengalamannya menegaskan intuisi perlu tetap disertai analisis, tujuan keuangan, dan pemahaman risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

George Soros dikenal sebagai salah satu investor paling berpengaruh di dunia berkat kemampuannya membaca pergerakan pasar keuangan. Strategi investasinya sering kali berlawanan dengan pandangan mayoritas pelaku pasar, sehingga membuatnya identik dengan keberanian mengambil risiko.

Namun, ada fakta unik tentang investor legendaris ini yang mungkin belum banyak kamu ketahui, yaitu kebiasaannya menjadikan sakit punggung sebagai sinyal untuk mengevaluasi portofolio investasi. Kedengarannya aneh, tapi Soros mengaku bahwa rasa sakit tersebut terkadang muncul ketika ada sesuatu yang gak beres dengan posisi investasinya. Kisah ini menarik karena memperlihatkan hubungan yang tak terduga antara kondisi fisik, tekanan psikologis, dan pengambilan keputusan finansial. Simak lima fakta unik George Soros berikut ini untuk mengetahui bagaimana naluri, kondisi fisik, dan strategi investasinya saling berkaitan.

  1. 1. Menjadikan sakit punggung sebagai sinyal trading

    ilustrasi nyeri punggung, sakit pinggang
    ilustrasi nyeri punggung, sakit pinggang (freepik.com/yanalya)

    George Soros pernah mengungkapkan bahwa dirinya sangat mengandalkan naluri ketika mengambil keputusan investasi. Dalam buku Soros on Soros yang terbit pada 1995, ia menjelaskan bahwa selama aktif mengelola dana investasi, dirinya kerap mengalami sakit punggung. Ia kemudian menggunakan kemunculan rasa sakit yang tajam sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang keliru dalam portofolionya. Alih-alih mengabaikan kondisi tersebut, Soros menjadikannya alasan untuk memeriksa kembali keputusan investasinya.

    Kebiasaan ini tentu terdengar tidak biasa karena investor umumnya mengandalkan laporan keuangan, pergerakan harga, dan analisis ekonomi untuk menentukan langkah. Kendati demikian, Soros menunjukkan bahwa keputusan investasi juga bisa melibatkan respons intuitif yang muncul sebelum seseorang mampu menjelaskan alasannya secara rasional. Putranya, Robert Soros, bahkan pernah menggambarkan bahwa teori pasar yang rumit dari ayahnya terkadang baru muncul setelah keputusan untuk mengubah posisi investasi mulai terbentuk. Meski begitu, pengalaman Soros gak membuktikan bahwa sakit punggung dapat memprediksi kerugian pasar secara akurat, ya.

  2. 2. Respons tubuh terhadap stres bisa memengaruhi keputusan

    ilustrasi stres
    ilustrasi stres (magnific.com/pressfoto)

    Salah satu penjelasan yang mungkin berkaitan dengan pengalaman Soros adalah respons alami tubuh ketika menghadapi tekanan. Saat seseorang merasa terancam atau berada dalam situasi penuh ketidakpastian, tubuh dapat mengaktifkan respons fight or flight, yaitu mekanisme yang mempersiapkan seseorang untuk menghadapi ancaman atau melarikan diri. Dalam proses tersebut, otot psoas yang menghubungkan bagian tulang belakang bawah dengan tulang paha turut berperan dalam gerakan tubuh. Ketegangan pada area ini dapat berkaitan dengan munculnya rasa tidak nyaman di punggung bawah.

    Penjelasan anatomi mengenai otot psoas major dibahas oleh Siccardi, Tariq, dan Valle dalam StatPearls pada 2023, sedangkan Liz Koch membahas peran otot tersebut dalam bukunya The Psoas Book. Selain itu, penelitian Flor, Turk, dan Birbaumer yang terbit dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology pada 1985 menemukan bahwa pasien dengan nyeri punggung kronis mengalami peningkatan ketegangan otot punggung ketika berada dalam kondisi stres. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa tekanan psikologis dan respons fisik dapat saling berkaitan. Meski demikian, hubungan ini gak cukup untuk memastikan bahwa rasa sakit yang dialami Soros berasal dari mekanisme tersebut.

  3. 3. Berani melawan mayoritas pasar

    ilustrasi trading
    ilustrasi trading (freepik.com/standret)

    Soros memiliki pandangan investasi yang berbeda dari kebanyakan pelaku pasar. Ia pernah menyampaikan keyakinan bahwa pasar tidak selalu benar, sebuah pendekatan yang bertentangan dengan anggapan bahwa harga pasar sudah mencerminkan informasi yang tersedia. Pandangan ini membuatnya dikenal sebagai investor kontrarian, yaitu investor yang bersedia mengambil posisi berlawanan dengan mayoritas ketika memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Strategi tersebut menuntut keberanian karena keputusan yang berbeda dari kebanyakan orang bisa memicu keraguan dan tekanan psikologis.

