Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Ular Dugite, Reptil Unik yang Bisa Berubah Warna Saat Dewasa

5 Fakta Ular Dugite, Reptil Unik yang Bisa Berubah Warna Saat Dewasa
Ular Dugite (commons.m.wikimedia.org/Happytrails86)
Intinya Sih
  • Ular dugite asal Australia Barat dikenal dengan warna kulit beragam yang berubah makin gelap saat dewasa, membantu kamuflase dan pengaturan suhu tubuhnya.
  • Populasi dugite di kawasan perkotaan Perth menghadapi stres, berat badan lebih ringan, serta risiko kematian tinggi akibat aktivitas manusia dan relokasi paksa.
  • Bisa ular dugite berubah seiring usia, dari menyerang saraf pada masa muda menjadi pembeku darah saat dewasa, membuat gigitan sangat berbahaya bagi manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ular dugite sering kali menarik perhatian para pecinta reptil karena ragam warna kulitnya yang sangat memukau. Hewan dengan nama ilmiah Pseudonaja affinis ini memiliki tampilan yang unik, mulai dari warna cokelat zaitun, abu-abu, hingga hitam pekat yang dihiasi bintik-bintik gelap tidak beraturan. Keberadaan mereka di alam liar sebenarnya sangat membantu manusia, terutama dalam menjaga keseimbangan alam dengan cara mengendalikan populasi tikus yang sering menjadi hama.

Di balik penampilannya yang cantik, ular ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang sangat tangguh di berbagai tempat, mulai dari hutan lembap hingga area perkotaan yang ramai. Meski dikenal memiliki bisa yang kuat dan gerakan yang sangat gesit, dugite sebenarnya adalah makhluk yang pemalu dan lebih memilih untuk menjauh jika tidak diganggu. Mari kita simak lebih dalam mengenai keunikan sifat, cara berburu, hingga fakta-fakta menarik lainnya tentang ular penghuni Australia Barat ini.

1. Memiliki warna kulit yang beragam

Ular Dugite
Ular Dugite (commons.m.wikimedia.org/Cal Wood)

Ular dugite yang banyak ditemukan di wilayah Australia Barat memiliki ciri khas yang sangat menarik, yaitu warna kulitnya yang sangat beragam. Penampilan fisik ular ini bisa berubah-ubah, mulai dari warna cokelat zaitun, abu-abu, hingga hitam pekat. Selain warna dasar tersebut, tubuhnya juga sering dihiasi dengan bintik-bintik gelap yang tersebar tidak beraturan pada bagian sisik atasnya yang halus.

Perbedaan warna ini bukan tanpa alasan, melainkan berfungsi sebagai cara cerdik untuk bersembunyi dari pemangsa maupun mangsanya. Dengan warna yang bervariasi, ular ini dapat menyatu dengan mudah di berbagai tempat, seperti di antara tumpukan daun kering di hutan hingga di area padang pasir yang gersang.

Fenomena unik lainnya terjadi ketika ular ini beranjak dewasa. Warna kulit mereka cenderung berubah menjadi lebih gelap, terutama pada ular yang dipelihara di tempat penangkaran. Semakin tua usia ular tersebut, bintik-bintik gelap pada tubuhnya akan semakin jelas dan pekat. Perubahan warna menjadi lebih gelap ini sangat bermanfaat bagi ular untuk mengatur suhu tubuhnya agar tetap hangat serta membantunya lebih sulit terlihat di lingkungan yang lembap atau gelap.

2. Tantangan hidup ular dugite di kawasan perkotaan Perth

Ular Dugite
Ular Dugite (commons.m.wikimedia.org/Bradford G. Jones)

Fenomena unik terjadi di wilayah sekitar Perth, Australia Barat, di mana ular dugite mulai berpindah tempat tinggal ke area pemukiman manusia. Ular-ular ini kini banyak ditemukan di lokasi seperti lapangan golf, kawasan industri, hingga gudang-gudang tua. Faktor utama yang menarik kedatangan mereka adalah melimpahnya sumber makanan di kota, terutama tikus rumah yang sering hidup berdampingan dengan manusia.

Meskipun terlihat mudah mendapatkan makanan di kota, penelitian menunjukkan bahwa kehidupan di lingkungan perkotaan justru lebih berat bagi ular ini. Dibandingkan dengan kelompok ular yang hidup di alam liar, ular dugite di perkotaan ternyata memiliki berat badan yang lebih ringan dan lebih jarang berhasil menangkap mangsa. Hal ini diduga terjadi karena tingginya tingkat stres akibat gangguan aktivitas manusia yang terus-menerus serta persaingan yang lebih ketat di lingkungan tersebut.

Selain masalah kesehatan, risiko kematian ular di area perkotaan juga sangat tinggi, terutama akibat bahaya di jalan raya. Masalah lainnya muncul ketika warga mencoba memindahkan ular yang masuk ke pemukiman ke lokasi lain yang jauh. Ular yang dipindahkan paksa sering kali merasa bingung dan berusaha keras untuk kembali ke tempat asalnya. Pergerakan yang berlebihan ini justru membuat mereka lebih rentan tertabrak kendaraan atau diserang oleh pemangsa alami karena berada di wilayah asing yang tidak mereka kenal.

