Archduke Franz Ferdinand dari Austria, yang pembunuhannya pada tahun 1914 menjadi katalisator Perang Dunia I. (commons.wikimedia.org/Ferdinand Schmutzer (1870–1928))
Perang Dunia I dipicu oleh peristiwa pembunuhan Pangeran Agung Austria, Franz Ferdinand, di Sarajevo pada Juni 1914. Aksi terorisme politik ini dilakukan oleh seorang nasionalis Serbia bernama Gavrilo Princip. Meski awalnya tampak seperti masalah lokal antara dua negara, kejadian ini menjadi "tombol pemicu" yang menyeret kekuatan-kekuatan besar di Eropa ke dalam krisis besar karena adanya ikatan janji bantuan militer antarnegara.
Di balik pembunuhan tersebut, ada akar masalah yang sudah lama tumbuh, seperti perlombaan senjata dan keinginan negara-negara Eropa untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka. Selain itu, semangat nasionalisme yang berlebihan dan persaingan industri membuat situasi politik menjadi tidak stabil. Pada masa itu, berkembang pula pemikiran bahwa hanya bangsa yang kuat yang akan bertahan, sehingga perang dianggap sebagai cara yang wajar untuk menunjukkan keunggulan.
Peran aliansi sangat krusial dalam memperluas skala perang ini. Eropa terbagi menjadi dua kubu besar, yaitu Triple Alliance (Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia) serta Triple Entente (Prancis, Rusia, dan Inggris). Meskipun aliansi ini awalnya dibentuk untuk saling menjaga keamanan, keberadaannya justru menciptakan ketergantungan yang berbahaya. Begitu Austria-Hungaria menyerang Serbia, seluruh anggota aliansi otomatis ikut berperang demi membela rekan mereka masing-masing.
Kondisi ini membuat jalur diplomasi tertutup karena setiap negara merasa terancam oleh kekuatan lawan. Jerman, misalnya, merasa terkepung oleh aliansi Prancis, Rusia, dan Inggris, sehingga mereka memilih jalur militer sebagai solusinya. Ketika Jerman mulai menyerbu wilayah lain, Inggris pun turun tangan, yang akhirnya mengaktifkan seluruh jaringan perjanjian militer dan mengubah benua Eropa menjadi medan perang global yang menghancurkan.