Comscore Tracker

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di Dunia

Menghilangkan "joga bonito" sepak bola

"Jika esok kita menonton pertandingan sepak bola dan sudah tahu hasilnya, sepak bola sudah mati."

Itulah kata Michel Platini, salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa yang pernah menjabat sebagai Presiden ke-6 FIFA. Ironisnya, pada 2015, Platini terciduk kasus korupsi dan dilarang mengikuti administrasi dan kegiatan sepak bola hingga 2023.

Sayangnya, saat uang turut campur, sportivitas pun ditinggalkan. Sepanjang sejarah sepak bola, uang sering mengatur jalan pertandingan agar hasilnya sesuai dengan yang dikehendaki oknum tertentu. Tidak percaya? Inilah beberapa skandal pengaturan skor paling memalukan dalam sejarah sepak bola!

1. Totonero (1980)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaAC Milan sempat terdegradasi ke Serie B akibat kasus totonero (sempremilan.com)

Semua berawal pada 1946, saat Italia memperbolehkan sistem Totocalcio, di mana rakyat Italia boleh bertaruh sepak bola. Kuncinya, mereka harus menebak dengan tepat 12 hasil pertandingan. Seharusnya, sulit untuk diatur skornya, 'kan?

Pada 1979, Alvaro Trinca dan Massimo Cruciani memutuskan untuk mengatur skor. Pertandingan pertama yang diatur adalah antara Lazio dan Palermo pada November 1979 dan berakhir seri. Namun, setelahnya, pengaturan skor tidak berhasil sehingga Trinca dan Cruciani kehilangan 100 juta lira (hampir Rp6,2 miliar per 2022)

Pada 1980, Trinca dan Cruciani melaporkan insiden tersebut beserta nama 27 pemain dan 13 klub Serie A dan Serie B. Selain kedua sosok tersebut, presiden A.C. Milan, Felice Colombo juga ditangkap dan dicopot jabatannya.

Saat itu, hukum sepak bola Italia belum mengatur mengenai pengaturan skor. Jadi, beberapa pemain, termasuk legenda Italia Paolo Rossi, dijatuhi skors dari hitungan bulan hingga tahun. Selain itu, insiden yang disebut Totonero ini juga membuat A.C. Milan dan Lazio harus turun kasta dari Serie A ke Serie B.

2. Skandal Standard-Waterschei (1982)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaStandard Liege sebelum menghadapi Barcelona pada 1982 (dhnet.be)

Pada 1982, Liga Belgia dikejutkan oleh skandal pengaturan skor yang melibatkan salah satu tim tenarnya, Standard Liege. Pengaturan skor ini dilakukan oleh sang pelatih sendiri, Raymond Goethals, yang membayar pemain lawan agar membiarkan Standard juara dengan poin tipis dari Anderlecht dan Gent. 

Saat itu, Les Rouches tengah berada di puncak liga dan diharus melawan K. Waterschei S.V. Thor Genk untuk menang Liga Belgia, sementara harus siap melawan Barcelona di tahap final European Cup Winners' Cup. Hasilnya, Standard menang Liga Belgia 1981/1982 karena seri dari Waterschei meski kalah dari Barcelona.

Hal ini diketahui pada 1984, dan Goethals dilarang melatih di Belgium sehingga ia hengkang ke Portugal. Selain itu, sebanyak 13 pemain Standard juga dilarang bermain lagi. Awalnya seumur hidup, Goethals kembali ke Belgia melatih Racing Jet Brussels pada 1985 sebelum melatih Anderlect sejak 1988 yang jadi juara Belgian Cup pada 1989.

3. Disgrace of Gijón (1982)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaPara pendukung Aljazair mengibarkan uang kertas saat pertandingan Jerman Barat v. Austria di Piala Dunia 1982. (theweek.in)

Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, banyak kejutan yang terjadi. Salah satu yang disorot adalah Grup 2 yang berisi Jerman Barat, Austria, Aljazair, dan Cile. Mengejutkan, Aljazair justru mengalahkan Jerman Barat dan Cile meski harus kalah dari Austria. Di sisi lain, Austria juga menekuk Cile.

Pertandingan terakhir Grup 2 berlangsung di Stadion El Molinón, Gijón, antara Jerman Barat dan Austria. Aljazair sebenarnya masih ada peluang untuk lolos dari fase grup. Akan tetapi, Jerman Barat hanya butuh menang 1–0 dari Austria agar keduanya bisa menang dan menyingkirkan Aljazair serta Cile.

