Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hewan yang Punya Circle Pertemanan Paling Sehat, Sweet Banget!
burung parkit (pexels.com/Regana)
  • Lima hewan seperti parkit, sapi, simpanse, lumba-lumba, dan babi menunjukkan hubungan sosial yang erat dan saling mendukung demi kesejahteraan serta kebahagiaan bersama.
  • Penelitian mengungkap bahwa interaksi sosial pada hewan-hewan ini membantu menurunkan stres, memperkuat ikatan emosional, hingga meningkatkan keberhasilan reproduksi dan kesehatan mental.
  • Dari udara hingga laut, perilaku saling merawat dan berempati membuktikan bahwa koneksi sosial penting bagi kelangsungan hidup setiap makhluk di alam liar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pertemanan yang sehat juga didambakan oleh sekelompok hewan. Di mana hubungan sosial ini adalah ruang yang aman dan bahagia bagi hewan-hewan yang menolak hidup soliter. Di alam liar, mereka saling membutuhkan satu sama lain dan tak ada kompetisi di dalamnya. Baik di kehidupan udara, darat, dan air, mereka menunjukkan betapa hangatnya hidup berdampingan dengan sahabat.

Mereka menunjukkan gestur kasih sayang yang berbeda-beda, di mana perilaku ini mungkin tampak sederhana, namun menyimpan banyak makna. Bahkan, layaknya kehidupan manusia, hewan ini akan mengecilkan kelompoknya seiring bertambahnya usia, ada juga yang membentuk ikatan persahabatan demi menolak penuaan. Mari kita intip kehidupan 5 hewan yang punya circle pertemanan sehat ini.

1. Burung parkit

Burung parkit (pexels.com/Sayan)

Parkit adalah burung liar yang sangat sosial, di mana mereka sering membentuk ikatan sosial yang erat. Mempertahankan ikatan sosial yang erat ini umumnya dikaitkan dengan tingkat stres yang lebih rendah dan keberhasilan reproduksi yang lebih tinggi. Namun, kontak pertama itu bisa menimbulkan risiko. Ketika hewan-hewan tersebut tidak saling mengenal, mereka mungkin saling menggigit, mendesis, atau mengejar satu sama lain.

Adanya sebuah studi, yang mana tim menggabungkan kelompok-kelompok parkit yang ditangkap dari alam liar di dalam kandang terbang yang besar. Beberapa parkit dalam kelompok tersebut adalah burung yang tidak saling kenal, sementara sisanya lebih akrab.

Tim kemudian mengumpulkan data tentang kapan dan bagaimana hubungan baru terbentuk, dengan mengamati seberapa dekat burung-burung tersebut secara fisik dari waktu ke waktu, burung mana yang saling merawat, dan perilaku ramah lainnya. Saat pengamatan, tim kemudian mencatat adanya lima interaksi fisik yang meliputi:

  • Interaksi kontak bahu, di mana dua burung bertengger bersebelahan sehingga saling bersentuhan.

  • Salopreening, yakni perawatan sosial dalam bentuk saling membersihkan bulu.

  • Saling menyentuh paruh

  • Pemberian makan antar individu dengan memuntahkan makanan ke paruh individu lain.

  • Persetubuhan

2. Sapi

Sapi (pexels.com/Alwi)

Sapi tidak hanya setia pada induknya, mereka juga menjalin pertemanan di dalam kawanan. Melansir World Animal Protection, penelitian menunjukkan bahwa sapi saling merawat satu sama lain bukan hanya untuk menjaga kebersihan, tetapi juga untuk memperkuat ikatan sosial mereka. Perawatan timbal balik ini, dikenal sebagai perawatan bersama atau allogrooming, sering kali mencerminkan persahabatan antar sapi.

Sapi cenderung memiliki pasangan tertentu yang lebih mereka sukai untuk dirawat dan merumput di sampingnya. Perilaku saling merawat secara sosial ini juga dapat membantu mengurangi ketegangan oleh persaingan mencari makan antar individu. Sapi membentuk persahabatan berdasarkan kesamaan sifat kepribadian. Misalnya, sapi yang lebih pemalu mungkin akan tertarik pada sapi-sapi yang lebih pemalu dalam kawanan, sementara sapi yang lebih sosial akan lebih cocok dengan teman-teman mereka yang ekstrovert.

