Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Spotted Shag, Burung yang Punya Kebiasaan Unik Menelan Kerikil

5 Fakta Spotted Shag, Burung yang Punya Kebiasaan Unik Menelan Kerikil
Spotted Shag (commons.wikimedia.org/Bernard Spragg. NZ)
Intinya Sih
  • Spotted shag adalah burung laut endemik Selandia Baru yang dikenal karena kebiasaan unik menelan kerikil untuk membantu pencernaan dan menjaga keseimbangan tubuh saat menyelam.
  • Burung ini berburu ikan dan cumi di laut lepas hingga 16 kilometer dari pantai, sering melakukannya secara berkelompok dengan kemampuan menyelam mencapai 70 detik.
  • Populasi Spotted shag di wilayah utara menurun drastis akibat degradasi habitat dan jaring ikan komersial, menyisakan sekitar 300 pasang di Firth of Thames.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Kawasan pesisir berbatu di wilayah Selandia Baru menjadi habitat bagi berbagai jenis burung laut yang memiliki perilaku berburu yang sangat spesifik. Salah satu spesies yang menarik perhatian adalah Spotted shag (Phalacrocorax punctatus), burung air endemik yang termasuk dalam keluarga kormoran. Satwa ini mudah dikenali karena memiliki pola warna bulu yang khas serta proporsi tubuh yang mendukung aktivitas menyelam di laut dalam.

Daya tarik utama dari burung laut ini terletak pada adaptasi biologis dan kebiasaan domestik mereka yang sangat tidak biasa untuk ukuran burung terbang. Mereka mengembangkan metode khusus untuk mempermudah proses pencernaan serta pengelolaan berat tubuh saat berada di dalam air. Yuk, simak lima fakta Spotted shag berikut ini!

1. Kebiasaan unik menelan kerikil dasar laut

Spotted Shag
Spotted Shag (commons.wikimedia.org/Bernard Spragg. NZ)

Burung laut ini memiliki perilaku makan yang sangat tidak biasa karena mereka sengaja mengumpulkan benda keras dari lingkungan sekitarnya. Dilansir laman New Zealand Birds Online, Spotted shag sering memiliki tumpukan batu kerikil kecil atau rangle di dalam organ gizzard mereka. Batu-batu kecil yang masuk ke dalam organ pencernaan ini tidak memberikan asupan nutrisi apa pun bagi metabolisme tubuh mereka.

Pemanfaatan kerikil di dalam perut ini berfungsi sebagai alat bantu mekanis untuk menggiling makanan yang mereka telan serta menciptakan kondisi lingkungan lambung yang tidak ramah bagi pertumbuhan parasit usus. Selain itu, kumpulan batu ini juga diperkirakan memiliki fungsi teknis sebagai beban pemberat atau ballast saat burung melakukan manuver selam di laut. Ketika sedang beristirahat di area pantai berpasir, burung-burung ini sering memuntahkan kembali tumpukan kerikil tersebut dalam bentuk gumpalan kecil.

2. Metode berburu selam wilayah perairan terbuka

Spotted Shag
Spotted Shag (commons.wikimedia.org/Avenue)

Aktivitas pencarian pakan yang dibantu oleh beban pemberat internal tersebut dilakukan dengan menjelajahi area laut lepas yang cukup jauh dari garis pantai. Masih dari laman New Zealand Birds Online, Spotted shag mampu terbang dan berburu mencari makanan di zona air dalam hingga sejauh 16 kilometer dari daratan. Burung ini mengincar berbagai jenis target mangsa mulai dari kelompok ikan berukuran kecil, cumi-cumi, hingga organisme plankton.

Mereka menangkap mangsa dengan cara menyelam langsung dari permukaan laut lalu mendorong tubuh mereka di bawah air menggunakan sepasang kaki berselaput. Rata-rata durasi waktu selam yang mereka lakukan adalah sekitar 30 detik dengan waktu jeda istirahat di permukaan selama 10 hingga 15 detik, meskipun rekam jejak selam terlama tercatat bisa mencapai 70 detik. Kebiasaan mencari makan ini terkadang dilakukan secara mandiri, namun mereka lebih sering terlihat berburu bersama dalam kelompok besar yang mengikuti pergerakan kawanan ikan.

3. Karakteristik visual bulu bintik musim kawin

Spotted Shag
Spotted Shag (commons.wikimedia.org/Bernard Spragg. NZ)

Perilaku berburu kelompok di laut terbuka tersebut didukung oleh tampilan fisik luar yang mengalami perubahan warna secara berkala saat memasuki siklus reproduksi. Dilansir laman Animalia, burung dewasa memiliki ciri khas berupa bintik-bintik hitam kecil di ujung bulu punggung serta sayap mereka yang berwarna abu-abu perak. Pola bintik inilah yang mendasari pemberian nama spesies burung laut dengan tinggi tubuh sekitar 64 hingga 74 sentimeter ini.

Tepat sebelum musim kawin dimulai, area kulit tanpa bulu di antara mata dan paruh mereka akan berubah warna menjadi hijau kebiruan yang sangat cerah disertai lingkar mata berwarna biru. Mereka juga menumbuhkan sepasang jambul hitam ganda yang melengkung ke depan di area dahi serta bagian belakang kepala. Karakteristik visual yang mencolok ini akan memudar secara perlahan dan jambul tersebut akan rontok ketika masa berkembang biak telah usai.

4. Struktur sarang koloni dinding tebing batu

Spotted Shag
Spotted Shag (commons.wikimedia.org/Szilas)

Perubahan fisik luar yang terjadi selama musim reproduksi tersebut menjadi awal dari fase pembentukan kelompok kerja sama di area daratan pesisir. Masih dari laman Animalia, tempat bertelur satwa ini dirakit dengan membentuk komunitas besar yang bisa mencapai 700 pasang di celah atau langkan tebing batu yang curam. Lokasi di dinding tebing vertikal yang berbatasan langsung dengan laut ini dipilih untuk mengamankan telur dari gangguan satwa darat.

Bahan dasar yang dipakai untuk merakit fondasi sarang beralas datar ini didominasi oleh ranting kayu kering, rumput, serta tanaman pantai yang dilapisi oleh tumpukan rumput laut. Di area koloni ini, pasangan burung yang bersifat monogami akan bergantian mengerami tiga hingga empat butir telur berwarna biru muda selama kurang lebih 30 hari. Kehadiran sarang kormoran ini juga sering didekati oleh kelompok burung camar paruh merah yang mengincar muntahan makanan dari anak-anak burung yang baru menetas.

5. Ancaman kepunahan populasi lokal wilayah utara

Spotted Shag
Spotted Shag (commons.wikimedia.org/Michal Klajban)

Aktivitas perkembangbiakan komunal di tebing pantai tersebut saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan kondisi lingkungan serta aktivitas manusia di sekitarnya. Dilansir laman Auckland Museum, habitat mereka yang berada di kawasan Teluk Hauraki, Auckland, mengalami kemerosotan jumlah yang sangat drastis selama abad ke-20. Kelompok burung di wilayah utara ini kini hanya menyisakan satu koloni utama di Firth of Thames dengan jumlah sekitar 300 pasang saja.

Berdasarkan analisis DNA para peneliti, kelompok burung laut dari wilayah Auckland ini memiliki struktur genetika berbeda dan terisolasi dari populasi besar di Pulau Selatan. Kemerosotan jumlahnya dipicu perubahan habitat buruan di laut serta penggunaan jaring ikan komersial yang membuat burung ini sering terjebak dan tenggelam saat menyelam. Fakta dari spesimen museum juga menunjukkan bahwa selama 150 tahun terakhir, burung-burung ini terpaksa berburu lebih jauh ke tengah laut dan mengonsumsi lebih sedikit ikan akibat menyusutnya pasokan makanan.

Spotted shag di wilayah pesisir Selandia Baru merupakan burung laut yang memiliki adaptasi khusus untuk hidup di udara dan laut. Kebiasaan menelan kerikil serta struktur tubuhnya membantu proses menyelam saat mencari makan di perairan pesisir. Perlindungan kawasan tebing pantai tetap penting agar area persarangan dan populasi burung laut endemik ini dapat dipertahankan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More