3. Racun ular mengalami perubahan fungsi seiring bertambahnya usia

Ular Dugite
Ular Dugite (commons.m.wikimedia.org/Lisa Bennett)

Racun atau bisa yang dimiliki oleh ular dugite ternyata mengalami perubahan fungsi seiring bertambahnya usia ular tersebut. Saat masih muda, racun ular ini lebih banyak mengandung zat yang menyerang saraf untuk melumpuhkan mangsa kecil seperti kadal. Namun, ketika sudah dewasa, racunnya berubah menjadi sangat kuat dalam membekukan darah agar bisa menaklukkan mangsa yang lebih besar seperti tikus atau mamalia lainnya.

Meskipun racunnya mengandung zat yang sangat mematikan bagi saraf, dampak utama yang dialami manusia saat digigit justru adalah kerusakan pada sistem pembekuan darah. Kondisi ini menyebabkan tubuh kehabisan zat pengental darah secara alami, sehingga korban berisiko mengalami pendarahan hebat di dalam tubuh yang sulit dihentikan.

Efek gigitan ular ini juga bisa menyebabkan seseorang pingsan atau mengalami gangguan jantung hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Oleh karena itu, pemberian obat penawar racun atau anti venom harus dilakukan dengan sangat cepat untuk mencegah pendarahan fatal, terutama pada bagian otak. Kecepatan penanganan medis menjadi kunci utama karena kerusakan saraf yang sudah terjadi sering kali sulit dipulihkan kembali meskipun racun di dalam darah telah dinetralkan.

4. Memiliki perilaku agresif dan kecepatan serangan yang luar biasa

Ular Dugite
Ular Dugite (commons.m.wikimedia.org/Happytrails86)

Ular dugite sebenarnya adalah hewan yang pemalu dan biasanya akan berusaha lari jika bertemu manusia. Namun, ular ini bisa menjadi sangat galak dan berbahaya jika merasa terpojok atau terancam. Saat merasa terganggu, ular ini akan mengangkat bagian depan tubuhnya hingga membentuk huruf "S" yang kaku sambil mengeluarkan suara desisan yang keras untuk menakuti lawannya.

Pertemuan jarak dekat dengan ular ini sangat berisiko karena mereka memiliki kecepatan serangan yang luar biasa. Ular dugite sering kali mengarahkan gigitannya ke bagian tubuh yang lebih tinggi dan mampu menggigit berkali-kali dalam satu rangkaian serangan. Hal ini menjadikannya ancaman serius, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi hewan peliharaan yang tidak sengaja mendekat.

Dalam urusan mencari makan, ular ini termasuk pemburu yang aktif pada siang hari dengan mengandalkan penglihatan yang tajam dan indra penciuman dari lidahnya. Mereka sering melacak tikus hingga ke dalam lubang atau di bawah tumpukan puing-puing. Selain menggunakan bisa yang mematikan, ular ini juga sering melilit mangsanya agar tidak bisa kabur. Uniknya, ular dugite dewasa juga diketahui sering memangsa ular lain yang ukurannya hampir sama besar dengan tubuh mereka sendiri.

5. Perbedaan ukuran tubuh ular dugite berdasarkan tempat tinggal

Ular Dugite
Ular Dugite (commons.m.wikimedia.org/botanygirl)

Ular dugite menunjukkan proses perkembangan alami yang sangat menarik melalui pembagian tiga kelompok jenis yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena sebagian ular hidup di daratan utama Australia Barat, sementara sebagian lainnya terisolasi di pulau-pulau kecil di lepas pantai. Pemisahan tempat tinggal dalam waktu yang lama ini menyebabkan perubahan fisik yang mencolok pada ular-ular tersebut.

Ular dugite yang tinggal di daratan utama biasanya memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar dan pilihan warna kulit yang lebih beragam. Sebaliknya, ular yang hidup di Pulau Rottnest dan Kepulauan Recherche justru memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil atau kerdil. Selain badannya yang kecil, warna kulit ular di pulau-pulau tersebut juga cenderung lebih gelap dan terlihat serupa satu sama lain.

Keterbatasan sumber makanan di pulau kecil juga memaksa ular-ular ini untuk mengubah kebiasaan makan mereka. Karena sulit menemukan tikus atau hewan menyusui lainnya, ular di pulau tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada kadal lokal untuk bertahan hidup.

Ular dugite memang spesies yang sangat unik dengan segala variasi warna dan kemampuan adaptasinya yang luar biasa di berbagai lingkungan. Meski memiliki reputasi sebagai pemangsa yang gesit dan punya bisa yang kuat, memahami karakter serta cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar dapat membantu kita lebih waspada dan tenang saat berpapasan dengan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More