    Penelitian Berns dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Biological Psychiatry pada 2005 menemukan bahwa ketidaksesuaian dengan penilaian kelompok berkaitan dengan aktivitas di area otak yang terlibat dalam pemrosesan ancaman dan ketidaknyamanan sosial. Dalam dunia investasi, kondisi tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri ketika kamu mempertahankan keputusan yang gak populer. Ketidakpastian pasar juga dapat memicu stres berkepanjangan, terutama ketika nilai investasi bergerak berlawanan dengan perkiraan. Karena itu, pengalaman Soros menggambarkan betapa beratnya tekanan yang bisa menyertai keputusan investasi kontrarian, meskipun respons setiap orang tentu berbeda.

  4. 4. Hormon stres bisa berkaitan dengan perilaku mengambil risiko

    ilustrasi risiko
    ilustrasi risiko (magnific.com/atlascompany)

    Tekanan dalam dunia investasi gak hanya berkaitan dengan pikiran, tapi juga dengan perubahan fisiologis di dalam tubuh. Salah satu hormon yang berperan dalam respons stres adalah kortisol, yang produksinya diatur melalui sistem hipotalamus-hipofisis-adrenal atau HPA. Ketika seseorang terus-menerus menghadapi ketidakpastian, respons stres yang berkepanjangan berpotensi memengaruhi keseimbangan fisiologis tubuh. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut juga dapat berkaitan dengan sensitivitas terhadap rasa sakit dan proses peradangan.

    Penelitian Coates dan Herbert yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2008 meneliti hubungan antara hormon steroid endogen dan pengambilan risiko finansial di lingkungan perdagangan saham London. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa faktor biologis layak diperhitungkan ketika membahas perilaku pelaku pasar. Namun, temuan itu tidak secara langsung membuktikan bahwa kortisol menyebabkan sakit punggung pada Soros atau bahwa nyeri fisik dapat digunakan untuk menentukan waktu membeli dan menjual aset. Jadi, kamu perlu membedakan antara hubungan biologis yang diteliti secara ilmiah dan interpretasi atas pengalaman pribadi seorang investor.

  5. 5. Naluri bisa membantu mengambil keputusan, tapi tetap perlu analisis

    ilustrasi berpikir, merenung
    ilustrasi berpikir, merenung (magnific.com/katemangostar)

    Pengalaman Soros juga berkaitan dengan gagasan somatic marker hypothesis yang dikembangkan oleh Antonio Damasio bersama Antoine Bechara. Gagasan ini menjelaskan bahwa sinyal dari tubuh, seperti perubahan sensasi fisik dan emosi, dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan sebelum seseorang menyelesaikan penalaran secara sadar. Dalam situasi yang rumit dan penuh ketidakpastian, sinyal tersebut berpotensi membantu seseorang menilai pilihan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Hal ini memberikan salah satu cara untuk memahami mengapa intuisi terkadang terasa kuat ketika seseorang menghadapi keputusan berisiko tinggi.

    Bechara dan Damasio membahas gagasan tersebut dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Trends in Cognitive Sciences pada 2005, sedangkan pengalaman Soros memperlihatkan bagaimana seorang investor berpengalaman memperhatikan respons tubuhnya sendiri. Meski begitu, naluri tetap memiliki keterbatasan karena bisa dipengaruhi oleh rasa takut, kelelahan, kecemasan, atau bias pribadi. Jika kamu berinvestasi, keputusan sebaiknya tetap didasarkan pada tujuan keuangan, toleransi risiko, kondisi pasar, dan analisis yang memadai. Sakit punggung juga gak boleh dianggap sebagai indikator pasti bahwa portofolio sedang bermasalah, sebab keluhan tersebut dapat muncul akibat berbagai kondisi kesehatan.

    Fakta unik George Soros memperlihatkan bahwa dunia investasi memiliki sisi yang tidak selalu bisa dijelaskan melalui angka dan grafik. Pengalamannya menjadikan sakit punggung sebagai sinyal untuk mengevaluasi portofolio menunjukkan bagaimana naluri dan respons tubuh dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan seseorang.

    Meski demikian, pengalaman pribadi tersebut gak bisa dijadikan rumus investasi yang berlaku untuk semua orang. Pelajaran terpentingnya adalah mengenali respons diri sendiri, memahami risiko, dan tetap mengutamakan analisis yang matang sebelum mengambil keputusan finansial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More