Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Masjid Kari, Perpaduan Megah Budaya Bizantium dan Islam

5 Fakta Masjid Kari, Perpaduan Megah Budaya Bizantium dan Islam
Masjid Kari (juga dikenal sebagai Gereja Chora), yang terletak di lingkungan Edirnekapı di Istanbul, Turki. (commons.wikimedia.org/Tadam)
Intinya Sih
  • Masjid Kari awalnya berdiri sebagai Gereja Chora pada tahun 413 M, lalu diubah menjadi masjid pada abad ke-16 dan kembali difungsikan untuk ibadah umat Islam pada Mei 2024.
  • Bangunan ini memadukan arsitektur Bizantium dan elemen Islam, terdiri dari tiga area utama dengan enam kubah megah serta mosaik dan fresko yang masih terjaga keasliannya.
  • Perubahan fungsi dilakukan dengan hati-hati, menambahkan mihrab, mimbar, dan menara tanpa menghilangkan nilai sejarah serta seni Bizantium yang menjadikannya simbol harmoni dua peradaban besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat membicarakan Turki, pikiran kita langsung tertuju pada kemegahan masjid-masjid bersejarah yang mendominasi cakrawala kota, seperti Hagia Sophia yang legendaris atau Masjid Biru yang memesona. Namun, di antara deretan bangunan ikonik tersebut, terselip satu permata tersembunyi yang menyimpan keindahan seni tak tertandingi, yakni Masjid Kari. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini adalah saksi bisu perpaduan dua budaya besar yang pernah berkuasa di tanah Konstantinopel.

Lantas, bagaimana sebuah bangunan bisa menjadi perpaduan sempurna antara mosaik Bizantium yang kuno dan nuansa spiritual Islam yang teduh dalam satu atap yang sama?

Mari kita telusuri!

1. Perjalanan sejarah yang panjang

Cetakan fotochrom dari Masjid Kari di Istanbul, Turki, yang berasal dari sekitar tahun 1890-1900.
Cetakan fotochrom dari Masjid Kari di Istanbul, Turki, yang berasal dari sekitar tahun 1890-1900. (commons.wikimedia.org/…trialsanderrors)

Masjid Kari memiliki akar sejarah yang sangat panjang, dimulai pada tahun 413 M sebagai sebuah gereja Ortodoks Yunani yang dikenal dengan nama Gereja Chora. Sebagai bagian dari kompleks biara, bangunan ini telah berdiri sebagai pusat kegiatan religius selama lebih dari 1.500 tahun di Istanbul, Turki.

Memasuki abad ke-16, tepatnya sekitar tahun 1511, fungsi bangunan ini mengalami perubahan signifikan. Di bawah perintah Atik Ali Pasha, seorang Wazir Agung dari masa Sultan Bayezid II, bangunan gereja tersebut diubah menjadi masjid setelah penaklukan Konstantinopel. Sejak saat itu, bangunan ini pun mulai digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam.

Dalam sejarah modernnya, status Masjid Kari sempat berganti-ganti. Pada tahun 1945, di bawah pemerintahan Mustafa Kemal Atatürk, tempat ini ditetapkan sebagai museum untuk melestarikan karya seni di dalamnya. Namun, pada tahun 2020, Presiden Recep Tayyip Erdoğan memutuskan untuk mengembalikan fungsinya sebagai masjid, dan setelah menjalani proses restorasi yang panjang, bangunan bersejarah ini resmi dibuka kembali untuk ibadah pada 6 Mei 2024.

2. Arti nama "Chora" dan "Kariye"

Masjid Kari, yang sebelumnya dikenal sebagai Gereja Chora, yang terletak di distrik Edirnekapı, Istanbul, Turki.
Masjid Kari, yang sebelumnya dikenal sebagai Gereja Chora, yang terletak di distrik Edirnekapı, Istanbul, Turki. (commons.wikimedia.org/Rabe!)

Nama "Chora" memiliki akar sejarah yang sangat unik, yakni berasal dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti "di pedesaan" atau "di luar tembok." Nama ini disematkan karena bangunan aslinya pertama kali didirikan di luar tembok utama kota Konstantinopel pada abad ke-5. Meskipun seiring berjalannya waktu kota tersebut terus berkembang hingga wilayah gereja akhirnya berada di dalam area tembok kota, nama "Chora" tetap dipertahankan dan terus melekat hingga saat ini.

Selain sebagai penanda lokasi geografis, nama ini juga mengandung makna spiritual yang mendalam. Banyak yang mengaitkan istilah tersebut dengan peran gereja sebagai tempat bernaung bagi Kristus dan Bunda Maria, atau merujuk pada ayat suci mengenai penciptaan. Sementara itu, istilah "Kariye" sendiri merupakan bentuk serapan atau transliterasi ke dalam bahasa Arab yang kemudian menjadi nama populer bagi bangunan ini dalam sejarah peradaban Islam di Turki.

