Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Fakta Hujan Meteor Leonis Minorid, Puncaknya 24 Oktober 2026

3 min read
3 Fakta Hujan Meteor Leonis Minorid, Puncaknya 24 Oktober 2026
ilustrasi hujan meteor Leonis Minorid (unsplash.com/Flook)
  • Hujan meteor Leonis Minorid diperkirakan aktif 19–27 Oktober 2026 dan mencapai puncak sekitar 24–25 Oktober, saat serpihan benda langit terbakar di atmosfer Bumi.
  • Fenomena ini diduga terkait komet C/1739 K1 (Zanotti), meski hubungan tersebut masih berupa dugaan ilmiah yang tercatat dalam penelitian.
  • Pengamatan terbaik berlangsung menjelang subuh, sekitar 02.46–05.04 WIB, dengan intensitas puncak sekitar dua meteor per jam dalam kondisi langit ideal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Oktober 2026 menghadirkan berbagai fenomena astronomi yang menarik untuk diamati, salah satunya hujan meteor Leonis Minorid. Hujan meteor ini diperkirakan mencapai puncaknya pada 24 Oktober, ketika sejumlah meteor tampak melintas di langit malam. Leonis Minorid berasal dari serpihan benda langit yang memasuki atmosfer Bumi dan terbakar sehingga terlihat seperti garis cahaya.

Meski namanya mungkin belum sepopuler Perseid atau Geminid, hujan meteor ini tetap menarik untuk dibahas karena memiliki asal-usul dan karakteristik tersendiri. Namun, jangan berharap langit akan dipenuhi ratusan meteor karena Leonis Minorid dikenal sebagai hujan meteor dengan intensitas yang rendah. Lalu,apa yang membuat hujan meteor ini menarik? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

  1. 1. Diduga berasal dari komet C/1739 K1 (Zanotti)

    ilustrasi komet
    ilustrasi komet (pixabay.com/Frantisek_Krejci)

    Hujan meteor Leonis Minorid merupakan salah satu hujan meteor minor yang muncul setiap tahun di bulan Oktober. Dilansir The Sky Live, fenomena ini biasanya aktif pada 19–27 Oktober dan mencapai puncaknya sekitar 24–25 Oktober. Hal menarik dari Leonis Minorid adalah asal-usulnya yang dikaitkan dengan komet C/1739K1 atau Zanotti.

    Mengutip dari basis data International Astronomical Union (IAU), komet Zanotti diusulkan sebagai benda induk yang meninggalkan material pembentuk hujan meteor Leonis Minorid. Ketika Bumi melintasi jalur serpihan tersebut, sebagian partikel memasuki atmosfer dan terbakar sehingga terlihat sebagai garis cahaya di langit. Meski begitu, hubungan antara Leonis Minorid dan komet C/1739 K1 masih merupakan dugaan ilmiah yang tercatat dalam penelitian, bukan kepastian mutlak.

  2. 2. Subuh adalah waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor ini

    ilustrasi hujan meteor Leonis Minorid
    ilustrasi hujan meteor Leonis Minorid (pexels.com/Zain Ali)

    Selama periodenya masih berlangsung, kamu bisa mengamati hujan meteor Leonis Minorid pada pukul 02.46–05.04 WIB. Mengutip dari In-the-Sky, waktu terbaik untuk menyaksikan hujan meteor ini yaitu menjelang subuh, ketika titik pancarnya di rasi bintang Leo Minor berada semakin tinggi di langit. Titik pancar merupakan titik tempat meteor tampak berasal ketika dilihat dari Bumi.

    Semakin tinggi titik pancar di atas cakrawala, semakin besar peluang untuk melihat meteor dari hujan meteor tersebut. Pada 25 Oktober 2026, Leonis Minorid diperkirakan mencapai puncak aktivitas sekitar pukul 02.00 WIB, sehingga waktu menjelang subuh menjadi kesempatan yang patut dicoba. Agar pengamatan lebih optimal, carilah lokasi dengan langit gelap, minim polusi cahaya, dan pandangan luas ke arah langit timur.

  3. 3. Menghasilkan dua meteor per jam

    ilustrasi hujan meteor Leonis Minorid
    ilustrasi hujan meteor Leonis Minorid (pixabay.com/TheOtherKev)

    Hujan meteor Leonis Minorid hanya menghasilkan sekitar dua meteor per jam saat mencapai puncak aktivitasnya. Mengutip dari The Sky Live, Leonis Minorid termasuk hujan meteor dengan intensitas rendah (minor meteor shower) yang diperkirakan mencapai laju zenit per jam atau ZHR sebesar dua meteor dalam kondisi pengamatan ideal. Artinya, angka tersebut bukan jaminan bahwa kamu akan melihat dua meteor setiap jam, karena jumlah yang terlihat bergantung pada kondisi langit dan lokasi pengamatan.

    Hujan meteor ini berasal dari serpihan benda langit yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan rata-rata sekitar 62 kilometer per detik. Karena intensitasnya rendah, meteor Leonis Minorid bisa sulit diamati, terutama di wilayah dengan polusi cahaya tinggi atau langit berawan. Jika ingin mencoba melihatnya, pilih tempat yang gelap dan beri waktu bagi mata untuk menyesuaikan diri dengan kondisi minim cahaya.

    Hujan meteor Leonis Minorid mungkin tidak menampilkan banyak meteor, tetapi fenomena ini tetap menarik untuk diamati oleh pencinta langit malam. Dengan mengetahui asal-usul, waktu pengamatan terbaik, dan intensitasnya, kamu bisa mempersiapkan diri untuk berburu garis cahaya di langit. Kalau kamu punya kesempatan mengamatinya, apakah kamu tertarik begadang demi menyaksikan hujan meteor yang hanya menghasilkan sekitar dua meteor per jam ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More