Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Unik Pulau Lord Howe, Habitat Bagi Serangga Terlangka di Dunia!

5 Fakta Unik Pulau Lord Howe, Habitat Bagi Serangga Terlangka di Dunia!
Potret Pulau Lord Howe (unsplash.com/Dylan Shaw)
Intinya Sih
  • Pulau Lord Howe di Australia dikenal sebagai habitat serangga tongkat raksasa yang sempat dianggap punah, kini berhasil diselamatkan lewat program penangkaran setelah ditemukan kembali di Ball’s Pyramid.
  • Lanskap vulkanik purba dengan Gunung Gower dan Lidgbird menciptakan panorama dramatis, dikelilingi laut kaya biota seperti lebih dari 500 jenis ikan dan puluhan spesies karang unik.
  • Ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia, pulau ini menjaga ekosistem lewat aturan ketat pembatasan pengunjung dan pemeriksaan barang demi melindungi flora-fauna endemik yang langka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pulau Lord Howe di Australia mungkin belum sering masuk daftar destinasi populer. Padahal, pesonanya mampu menyaingi tempat terkenal lain. Lanskap hijau berpadu laut biru jernih menciptakan pemandangan yang langsung mencuri perhatian.

Di balik ketenangan itu, tersimpan cerita unik yang jarang orang tahu. Mulai dari kisah serangga langka yang sempat dikira punah sampai ekosistem yang dijaga dengan aturan ketat. Nah, biar gak penasaran, simak enam fakta tentang Pulau Lord Howe berikut ini!

1. Dihuni “serangga tongkat raksasa” yang sempat dianggap punah

Dryococelus australis
Dryococelus australis (commons.wikimedia.org/Granitethighs, CC BY-SA 3.0) <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0>

Pulau Lord Howe merupakan habitat asli serangga tongkat raksasa atau Dryococelus australis. Ukuran serangga ini bisa mencapai 12 cm, jauh di atas rata-rata serangga tongkat lain. Bentuk tubuhnya panjang dan kokoh, dengan warna gelap yang memberi kesan misterius.

Menariknya, Dryococelus australis pernah dinyatakan punah selama puluhan tahun. Kehadirannya hilang seusai tikus masuk ke pulau dan mengganggu keseimbangan alam. Untungnya, di awal tahun 2000-an, sekelompok kecil ditemukan hidup di Ball’s Pyramid, sebuah batu karang terjal di dekat pulau utama. Penemuan itu kemudian mendorong program penangkaran untuk memperbanyak jumlahnya.

2. Lanskap vulkanik yang dramatis dan berlapis

Potret Gunung Gower dan Gunung Lidgbird
Potret Gunung Gower dan Gunung Lidgbird (unsplash.com/Dylan Shaw)

Asal-usul Pulau Lord Howe berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik jutaan tahun silam. Sisa gunung api purba terlihat lewat dua puncak utama, yaitu Gunung Gower dan Gunung Lidgbird. Gunung Gower menjulang hingga 875 meter dan tampak dominan dari tiap sisi pulau.

Di bagian bawah, hutan lebat menutupi hampir seluruh daratan. Semakin naik, jenis vegetasi berubah mengikuti kondisi lingkungan. Jalur menuju puncak tergolong menantang dan biasanya memerlukan waktu berjam-jam. Namun ketika tiba di atas, pemandangan laut lebar tanpa batas jadi “hadiah” yang sepadan.

Wilayah laut di sekelilingnya pun tak kalah indah. Terumbu karang di kawasan ini berada di titik paling selatan penyebaran karang dunia. Dilansir laman Lord Howe Island Museum, lebih dari 500 jenis ikan hidup di perairan ini, berdampingan dengan puluhan spesies karang. Terdapat pula sekitar 70 jenis echinodermata, ratusan moluska, serta beragam krustasea dan organisme laut lainnya.

3. Kaya akan spesies endemik

Howea forsteriana
Howea forsteriana (commons.wikimedia.org/Daderot)

Isolasi geografis Pulau Lord Howe membuka ruang bagi banyak spesies untuk berkembang dengan cara berbeda. Salah satu contohnya adalah Howea forsteriana atau kentia palm. Tanaman ini tumbuh alami di Pulau Lord Howe, lalu menyebar ke sejumlah negara sebagai tanaman hias favorit. Permintaannya stabil dan nilainya cukup tinggi di pasar internasional.

Tidak hanya flora, kawasan ini juga dihuni beragam fauna endemik. Burung seperti Gerygone insularis berkembang dalam lingkungan yang relatif minim predator. Tercatat ada belasan jenis burung khas dan lebih dari 1.600 spesies serangga. Sebagian besar di antaranya tidak ditemukan di tempat lain. Di tahun 1982, UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia. Status tersebut diberikan demi melindungi kekayaan hayati yang ada.

4. Komunitas kecil dengan aturan ketat

Potret Pulau Lord Howe
Potret Pulau Lord Howe (unsplash.com/Dylan Shaw)

Lord Howe Island menerapkan aturan lingkungan yang sangat disiplin. Jumlah pengunjung dibatasi cuma sekitar 400 orang dalam satu waktu. Dengan begitu, tekanan terhadap lingkungan bisa dikendalikan.

Setiap barang yang masuk ke pulau diperiksa secara detail. Hal ini bertujuan mencegah masuknya spesies asing yang dapat merusak ekosistem. Upaya ini terbukti efektif menjaga keseimbangan flora dan fauna lokal.

5. Destinasi eksklusif yang tidak mudah dijangkau

Lord Howe Island
Lord Howe Island (flickr.com/Marcello Saponaro, CC BY 2.0) <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/>

Perjalanan menuju Pulau Lord Howe dimulai dari Sydney. Penerbangan tersedia dalam jumlah terbatas dengan kapasitas kecil. Alasannya karena bandara di pulau ini hanya bisa melayani pesawat tertentu.

Setibanya di lokasi, pengunjung akan langsung disambut pemandangan asri. Pantai bersih dan air jernih menjadi daya tarik utama. Aktivitas snorkeling memungkinkan wisatawan melihat ratusan jenis ikan dari jarak dekat. Jalur hiking pun tersedia bagi yang ingin menjelajah daratan. Disini, tidak ada keramaian berlebihan yang mengganggu pengalaman. Setiap aktivitas dapat dinikmati dengan lebih leluasa.

Pulau Lord Howe membuktikan bahwa keindahan alam bisa berjalan seiring dengan upaya pelestarian yang serius. Keunikan flora dan fauna di dalamnya jadi pengingat betapa rapuh sekaligus berharganya ekosistem yang terjaga. Kalau dikelola dengan bijak, tempat ini bukan hanya memukau, tapi juga dapat bertahan untuk generasi berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More