5 Fakta Pasukan Bela Diri Jepang, Beda Dari Unit Militer Negara Lain

- Pasukan Bela Diri Jepang dibentuk pada 1954 setelah demiliterisasi pascaperang, dengan tiga matra darat, laut, dan udara yang berorientasi pada pertahanan.
- Pasal 9 Konstitusi Jepang membatasi perang dan senjata ofensif; perdana menteri menjadi panglima tertinggi, sementara personelnya tunduk pada hukum sipil.
- Selain mengoperasikan alutsista lokal dan berlisensi AS, pasukan ini aktif dalam misi kemanusiaan serta menyesuaikan kemampuan menghadapi ancaman regional dan terorisme.
Ketika kapal perang Jepang yang dioperasikan oleh Pasukan Bela Diri Jepang matra laut atau yang dikenal dengan Japan Maritime Self-Defense Force, JS Kunisaki datang ke Kalimantan beberapa waktu yang lalu untuk membantu Indonesia memadamkan kebakaran hutan, mungkin sebagian dari kita notice tentang penamaan pasukan bela diri yang kebanyakan berbeda dari nama unit-unit militer negara lainnya. Sejarah mencatat, di era Perang Dunia (PD) II yang berkecamuk di wilayah Pasifik (1941-1945), angkatan perang Kekaisaran Jepang memiliki reputasi yang mencengangkan dunia mulai dari penyerangan Pearl Harbor, invasi ke sejumlah negara termasuk Indonesia hingga menyerahnya mereka kepada Sekutu setelah Sekutu yang dimotori Amerika Serikat (AS) menggunakan 2 buah bom atom untuk menghancurkan Kota Hiroshima dan Nagasaki di tahun 1945.
Menurut Britannica, setelah menyerah kepada Sekutu, pendudukan pasukan Sekutu (1945-1952) menjadi awal dari proses demiliterisasi Jepang. Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang dibubarkan dan Jepang mengadopsi konstitusi tahun 1947 yang menolak penggunaan kekuatan militer untuk menyelesaikan sengketa internasional serta melarang pembangunan kekuatan militer darat, udara dan lautnya kembali. Namun setelah terjadinya Perang Korea (1950-1953), sebagai bagian dari pembendungan paham komunisme oleh AS di Asia Timur, Jepang diizinkan membangun secara terbatas militernya untuk kepentingan defensif guna melindungi negaranya. Pada tahun 1954 Japan Self-Defense Force atau Pasukan Bela Diri Jepang resmi didirikan.
Ingin tahu lebih lanjut mengenai keunikan pasukan yang dibentuk setelah kekalahan Jepang di PD II ini? Simak lima fakta menariknya berikut ini, yuk!
1. Terdiri atas 3 matra

potret pembentukan Kepolisian Nasional Jepang di tahun 1952 sebagai cikal bakal pembentukan Pasukan Bela Diri Jepang (commons.wikimedia.org/Mainichi Newspapers Company) Serupa dengan unit militer konvensional suatu negara, Pasukan Bela Diri Jepang ini terdiri atas 3 matra: darat, laut dan udara. Dilansir laman Nihonkoku-Shoukan, pasukan matra darat dikenal dengan nama Japan Ground Self Defense Force (JGSDF), dibentuk pada tanggal 1 Juli 1954 dan jumlah pasukannya merupakan yang terbesar di antara ketiga matra tersebut. Jepang memiliki sejarah panjang dalam pertempuran yang melibatkan pasukan darat yang dapat ditelusuri sejak era Samurai hingga PD II saat mereka menguasai 25% wilayah bumi. Dalam era kemiliteran di masa lalu bangsa Jepang dikenal sebagai salah satu petarung tangguh.
Yang kedua adalah Pasukan Bela Diri Jepang matra laut atau yang dikenal dengan Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF). Jepang memiliki sejarah panjang terkait interaksi angkatan lautnya dengan negara-negara tetangganya di Asia. Meski tetap bersifat defensif, fokus Pasukan Bela Diri Jepang matra laut saat ini tak hanya pertahanan negaranya saja namun juga pertahanan pihak-pihak yang dianggap sebagai sekutu utamanya dalam menghadai konflik di Laut China selatan dan Semenanjung Korea. Yang ketiga adalah Pasukan Bela Diri Jepang matra udara atau Japan Air Self-Defense Force (JASDF) yang bertanggung jawab atas pertahanan wilayah udara Jepang serta operasi kedirgantaraan lainnya. JASDF melakukan patroli udara di sekitar Jepang sembari mengoperasikan jaringan sistem radar peringatan dini berbasis darat dan udara.
2. Beda dengan unit militer negara lain