Saat pertandingan dimulai, Horst Hrubesch langsung membobol gawang Burschen pada menit ke-10. Parahnya, setelah gol tersebut, kedua tim bak tidak berusaha dan hanya saling oper satu sama lain. Pemandangan tersebut membuat marah seluruh stadion yang menantikan pertandingan seru bak 1978, saat Austria menekuk Jerman Barat.

Seluruh penonton di stadion menyoraki pemain Jerman Barat dan Austria, sementara pendukung Aljazair mengibarkan kertas uang. Meski tak ada peraturan yang dilanggar, FIFA menyatakan mulai Piala Dunia 1986, semua dua pertandingan terakhir di fase grup harus dimainkan serentak, mengecilkan peluang terulangnya insiden ini.

Koran lokal El Comercio meletakkan laporan pertandingan di kolom "Kriminalitas", bahkan komentator pertandingan saat itu menyuruh penonton untuk "mematikan TV". Pertandingan ini kemudian disebut Schande von Gijón ("Aib Gijón") di Jerman dan فضيحة خيخون ("Skandal Gijón") di Aljazair.

4. Skandal Marseille (1993)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaOlympique de Marseille memenangkan UCL pada 1993. (the42.ie)

Setelah melatih Bordeaux, Raymond Goethals (yang terkena insiden di Standard Liege) melatih Olympique de Marseille pada 1990. Di bawah kepemilikan Bernard Tapie, Marseille bak dalam kejayaan karena meraih empat titel Ligue 1 pada 1989–1992 dan meraih juara UEFA Champions League musim 1992/1993.

Mirip kasus Standard, Marseille juga dalam proses menjuarai Ligue 1 dan harus menghadapi Valenciennes pada Mei 1993. Jadi, Tapie menghubungi tiga pemain Valenciennes (Jorge Burruchaga, Jacques Glassmann, and Christophe Robert) agar mengalah sehingga Marseille juara dan tetap fit sebelum melawan A.C. Milan di final UCL.

Burruchaga dan Robert menerima, tetapi Glassmann tidak menerima tawaran Tapie. Marseille menang dari Valenciennes dengan skor 1–0. Dua minggu setelah pertandingan tersebut, skandal Marseille dan Valenciennes terkuak. Tapie dilarang terlibat dalam sepak bola seumur hidup, sementara pemain terlibat dilarang bermain hingga 1996.

Hasilnya, Marseille dicabut gelar juaranya dan diturunkan ke Ligue 2 dan sempat mengalami kesulitan finansial. Di bawah Marseille, Paris Saint Germain menolak gelar Ligue 1 sehingga musim 1992/1993 tidak ada juaranya. Pada 1995, Glassmann dianugerahi FIFA Fair Play Award karena menolak suapan Tapie.

Baca Juga: 8 Teknologi yang Mengubah Pesona Olahraga, Pernah Merasakan?

5. Skandal Bruce Grobbelaar (1994)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaBruce Grobbelaar, kiper Liverpool FC, yang dituduh terlibat pengaturan skor (90min.com)

Penjaga gawang legendaris Liverpool pada 1981–1994, Bruce Grobbelaar, menjuarai Liga Inggris 6 musim berturut-turut. Berbekal sebuah video, pada 1994, tabloid The Sun menuduh Grobbelaar terlibat dalam pengaturan skor bersama kiper Wimbledon, Hans Segers, dan penyerang Aston Villa, John Fashanu.

Sang kiper Zimbabwe tetap bermain dan mengaku tidak bersalah. Grobbelaar mengaku hanya "mengumpulkan bukti agar bisa diserahkan ke polisi". Pada November 1997, Grobbelaar dibebaskan dari tuduhan.

Grobbelaar berbalik menuntut The Sun atas tuntutan pencemaran nama baik dan menang. Akan tetapi, The Sun naik banding sehingga kasus tersebut dibawa ke Dewan Bangsawan. Hasilnya, sementara tuduhan The Sun tak terbukti, masih ada bukti bahwa Grobbelaar melakukan tindakan pengaturan skor.

Akibatnya, Grobbelaar yang justru dirugikan dan harus membayar kerugian ke The Sun sebesar £500.000 (hampir Rp9,5 triliun). Karena tidak bisa membayar, sang kiper dinyatakan bangkrut. Terus menurun pamornya setelah hengkang dari Anfield, Grobbelaar tetap bermain hingga pensiun pada 2007.