3. Simpanse

Simpanse (pexels.com/Susanne)

Seiring bertambahnya usia, simpanse lebih memilih fokus pada lingkaran sosial yang lebih kecil, dan dengan simpanse yang telah menghabiskan waktu paling lama, di mana mereka mengembangkan persahabatan yang bermakna dan lebih langgeng.

Melansir BBC, adanya sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science ini dilakukan oleh para peneliti di Departemen Biologi Evolusi Manusia Universitas Harvard. Mereka menghabiskan 15 tahun mempelajari 21 simpanse di Taman Nasional Kibale di Uganda.

Semua simpanse tersebut berjenis kelamin jantan dan berusia antara 15 hingga 58 tahun, mereka memilih untuk hanya fokus pada simpanse jantan karena cenderung membentuk ikatan yang lebih kuat dengan simpanse lain dibandingkan simpanse betina.

Peneliti melihat bahwa hewan-hewan tersebut menunjukkan banyak perilaku yang sama seperti manusia yang lebih tua. Mereka juga menghabiskan waktu bersama teman-teman yang memiliki hubungan positif dengan mereka, di mana lebih seperti prinsip saling membantu. Simpanse yang berusia 40 tahun ke atas dengan senang hati akan menghabiskan waktu saling merawat satu sama lain, secara bergiliran.

4. Lumba-lumba

Lumba-lumba (pexels.com/Emilio)

Melansir The Conservation, para peneliti di Shark Bay, Australia Barat, telah mengamati kehidupan sekelompok lumba-lumba hidung botol Indo-Paisifik yang sangat tidak biasa. Dalam kelompok ini, lumba-lumba jantan membentuk salah satu sistem sosial paling kompleks yang dikenal di luar manusia, lengkap dengan persahabatan seumur hidup, dan aliansi yang saling mendukung. Diketahui, persahabatan antar lumba-lumba lebih dari sekadar kunci kesuksesan sosial dan reproduksi, di mana persahabatan ini sebenarnya dapat memperlambat penuaan biologis.

Tapi kenapa persahabatan dalam lumba-lumba dapat memperlambat penuaan? Dalam kelompok lumba-lumba, isolasi meningkatkan kortisol dan peradangan, yang keduanya dikenal sebagai faktor yang mempercepat penuaan. Selain itu, kerjam sama juga menurunkan biaya energi, artinya sekutu lumba-lumba dapat membantu mempertahankan, mencari makan, dan menavigasi lanskap sosial yang kompleks, mengurangi beban fisiologis pada setiap individu.

5. Babi

Babi (pexels.com/Wei86)

Babi akan lebih bahagia, lebih sehat, dan berperilaku lebih baik terhadap manusia jika mereka hidup berpasangan atau berkelompok dan memiliki persahabatan yang stabil. Seperti manusia, sebagian besar babi lebih bahagia ketika mereka memiliki persahabtan yang baik dan stabil serta waktu untuk bersosialisasi dengan sesama jenis. Babi yang hidup bersama teman-teman tidak hanya menikmati manfaat persahabatan sesama spesies, tetapi mereka juga cenderung memiliki hubungan yang lebih baik dengan manusia.

Melansir Best Friend Animal Society, babi yang lebih sering hidup sendirian sepanjang hidup cenderung tidak tau bagaimana bergaul dengan babi lain. Bagi mereka, perilaku yang dipelajari (jenis perilaku yang hanya bisa mereka dapatkan dari babi lain) kurang atau bahkan tidak ada. Akibatnya, beberapa babi yang hidup sendirian menjadi perusak di rumah mereka atau menunjukkan perilaku yang tidak pantas atau agresif.

Dengan melihat kelima hewan ini membangun persahabatan, mengingatkan kita bahwa koneksi dan empati dalam sosial begitu penting untuk bertahan hidup. Tidak ada yang bisa hidup sendirian, setiap makhluk hidup saling membutuhkan yang lain entah itu untuk mencari makan, reproduksi, dan menjaga kesehatan mental layaknya hewan-hewan di atas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article