potret Pasukan Bela Diri Jepang matra darat/Japan Ground Self-Defense Force dalam sebuah latihan (commons.wikimedia.org/US Army) Struktur Pasukan Bela Diri Jepang berbeda dengan unit militer konvensional negara maju lainnya. Militer negara tersebut dibatasi oleh pasal 9 konstitusi Jepang yang meniadakan hak Jepang untuk menyatakan perang atau menggunakan kekuatan militer dalam sengketa internasional. Ketentuan tersebut mencegah Jepang untuk saat ini melakukan penelitian dan pembuatan senjata ofensif. Karenanya Pasukan Bela Diri Jepang tak memiliki pesawat pengebom strategis jarak jauh. Untuk kepentingan defensifnya Jepang mengoperasikan sistem senjata anti rudal balistik canggih seperti SM-3 dan sistem pertahanan anti rudal: Patriot.
Namun demikian sebagaimana yang diberitakan BCC dalam artikelnya yang berjudul "Japan Cabinet Approves Landmark Military Change" diketahui terdapat sebuah amendemen yang kemudian dirumuskan dalam konstitusi yang memungkinkan Jepang untuk berpartisipasi dalam konflik untuk membela sekutunya yang diserang namun tetap dalam konteks ketat defensif dan pertahanan untuk melindungi seluruh rakyat Jepang. Kebijakan tersebut sempat menimbulkan kontroversi di masyarakat Jepang. Dalam kaitannya dengan struktur organisasi militer Pasukan Bela Diri Jepang, panglima tertinggi Pasukan ini adalah Perdana Menteri Jepang dan anggota Pasukan Bela Diri Jepang tersebut berada di bawah hukum sipil Jepang.
3. Mengoperasikan alutsista buatan lokal

potret jet tempur Mitsubishi F-15DJ milik Pasukan Bela Diri Jepang matra udara yang dibuat pabrikan Mitsubishi di bawah lisensi McDonnell Douglas (sekarang Boeing) (commons.wikimedia.org/Angelique Perez) Salah satu keunikan dari Pasukan Bela Diri Jepang ini adalah mereka mengoperasikan sejumlah alutsista modern yang dibuat oleh pabrikan lokal dan dibawah lisensi AS. Dalam sejarahnya, industri militer Jepang dikenal sangat kuat, saat era PD II, dikenal pesawat pemburu legendaris buatan pabrikan Mitsubishi yang menggetarkan pilot Sekutu di udara yakni A6M Zero dan kapal berjenis battleship terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah manusia, yakni: Battleship Yamato. Menurut laman Japan Ministry of Defense, dalam era modern ini Pasukan Bela Diri Jepang mengoperasikan sejumlah alutsista modern dan canggih buatan pabrikan lokal seperti tank tempur utama Type 10 untuk pasukan darat yang dibuat oleh Mitsubishi Heavy Industries, Ltd.
Untuk armada laut, Pasukan Bela Diri Jepang matra laut mengoperasikan sejumlah kapal perang berjenis destroyer, kapal selam, dan kapal pendarat tank (LST). Salah satu yang terkenal adalah kapal berjenis Izumo-class destroyers buatan Japan Marine Unit Corporation, kapal tersebut mampu membawa helikopter dan jet tempur generasi ke-5, F-35B di atas geladaknya. Izumo-class destroyers, merupakan kapal perang terbesar Jepang setelah PD II dengan bobot muatan penuh (displacement) mencapai 19.900-an ton. Untuk pasukan udaranya mengoperasikan jet tempur ikonik Mitsubishi F-15J/DJ buatan Mitsubishi Heavy Industries, Ltd. di bawah lisensi pabrikan AS. Jepang melalui pabrikan Kawasaki juga membuat helikopter angkut terkenal Chinook di bawah lisensi pihak Boeing. Helikopter tersebut dioperasikan oleh Pasukan Bela Diri Jepang matra darat dan udara.
4. Terlibat dalam banyak misi non-militer