6. Skandal Bundesliga (2005)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaWasit DFB, Robert Hoyzer, terlibat dalam skandal pengaturan skor. (eurosport.de)

Sementara Jerman masih mempersiapkan Piala Dunia 2006, Deutscher Fußball-Bund (DFB) diterpa isu pengaturan skor besar pada 2005. Pelakunya adalah wasit Robert Hoyzer. Konon, yang terdampak adalah pertandingan di Bundesliga 2, DFB-Pokal, dan Regionnaliga

Hoyzer diduga terus bertemu dengan sekelompok orang di Berlin yang tergabung dalam sindikat judi Kroasia yang juga terhubung dengan kelompok kriminal rahasia. Setelah investigasi menyeluruh, beberapa pemain Hertha BSC ditangkap terutama setelah kekalahan mencurigakan dari Eintracht Braunschweig 3–2 di DFB-Pokal 2004.

Sebagai salah satu skandal terparah di sejarah sepak bola Jerman, Hoyzer dilarang jadi wasit seumur hidup dan divonis penjara hampir 2,5 tahun pada akhir 2006. Mereka yang terlibat juga dilarang dalam sepak bola Jerman atau menerima kurungan badan.

7. Calciopoli (2006)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaLuciano Moggi, salah satu petinggi Juventus yang tersandung skandal Calciopoli pada 2006 (juvefc.com)

Selain Totonero, Italia juga diterpa skandal sepak bola besar pada 2006. Berawal dari investigasi terhadap kantor konsultan Italia GEA World, tersebar rekaman telepon yang melibatkan general manager Juventus, Luciano Moggi, untuk bisa mengatur wasit yang dikehendaki. Selain Juventus, A.C. Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina juga terlibat.

Buntut dari kasus ini, beberapa pemilik klub, wasit, dan petinggi klub yang terlibat menerima skors dan hukuman penjara. Selain direnggut titel 2004/2005-nya, tim yang saat itu dinakhodai oleh Fabio Capello tersebut juga diturunkan ke Serie B dan titel 2005/2006-nya diberikan ke Internazionale.

Terjadi eksodus pemain Juventus ke liga Eropa atau tim Serie A lain. Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, dan Zlatan Ibrahimovic memutuskan untuk hengkang ke Real Madrid, Barcelona, dan Internazionale, sementara Gianluigi Buffon, Pavel Nedvěd, dan Alessandro Del Piero tetap di I Bianconeri agar bangkit.

8. Skandal Choi Song Kuk (2011)

8 Skandal Pengaturan Skor Sepak Bola Paling Memalukan di DuniaChoi Sung Kuk terlibat dalam skandal pengaturan skor pada 2011. (bleacherreport.com)

Salah satu skandal pengaturan skor sepak bola terbesar di Asia terjadi di Korea Selatan pada 2011. Semua berawal dari berita bunuh diri kiper Incheon United, Yoon Ki Won, pada Mei 2011 yang dikaitkan dengan dugaan pengaturan skor.

Saat dua pemain K-League ditangkap pada Mei 2011, kasus pengaturan skor di K-League mulai naik ke permukaan. Sebanyak 10 pemain K-League masuk dalam investigasi kepolisian. Faktanya, pengaturan skor adalah rahasia umum K-League dan bisa diakses melalui situs judi ilegal.

Salah satu pemain yang terdampak adalah Choi Sung Kuk. Bermain untuk Gwangju Sangmu sebagai bagian wajib militer dan pindah ke Suwon Samsung Bluewings pada 2011, awalnya Choi tidak mengaku. Namun, seiring kasus makin keruh, Choi akhirnya mengaku. Akibatnya, posisi kapten Choi di Suwon dicabut dan tidak dimainkan.

Pada 2011, Choi dilarang mengikuti aktivitas sepak bola di Korea Selatan setelah divonis bersalah terlibat dalam pengaturan skor dua pertandingan. Tidak jera, Choi sempat ingin bergabung dengan tim Makedonia, FK Rabotnički. Ketahuan FIFA, hukuman Choi diperberat menjadi larangan bermain sepak bola seumur hidup di liga mana pun.

 

Itulah beberapa kasus pengaturan skor paling memalukan dalam sejarah sepak bola dunia. Selain mencoreng citra diri dan tim, pengaturan skor membuat sepak bola tidak elok lagi untuk disaksikan. Semoga tidak terjadi di kemudian hari!

Baca Juga: 5 Teknologi dan Inovasi dalam FIFA World Cup Qatar 2022™ 

Topic:

  • Fatkhur Rozi

Berita Terkini Lainnya