3. Terdiri dari tiga area utama

Pemandangan dari naos ke arah apse di Masjid Kari, Istanbul, Turki.
Pemandangan dari naos ke arah apse di Masjid Kari, Istanbul, Turki. (commons.wikimedia.org/Dosseman)

Meskipun tidak sebesar gereja Bizantium lainnya di Istanbul, Masjid Kari memiliki interior yang sangat istimewa karena hampir seluruh dekorasi aslinya masih terjaga dengan baik. Ruangannya terbagi menjadi tiga area utama yang saling terhubung, yakni narthex (serambi) sebagai pintu masuk, naos sebagai ruang utama, serta parecclesion yang berfungsi sebagai kapel pemakaman. Seluruh area ini dipercantik oleh enam kubah megah yang masing-masing menghiasi bagian-bagian penting bangunan tersebut.

Setiap bagian masjid memiliki fungsi dan karakter visual yang berbeda, di mana pengunjung diarahkan melalui serangkaian koridor yang dihiasi mosaik indah menuju ruang ibadah utama. Di area parecclesion, suasana berubah menjadi lebih kontemplatif dengan adanya lukisan dinding bertema teologis tentang keselamatan, termasuk adegan Anastasis yang sangat terkenal. Selain itu, terdapat ceruk-ceruk makam atau arcosolia yang dulunya digunakan oleh Theodore Metochites dan keluarganya, memberikan sentuhan sejarah yang sangat personal di dalam bangunan yang megah ini.

4. Perubahan fungsi dan penyesuaian ruang

Bagian dalam Masjid Kari, yang sebelumnya dikenal sebagai Gereja Chora, yang terletak di Istanbul, Turki., selama ibadah salat.
Bagian dalam Masjid Kari, yang sebelumnya dikenal sebagai Gereja Chora, yang terletak di Istanbul, Turki., selama ibadah salat. (commons.wikimedia.org/Bjelica)

Saat bangunan ini diubah menjadi masjid, dilakukan beberapa penyesuaian struktural untuk mendukung kegiatan ibadah umat Islam. Perubahan utama meliputi penambahan mihrab sebagai penanda arah kiblat dan mimbar sebagai tempat imam menyampaikan khutbah. Selain itu, lantai yang dulunya berupa ubin kini dilapisi karpet untuk kenyamanan jamaah saat salat berjamaah, serta pembangunan menara yang ramping untuk menggantikan fungsi menara lonceng gereja sebelumnya.

Seluruh proses adaptasi ini dilakukan dengan sangat cermat agar tetap menghormati struktur bangunan asli yang berciri khas Bizantium. Perlengkapan liturgi Kristen, seperti altar dan ikonostasis, dipindahkan untuk memberikan ruang yang tepat bagi tata cara ibadah Islam. Meskipun ada penambahan elemen baru, Masjid Kari tetap mempertahankan kemegahan arsitektur aslinya, sehingga menciptakan perpaduan harmonis antara jejak sejarah masa lalu dan fungsi religiusnya sebagai masjid hingga saat ini.

5. Ada harta karun mosaik dan fresko Bizantium

Lukisan dinding Anastasis (Kebangkitan), secara luas dianggap sebagai mahakarya seni Bizantium akhir. Lukisan ini terletak di paracclesion (kapel pemakaman samping) Masjid Kari di Istanbul, Turki.
Lukisan dinding Anastasis (Kebangkitan), secara luas dianggap sebagai mahakarya seni Bizantium akhir. Lukisan ini terletak di paracclesion (kapel pemakaman samping) Masjid Kari di Istanbul, Turki. (commons.wikimedia.org/Chris06)

Masjid Kari dikenal sebagai salah satu warisan seni Bizantium terbaik dari masa Renaisans Paleologan. Bagian dalam masjid ini menyimpan harta karun berupa mosaik dan lukisan dinding (fresko) abad ke-14 yang sangat mendetail, yang menggambarkan berbagai adegan biblika, silsilah keluarga Kristus, hingga kisah kehidupan Bunda Maria.

Keindahan karya seni tersebut tetap terjaga dengan luar biasa hingga saat ini berkat metode pelestarian yang unik di masa lalu. Alih-alih dihancurkan saat bangunan dialihfungsikan menjadi masjid, karya-karya bersejarah ini hanya ditutupi oleh lapisan plester. Langkah sederhana tetapi cerdas itulah yang menjaga warna dan detail seni tersebut tetap cerah dan terlindungi selama berabad-abad.

Masjid Kari adalah ruang hidup yang menjadi saksi bisu perpaduan harmonis antara dua peradaban besar dunia. Meskipun kini telah kembali berfungsi sebagai masjid, pengunjung dari berbagai latar belakang tetap disambut hangat untuk menikmati keindahan mosaik dan arsitektur Bizantium yang menakjubkan di dalamnya. Namun, sebagai bentuk penghormatan terhadap praktik ibadah, akses ke area tertentu mungkin akan dibatasi dan beberapa mosaik akan ditutup sementara selama waktu salat berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More