potret kapal pendarat tank JS Kunisaki (LST-4003) milik Pasukan Bela Diri Jepang matra laut yang sedang berada di Kalimantan untuk penanganan karhutla (commons.wikimedia.org/JMSDF) Karena sifat struktrur organisasi Pasukan Bela Diri Jepang yang membatasi kemampuan militernya hanya sebagai kepentingan pertahanan tanah air Jepang dan bukan untuk misi militer ofensif, maka pasukannya lebih banyak terlibat dalam misi bantuan kemanusiaan akibat bencana alam dibandingkan dengan misi militer. Salah satu misi terbarunya, Jepang mengerahkan kapal pendarat tank (Landing Ship Tank/LST) bernama JS Kunisaki (LST-4003) untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang terjadi di Kalimantan saat ini. Kapal tersebut membawa 3 helikopter Chinook yang akan melakukan water bombing untuk memadamkan kebakaran hutan tersebut.
Dilansir laman Marine Insight, operasi penanggulangan karhutla di Kalimantan tersebut merupakan misi non-militer pemadaman kebakaran hutan pertama di luar negeri yang dilakukan oleh Pasukan Bela Diri Jepang. Pasukan Bela Diri Jepang telah dikenal reputasinya dalam misi bantuan kemanusiaan besar seperti: terlibat dalam operasi kemanusiaan dan pemulihan situasi ketika Aceh diterjang gempa bumi yang disusul dengan tsunami dahsyat di tahun 2004 silam, dan misi bantuan kemanusiaan domestik ketika di tahun 2011 Jepang dilanda gempa bumi besar dan tsunami yang dikenal dengan Tohoku earthquake. Pada tahun 2013 Pasukan Bela Diri Jepang juga terlibat dalam bantuan kemanusiaan untuk korban Topan Haiyan di Filipina, Topan Haiyan adalah salah satu siklon tropis terkuat yang pernah dicatat.
5. Adaptif terhadap masalah pertahanan abad ke-21

potret Pasukan Bela Diri Jepang matra darat bersama militer AS dalam sebuah latihan gabungan (commons.wikimedia.org/Dvids) Pasukan Bela Diri Jepang juga merupakan pasukan yang adaptif terhadap kompleksitas masalah pertahanan di abad ke-21. Berakhirnya era perang dingin dan meningkatnya ketegangan regional di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea serta permasalahan terorisme menuntut Pasukan Bela Diri Jepang untuk menyesuaikan diri dengan masalah pertahanan tersebut serta menafsirkan ulang sejumlah aturan defensif. Untuk masalah terorisme, Jepang telah membentuk pasukan khusus: Special Force Group (SFGp) yang dibentuk tahun 2004 dan Special Boarding Unit (SBU) yang dibentuk tahun 2001 yang memiliki kemampuan anti terorisme dan pembebasan sandera.
NHK melansir di tahun 2026 ini, Pasukan Bela Diri Jepang matra darat telah menunjukkan peluncur untuk senjata hipersonik mereka untuk pertama kalinya. Senjata tersebut memiliki jangkauan sekitar 1.000 km dan ini memberikan kemampuan Pasukan Bela Diri Jepang untuk melakukan serangan balasan (counterstrike) terhadap target militer lawan hanya jika Jepang diserang. Penggunaan senjata hipersonik tersebut telah memancing debat publik mengenai aturan konstitusi Jepang yang melarang penggunaan senjata ofensif namun perkembangan masalah keamanan regional juga tak menutup mata pemegang otoritas bahwa memiliki penangkal saja sudah tak relevan dalam sistem defensif. Penggunaan senjata tersebut dibatasi hanya untuk kelangsungan hidup nasional (national survival).
Meskipun bersifat defensif, namun Pasukan Bela Diri Jepang saat ini telah dikenal sebagai salah satu kekuatan militer yang kuat di wilayah Asia. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai kekuatan dan kiprah militer Jepang setelah era PD II, ya!



















