Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Spesies Marmot Unik dari Genus Marmota, Hidup di Pegunungan Dingin

marmot tanah
marmot tanah (commons.wikimedia.org/Rodrigo.Argenton)
Intinya sih...
  • Marmot tanah hidup di Amerika Utara, sering merusak kebun dan taman, serta memiliki legenda unik.
  • Marmot perut kuning merupakan herbivor yang sering memakan dedaunan, bunga, dan biji-bijian.
  • Marmot alpen hidup di Pegunungan Alpen, Eropa, sudah beradaptasi untuk hidup di area dingin dan bersuhu esktrem.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Marmota merupakan genus mamalia berukuran kecil yang hidup di dataran tinggi dan ahli menggali. Masuk ke ordo Rodentia genus Marmota memiliki kekerabatan yang dekat dengan tikus, tupai tanah, dan chimpunk. Secara luas genus Marmota sering disebut sebagai marmot atau marmut. Spesies dari genus Marmota juga ada banyak, bahkan beberapa di antaranya cukup unik.

Spesies pertama adalah marmot tanah yang menjadi pelopor hari marmot atau marmot day. Di sisi lain ada juga marmot alpen yang merupakan satwa endemik benua Eropa. Marmot himalaya juga hadir dan ia mampu hidup di suhu ekstrem serta ketinggian mencapai 5000 meter di atas permukaan laut. Ingin mengulik tentang semua spesies tersebut? Yuk, simak artikel ini dengan seksama.

1. Marmot tanah

marmot tanah
marmot tanah (commons.wikimedia.org/Simon Pierre Barrette)

Dilansir Britannica, Marmota monax atau marmot tanah bisa ditemukan di Amerika Utara. Di wilayah penyebaran aslinya, hewan ini cukup terkenal karena sering merusak kebun dan taman. Masyarakat lokal memiliki legenda yang unik tentang hewan ini. Dikatakan, marmot tanah akan selesai berhibernasi pada tanggal 2 Februari dan hari tersebut dinobatkan sebagai hari marmot atau marmot day.

Ukurannya cukup besar dengan panjang maksimal 50 centimeter dan bobot 6 kilogram. Bulunya cukup tebal dan hal tersebut digunakan hewan ini untuk melindungi diri dari musim dingin yang ekstrem. Seperti spesies lain, marmot tanah sangat pandai menggali, tapi ia juga memiliki kemampuan berenang yang baik. Di beberapa kesempatan, bahkan ia bisa memanjat semak-semak dan bebatuan.

2. Marmot perut kuning

Marmot perut kuning
Marmot perut kuning (commons.wikimedia.org/Diliff)

Seperti namanya, hewan dengan nama ilmiah Marmota flaviventris ini punya perut kekuningan. Tubuh bagian atasnya lebih gelap dengan perpaduan warna hitam, abu-abu, dan gradasi putih. Dilansir U.S. National Park Service, panjang marmot perut kuning sekitar 45-68 centimeter dan bobot maksimalnya ada di angka 5,4 kilogram. Soal habitat, marmot perut kuning sering dijumpai di bebatuan, padang rumput, dan gua.

Biasanya marmot perut kuning akan kawin setelah mencapai usia dua tahun. Dalam setahun, individu betina bisa melahirkan sekitar 4-6 anak. Tentunya hal tersebut membuat populasi hewan ini cukup stabil. Layaknya spesies lain, marmot perut kuning merupakan herbivor yang sering memakan dedaunan, bunga, dan biji-bijian.

3. Marmot alpen

marmot alpen
marmot alpen (commons.wikimedia.org/Uoaei1)

Dilansir Animal Diversity Web, Marmota marmota atau marmot alpen bisa ditemukan di Pegunungan Alpen, Eropa. Karena hidup di pegunungan, ia sudah beradaptasi untuk hidup di area dingin dan bersuhu esktrem. Dalam hal ini, badannya yang berlemak dan bulu lebatnya melindungi marmot alpen dari salju, badai, dan habitat yang membeku.

Marmot alpen tergolong spesies yang cukup besar. Bayangkan saja, panjangnya mencapai 73 centimeter dan bobot maksimalnya ada di angka 8 kilogram. Untungnya ia tetap lincah, kuat, dan cepat. Tak cuma bisa menggali lubang, bahkan marmot alpen bisa memanjat tebing, bebatuan, masuk ke sela-sela sempit, dan juga bisa bergerak dengan gesit di pegunungan yang terjal.

4. Marmot himalaya

marmot himalaya
marmot himalaya (commons.wikimedia.org/Siddhesh S Nimkar)

Sama seperti marmot alpen, Marmota himalayana atau marmot himalaya juga hidup di pegunungan yang tinggi dan dingin. Dikutip Animalia, wilayah penyebarannya mencakup Pegunungan Himalaya, Cina, India, Nepal, dan Pakistan. Selain itu marmot himalaya juga dibagi menjadi dua subspesies, yaitu Marmota himalayana himalayana dan Marmota himalayana robusta.

Marmot himalaya bisa hidup di daerah dengan ketinggian sekitar 3000 hingga 5000 meter di atas permukaan laut. Dengan hidup di pegunungan, ia menjadi lebih aman dari ancaman predator seperti manusia dan kucing besar. Di sisi lain hidup di pegunungan membuat marmot ini cukup terisolasi dari hewan lain. Terkadang ia juga kesulitan mencari makanan karena pegunungan jarang ditumbuhi vegetasi.

5. Marmot ekor panjang

marmot ekor panjang
marmot ekor panjang (commons.wikimedia.org/Mvshreeram)

Laman iNaturalist menjelaskan kalau Marmota caudata atau marmot ekor panjang punya ekor sepanjang 16-28 centimeter. Lebih lanjut, ekor tersebut memakan sekitar 37-55 persen dari keseluruhan panjang tubuhnya. Jika dibandingkan, maka bisa disimpulkan kalau ekor hewan ini jauh lebih panjang dari spesies marmot lain.

Marmot ekor panjang bisa dijumpai di Asia Tengah, selatan, dan timur. Negara seperti Afghanistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, India, dan Cina merupakan wilayah penyebaran alaminya. Habitatnya cukup beragam, mulai dari padang rumput di ketinggian 600 mdpl hingga pegunungan di ketinggian 5200 mdpl. Selain itu wilayah jelajah hewan ini cukup luas, yaitu mencapai 7,5 hektar.

Genus Marmota hadir untuk mengisi kekosongan habitat di pegunungan dan dataran tinggi. Di saat hewan lain memilih hidup di hutan atau area pesisir, marmot dari genus Marmota justru mengisolasi diri di daerah yang tinggi. Habitat tersebut memaksa genus Marmota untuk beradaptasi. Bulu tebal, kemampuan menggali, dan gerakan lincah merupakan beberapa adaptasinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

Kenapa Kucing Makan Rumput? Ternyata Ini Penyebabnya!

09 Jan 2026, 11:34 WIBScience