Comscore Tracker

Pertama Kalinya, Peneliti Temukan Mikroplastik di Antarktika

Alarm siaga 1 pencemaran lingkungan

Pencemaran lingkungan masih jadi salah satu masalah yang sampai saat ini tidak bisa dikendalikan manusia. Dengan perkembangan teknologi, apakah manusia harus mengorbankan Ibu Pertiwi? Padahal, jika dibiarkan, manusia yang kena imbasnya.

Bahkan, temuan baru memperingatkan manusia untuk menindaklanjuti pencemaran lingkungan secepatnya. Untuk pertama kalinya, peneliti temukan jejak mikroplastik di daerah Antarktika, benua paling dingin dan kutub selatan Bumi. Apa artinya? Mari simak baik-baik penelitiannya!

1. Meneliti keanehan alam di Antarktika

Pertama Kalinya, Peneliti Temukan Mikroplastik di AntarktikaGunung Erebus di Pulau Ross, Antarktika. (britannica.com)

Mikroplastik telah menyebar ke berbagai pelosok Bumi. Dipublikasikan dalam jurnal The Cryosphere pada awal Juni 2022, para peneliti Selandia Baru mencatat bahwa data mengenai pengukuran mikroplastik masih tidak tersedia hingga saat ini.

Oleh sebab itu, para peneliti Selandia Baru berangkat ke Antarktika, tepatnya ke Pulau Ross. Dari akhir November sampai awal Desember 2019, mereka mengumpulkan sampel salju dari 19 lokasi (enam lokasi dekat stasiun peneliti dan 13 lokasi yang tak disentuh manusia).

Baca Juga: Pertama Kali, Mikroplastik Ditemukan di Paru-paru Manusia

2. Hasil: Mikroplastik sudah menyentuh Antarktika

Setelah dikumpulkan, para peneliti kemudian membawa sampel salju tersebut kembali ke Selandia Baru untuk diteliti. Menggunakan micro-Fourier transform infrared spectroscopy (µFTIR), para peneliti menemukan sebanyak 109 partikel mikroplastik di seluruh 19 sampel salju Antarktika tersebut.

Para peneliti mencatat bahwa mikroplastik tak bisa diremehkan. Endapan mikroplastik bisa membuat lapisan es dan salju di kriosfer mencair lebih cepat, terutama di lokasi pegunungan dan kutub Bumi. Dari mana asal mikroplastik di Antarktika tersebut?

Para peneliti mencatat bahwa angin membawa mikroplastik ke Antarktika, dan beberapa mikroplastik diketahui tertiup dari laut ke salju. Para peneliti juga mencatat bahwa konsentrasi mikroplastik dalam salju lebih tinggi dibanding Laut Ross dan lapisan es Antarktika Timur.

3. Bisa membahayakan lingkungan dan makhluk hidup Antarktika

Bukan hanya berbahaya untuk lingkungan, keberadaan mikroplastik juga berbahaya untuk satwa endemik Antarktika. Makhluk seperti penguin gentoo (Pygoscelis papua), Adélie (P. adeliae), tali dagu (P. antarcticus) and raja (Aptenodytes patagonicus) diketahui mengonsumsi mikroplastik.

Para peneliti mencatat bahwa penguin Antarktika terpapar mikroplastik saat musim kawin. Jika dibiarkan saja, studi bertajuk "First evidence of microplastics in Antarctic snow" ini memperingatkan bahwa populasi penguin di Antarktika bisa menurun hingga 81 persen per tahun 2100 mendatang.

Dilaporkan sejak 1990, para peneliti mencatat bahwa mikroplastik telah menjadi masalah di perairan Antarktika. Konsumsi mikroplastik oleh makhluk hidup dikhawatirkan bisa mengacaukan rantai makanan Antarktika karena efek negatif untuk kesehatan makhluk hidup di kawasan tersebut.

"Organisme Antarktika telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan ekstrem selama jutaan tahun, dan perubahan lingkungan secara pesat ini... mengancam ekosistem unik tersebut," tulis para peneliti.

Pertama Kalinya, Peneliti Temukan Mikroplastik di Antarktikailustrasi mikroplastik di tangan manusia (geographical.co.uk)

Ditandatangani di Madrid, Spanyol, pada 1991 dan berlaku pada 1998, Protocol on Environmental Protection to the Antarctic Treaty adalah bukti kesungguhan dunia untuk melindungi Antarktika. Namun, dengan meningkatnya polusi dunia, kesungguhan tersebut dipertanyakan.

Hasil dari studi ini adalah bukti pertama bahwa mikroplastik telah menjamah daerah Antarktika, sebuah data yang tak tersingkap sebelumnya. Oleh karena itu, para peneliti menyerukan perlunya kebijakan baru untuk menangani bahaya mikroplastik di Antarktika dalam jangka panjang.

Studi ini memang lebih berfokus pada polusi mikroplastik laut Antarktika. Oleh karena itu, para peneliti Selandia Baru berharap penelitian dan kebijakan di masa depan bisa menggunakan pendekatan holistik dan mempertimbangkan dampak udara dan terestrial juga.

Baca Juga: Tak Kasat Mata, Bahaya Nyata Mikroplastik untuk Kesehatan

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya