Pulau Hashima (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)
Dalam kurun 50 tahun, sebuah kota yang pernah berfungsi penuh dengan infrastruktur lengkap berubah menjadi ekosistem yang didominasi alam. Ini jauh lebih cepat dari yang kebanyakan orang bayangkan karena faktor lokasi pesisir dengan paparan garam, angin, dan kelembapan tinggi mempercepat seluruh proses degradasi. Studi dari Nagasaki University menyebut Hashima sebagai model unik untuk memahami bagaimana lingkungan buatan manusia berdekomposisi ketika tidak lagi dirawat. Tidak banyak tempat di dunia yang kondisinya sangat murni dan terisolasi seperti ini untuk dijadikan objek penelitian.
UNESCO menetapkan Hashima sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia pada 2015. Bukan hanya karena nilai sejarahnya, melainkan juga karena kondisinya yang unik sebagai arsip fisik dari era industrialisasi Jepang. Ironisnya, kerusakannya justru menjadi daya tarik utama bagi ribuan turis yang datang setiap tahunnya dengan kapal dari Nagasaki. Pulau ini kini dijaga ketat dan pengunjung hanya boleh melihat dari area yang sudah ditetapkan karena bangunannya sewaktu-waktu bisa runtuh.
Hashima merupakan bukti nyata bahwa alam tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeklaim kembali apa yang pernah diambil manusia darinya. Lima puluh tahun cukup untuk mengubah kota padat menjadi ekosistem yang berfungsi sendiri di tengah laut. Apakah kota-kota lain yang ditinggalkan manusia akan mengalami nasib yang sama?
Referensi
"Explore the Abandoned Hashima Island". Art and Culture. Diakses April 2026.
"Exploring an Abandoned Island in Japan: The Infamous Gunkanjima". Resurface to Reality. Diakses April 2026.
"Gunkanjima". Japan Guide. Diakses April 2026.
"Why Hashima Island Was Abandoned: Coal, Decline, and UNESCO Heritage". Japan Uncharted. Diakses April 2026.